Kesehatan Vegan (Pola Makan Berbasis Nabati)

Bahagia, sehat, dan panjang umur dengan vegan

MORBUS HANSEN (KUSTA)

1 Komentar


DEFINISI

Kusta adalah penyakit infeksi yang kronik dan penyebabnya adalah Mycobacterium leprae yang bersifat intraselular obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Nama lain kusta adalah lepra dan morbus Hansen.

EPIDEMIOLOGI

Masalah epidemiologi masih belum terpecahkan, cara penularan belum diketahui pasti, hanya berdasarkan anggapan klasik yaitu kontak langsung antarkulit yang lama dan erat. Anggapan kedua ialah secara inhalasi, sebab M.leprae masih dapat hidup beberapa hari dalam droplet.

Masa tunasnya sangat bervariasi antara 40 hari sampai 40 tahun, rata-rata 3-5 tahun. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah patogenesis kuman penyebab, cara penularan, keadaan sosial ekonomi dan lingkungan, varian genetik yang berhubungan dengan kerentanan perubahan imunitas dan kemungkinan adanya reservoir diluar manusia.

Kusta bukan penyakit keturunan. Kuman dapat ditemukan di kulit, folikel rambut, kelenjar keringat dan ASI, jarang didapat di urin. Tempat implantasi tidak selalu menjadi tempat lesi pertama. Kusta merupakan penyakit yang menyeramkan dan ditakuti oleh karena dapat terjadi ulserasi, mutilasi dan deformitas. Penderita kusta bukan menderita karena penyakitnya saja, tetapi juga karena dikucilkan masyarakat sekitar. Hal ini akibat kerusakan saraf besar yang ireversibel di wajah dan ekstremitas, motorik dan sensorik, serta dengan adanya kerusakan yang berulang-ulang pada daerah anastetik disertai paralisis dan atrofi otot.

Menurut data WHO, jumlah kasus kusta diseluruh dunia menurun sekitar 21% dari tahun 2003-2004. Penurunan ini konsiten selama 3 tahun berturut-turut.

ETIOLOGI

Kuman penyebabnya adalah Mycobacterium leprae yang ditemukan oleh G.A. Hansen yang sampai sekarang belum juga dapat dibiakkan dalam media artifisial. M.leprae berbentuk basil dengan ukurann 3-8μm x 5μm, tahan asam dan alkohol serta gram positif.

PATOGENESIS

M.leprae  memiliki patogenitas dan daya invasi yang rendah, sebab penderita yang mengandung kuman lebih banyak belum tentu memberikan gejala yang lebih berat, bahkan sebaliknya. Ketidakseimbangan antara derajat infeksi dan derajat penyakit disebabkan oleh respon imun yang berbeda, yang menggugah timbulnya reaksi granuloma setempat atau menyeluruh yang dapat sembuh sendiri atau progresif. Oleh karena itu penyakit kusta dapat disebut sebagai penyakit imunologik. Gejala klinisnya lebih sebanding dengan tingkat reaksi selularnya daripada intensitas infeksinya.

Bila basil M.leprae masuk kedalam tubuh, timbul gejala klinis sesuai dengan kerentanan orang tersebut. Bentuk tipe klinis bergantung pada imunitas sistem seluler (SIS) penderita. SIS baik akan tampak gambaran tuberkuloid, sebaliknya SIS rendah memberikan gambaran lepromatosa.

Kontak

Infeksi             non infeksi

Subklinis

95%

Sembuh

70%

Indeterminate (I)

30%

Determinate

I   TT   Ti   BT   BB   BL   Li   LL

GEJALA KLINIS

Diagnosis penyakit kusta didasarkan gambaran klinis, bakterioskopis dan histopatologis. Hasil bakterioskopi memerlukan waktu paling sedikit 15-30 menit sedangkan histopatolik 10-14 hari. Kalau memungkinkan dapat dilakukan tes lepromin (Mitsuda) untuk membantu penentuan tipe yang hasilnya dapat diketahui setelah 3 minggu. Penentuan tipe kusta perlu dilakukan agar dapat menetapkan terapi yang sesuai..

