Kesehatan Vegan (Pola Makan Berbasis Nabati)

Bahagia, sehat, dan panjang umur dengan vegan

Jenis-jenis Vegetarian

Tinggalkan komentar


Kata vegetarian mengacu pada pola makan tanpa daging hewani. Produk-produk hewani lainnya seperti susu sapi, telur ayam dan madu dihindari oleh sebagian orang vegetarian yang percaya bahwa pola makan seharusnya berdasarkan atas makanan-makanan nabati. Jenis-jenis vegetarian dijelaskan menurut ukuran sejauh mana menghindari produk-produk hewani: Dari pola makan pseudo-vegetarian yang meliputi sebagian dari daging hewani hingga vegan murni, yang menghindari segala macam produk yang berasal dari hewan.

Vegetarian juga bisa digolongkan menurut alasan mereka untuk menganut pola makan demikian. Memperkecil resiko penyakit kronis dan pencemaran lingkungan merupakan alasan-alasan utama yang berhubungan dengan kesehatan; alasan lain berkaitan dengan rasa kepedulian terhadap hewan-hewan, perbaikan atas kondisi kelaparan di dunia, mengurangi pencemaran lingkungan, dan kepercayaan pada suatu agama atau ajaran. Unit ini akan berfokus pada sebagian alasan yang dipilih orang untuk bervegetarian dalam tahap apa saja, dan akan merangkum sebagian dari resiko dan keuntungan yang akan dihadapi.

PSEUDO-VEGETARIAN

Karena kepercayaan yang salah bahwa vegetarian adalah orang yang hanya menghindari “daging merah” maka banyak orang yang menyebut dirinya sebagai vegetarian walaupun memakan daging ayam dan ikan secara rutin. Karena unggas dan ikan adalah, tentu saja, hewan (dan berdarah merah), pola makan demikian paling baik diistilahkan sebagai pseudo-vegetarian. Kadang juga digunakan istilah seperti pollo-vegetarian dan pesco-vegetarian (“pollo” = unggas; “pesco” = ikan), tapi semua istilah ini berdasarkan atas kesalahan yang dianggap sebagai suatu kebenaran.

Keuntungan utama dari pola makan demikian adalah pengurangan lemak, khususnya lemak jenuh, dan biasanya bertujuan untuk mengurangi resiko penyakit jantung. Walaupun benar, tapi banyak orang yang tidak menyadari bahwa daging unggas dan ikan mengandung jumlah kolesterol yang hampir sama seperti yang terdapat pada daging sapi dan babi, jadi dalam hal ini tidak ditemukan keuntungannya. Pola makan demikian juga beresiko protein yang berlebihan, karena daging putih memiliki 70% atau lebih kalori dalam bentuk protein. Konsumsi serat tidak akan meningkat dengan mengganti jenis daging yang satu dengan yang lainnya. Keuntungan maksimal dari pola makan ini tergantung sejauh mana kalori ”daging merah” diganti bukan dengan “daging putih” melainkan dengan makanan-makanan nabati (nasi, pasta, dan sebagainya). Karena daging berlemak tinggi memiliki kandungan kalori yang jauh lebih banyak berdasarkan beratnya, adalah jarang untuk memperoleh kalori berjumlah sama dari daging berlemak rendah, kecuali jika dimakan dalam porsi yang besar. Jadi kekurangan tersebut dapat diatasi dengan memakan lebih sedikit secara keseluruhan atau dengan bantuan beberapa “hidangan sampingan”. Hal ini akan menurunkan berat badan dan/atau meningkatkan konsumsi karbohidrat.

Dalam hubungannya dengan keuntungan-keuntungan yang lain, pola makan demikian memiliki kekurangan. Pencemaran lingkungan pada daging unggas dan ikan adalah lebih tinggi dibandingkan dengan makanan-makanan nabati. Ikan, khususnya yang ditangkap dari danau dan perairan teluk, mengalami pencemaran yang tinggi dari bahan kimiawi mutagenik, maka wanita-wanita hamil sering diperingati untuk tidak mengonsumsi ikan. Mereka yang peduli terhadap hewan perlu menyadari bahwa hidangan dari ikan dan unggas, yang berukuran relatif lebih kecil dibandingkan dengan yang lainnya, justru menyebabkan pembunuhan yang lebih banyak dibandingkan dengan sapi dan babi. Mungkin terdapat pertanyaan, “Apakah menyelamatkan nyawa seekor sapi sebanding dengan pembunuhan terhadap lusinan ayam dan ikan?” Ditinjau dari sudut pandang lingkungan, peternakan menghasilkan sisa buangan yang harus ditanggulangi, dan diperlukan sumber untuk memberi makan dan tempat tinggal bagi mereka. Bangkai-bangkai ternak harus dimasukkan ke peti es selama pengangkutan dan penyimpanan, hal ini semakin menambah sisa pembuangan energi. Sekarang juga banyak terdapat ikan-ikan komersil yang “diternak”. Ikan yang ditangkap dari laut sering dikurung dalam jala apung yang secara bersamaan juga menjaring hewan-hewan lainnya dalam jumlah besar, seperti mamalia, unggas, dan penyu. Banyak dari mereka merupakan spesies yang terancam kepunahan. Cobalah berpikir, adalah jelas bahwa industri perikanan tidak memiliki kepedulian bagi hewan apa saja yang berbagi habitat di laut, karena yang terpenting adalah “hasil panen”. Ini dikarenakan hewan-hewan lain akan memakan ikan itu sendiri atau memakan tumbuhan dan miko-organisme laut lainnya yang merupakan dasar dari pola makan ikan, sehingga ini akan membatasi populasi dari ikan tersebut. Maka ikan paus, singa laut, ikan lumba-lumba, burung pelikan, dan sebagainya, sangat dianggap sebagai gangguan bagi industri perikanan seperti halnya kuda liar, kijang, anjing hutan dan serigala adalah gangguan bagi industri peternakan.

VEGETARIAN LACTO-OVO

Vegetarian jenis ini memakan produk susu (“lacto”) dan telur (“ovo”). Kandungan nutrisi dari produk hewani ini (sebenarnya keduanya merupakan hasil pengeluaran reproduktif) memiliki protein dan/atau lemak yang tinggi serta tidak mengandung serat. Maka, segala keuntungan kesehatan yang berasal dari pola makan demikian tergantung sejauh mana kalori hewani diganti oleh kalori nabati, dan bukannya pada peningkatan konsumsi atas produk susu dan telur.

Selain itu, pola makan demikian juga beresiko anemia akibat kekurangan zat besi jika sumber zat besi yang berkonsentrasi tinggi dalam produk hewani seluruhnya digantikan oleh produk susu dan telur yang rendah kandungan zat besinya. Mengonsumsi zat besi yang tinggi bisa meningkatkan resiko penyakit jantung dan kanker, dan bukan merupakan jalan keluar untuk mengatasi kondisi anemia tersebut. Mengganti produk hewani dengan makanan nabati yang mengandung zat besi yang cukup (tidak berlebihan) merupakan jalan keluar yang aman.

VEGAN

Kadang diartikan sebagai vegetarian murni, atau total, vegan (istilah yang mengambil suku kata pertama dan terakhir dari kata “vegetarian”) tidak memakan produk hewani apa pun. Sebagian besar orang vegan menghindari madu karena dibuat oleh lebah, yang sering terbunuh pada saat pengambilan madu dari sarangnya. Gaya hidup vegan bagi sebagian orang menyiratkan penghindaran atas berbagai produk hewani (seperti pakaian, kosmetik,dan sebagainya) dengan berbagai maksud tertentu. Namun saat membicarakan pola makan vegan, yang diperhatikan hanyalah kebiasaan pola makannya.

Orang-orang vegan memilih untuk menghindari segala produk hewani atas alasan yang sama seperti halnya orang vegetarian menghindari makanan berdaging. Alasannya: terdapat penyiksaan dan pengeksploitasian terhadap hewan-hewan dalam industri susu dan telur; di samping itu juga terdapat pemborosan sumber makanan (sapi dan ayam ternak juga perlu diberi makanan), serta masalah-masalah lingkungan, khususnya yang melibatkan pembuangan sampah; dan tidak terdapat keuntungan yang berarti bagi manusia yang memakan makanan demikian, semuanya mengandung lemak dan protein yang berlebihan, serat yang kurang, dan lebih mengalami pencemaran lingkungan dibandingkan dengan makanan-makanan nabati.

Sebagian besar dari produk susu dan telur sekarang dihasilkan oleh pabrik peternakan, di mana pengurungan hewan-hewan bersifat total untuk menghemat penggunaan ruang. Sapi dan ayam ternak akan dikirim ke rumah jagal begitu hasil produksi mereka mengalami penurunan, yang biasanya dialami pada umur yang masih muda dibandingkan dengan rentang usianya yang normal. Bandingkanlah ini dengan seorang perempuan yang hasil reproduksinya (dalam bentuk ASI dan sel telur) mengalami penurunan pada usia sekitar 35 tahun. Sapi dan ayam dikirim ke rumah jagal pada perbandingan umur demikian, bahkan ada yang lebih awal, setelah menjalani kehidupan yang sengsara hanya untuk bereproduksi. Pemerintah Amerika Serikat mengijinkan penggunaan hormon Bovine Growth pada sapi-sapi ternak, yang secara artifisial merangsang tubuh mereka untuk menghasilkan susu yang lebih banyak daripada biasanya. Ayam-ayam ternak biasanya sering dikurung dalam sebuah bangunan di mana lampu menyala sangat terang selama 24 jam setiap harinya, jadi mereka bisa menghasilkan telur yang lebih banyak dalam jangka waktu yang singkat.

Pada peternakan yang lebih kecil, hewan-hewan mungkin akan diperlakukan “lebih baik”, namun tetap terdapat isu mengenai keterlibatan antara hasil dari produksi demikian dengan industri daging. Baik industri susu maupun telur hanya menggunakan ternak betina, jadi ternak jantan yang terlahir harus “dimusnahkan”. Agar sapi-sapi bisa terus menghasilkan susu, mereka harus “diperbaharui” (dengan cara penyuburan) setiap tahunnya. Anak sapi jantan akan dipisahkan dari induknya hanya berselang sehari setelah dilahirkan, dan selanjutnya akan dikurung. Untuk mengganti ayam-ayam betina, ribuan telur akan ditetaskan, tapi hanya anak ayam betina yang dibiarkan hidup di peternakan. Anak ayam jantan, secara rutin, akan dicekik mati dan digiling untuk makanan bagi ternak-ternak lainnya.

About these ads

Penulis: kesehatanvegan

Bahagia, sehat, awet muda, & panjang umur dg vegan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 468 pengikut lainnya.