Gejala klinis yang timbul pada seseorang bergantung pada Sistem Imunitas Seluler (SIS). SIS baik akan tampak gambaran klinis kearah tuberkuloid, sebalikya SIS rendah memberikan gambaran lepromatosa.

Ridley dan Jopling memperkenalkan istilah spektrum determinate pada penyakit kusta yang terdiri atas :

TT: Tuberkuloid polar, bentuk yang stabil.

Ti : Tuberkuloid indefinite

BT : Borderline tuberkuloid

BB : Mid Borderline

BL : Borderline lepromatous

Li : Lepromatosa indefinite

LL : Lepromatosa polar, bentuk yang stabil.

Tipe I (indeterminate) tidak termasuk dalam spektrum. TT adalah tipe tuberkuloid polar, yakni tuberkuloid 100%, merupakan tipe yang stabil  sehingga tidak mungkin berubah tipe. Begitu juga dengan LL adalah tipe lepromatosa polar, yakni lepromatosa 100%, merupakan tipe yang stabil sehingga tidak mungkin berubah tipe. Ti dan Li merupakan tipe borderline atau campuran, berarti campuran antara tuberkuloid dan lepromatosa. BB adalah tipe campuran yang terdiri dari 50% tuberkuloid dan 50% lepromatosa. BT dan Ti lebih banyak tuberkuloidnya dan BL dan Li lebih banyak lepromatosanya. Tipe-tipe campuran ini adalah tipe yang labil, berarti dapat bebas beralih tipe ke arah TT maupun kea rah LL.

Menurut WHO, kusta dibagi menjadi multibasilar dan pausibasilar. Multibasilar berarti banyak mengandung basil, yaitu tipe LL, BL dan BB dengan indeks bakteri lebih dari 2+. Pausibasiler berarti mengandung sedikit basil, yaitu tipe TT, BT dan I dengan indeks bakteri kurang dari 2+

Bagan diagnosis klinis menurut WHO (1995)

PB MB
  1. Lesi kulit (makula datar, papul yang meninggi, nodus)
-    1-5 lesi

-    hipopigmentasi/eritema

-    distribusi tidak semetris

-    hilangnya sensasi yang

jelas

-     >5 lesi

-     distribusi lebih simetris

-     hilangnya sensasi kurang

jelas

  1. Kerusakan saraf (menyebabkan hilangnya senses/ kelemahan otot yang dipersarafi oleh saraf yang terkena)
-       Hanya satu cabang saraf - banyak cabang saraf

Kusta tipe neural murni dengan tanda sebagai berikut :

-          Tidak ada dan tidak pernah ada lesi kulit.

-          Ada satu atau lebih pembesaran saraf.

-          Ada anastesia dan atau paralisis, atrofi otot pada daerah yang dipersarafinya.

-          Bakterioskopik negatif

-          Tes mitsuda umumnya positif

-          Untuk menentukan diagnosisnya sampai ke tipenya, yang biasanya tipe tuberkuloid, borderline atau nonspesifik, harus dilakukan pemeriksaan secara histopatologik.

Kusta histoid merupakan variasi lesi pada tipe lepromatosa. Secara klinis berbentuk nodus yang berbatas tegas, dapat juga berbentuk plak. Bakterioskopi positif tinggi. Umumnya timbul sebagai kasus relapse sensitive atau relapse resistant.

-          Relapse sensitive (resisten sekunder) : terjadi bila penyakit kambuh setelah menyelesaikan pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Dapat terjadi oleh karena kuman dorman yang aktif kembali atau pengobatan yang tidak adekuat..

-          Relapse resistant (resisten primer) : terjadi bila penyakit kambuh setelah menyelesaikan pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan, tetapi tidak dapat diobati dengan obat yang sama karena kuman telah resisten terhadap obat MDT.

Seseorang diduga menderita kusta jika ditemukan satu dari tanda kardinal di bawah ini :

Lesi kulit biasanya berupa bercak kulit yang mati rasa yaitu : bercak hipopigmentasi atau eritema, mendatar (makula) atau meninggi (infiltrat). Mati rasa pada bercak bersifat total atau sebagian saja terhadap rasa sentuh, rasa suhu dan rasa nyeri.

Penebalan saraf.

Dapat disertai atau tanpa gangguan fungsi saraf yang terkena yaitu :

v  Gangguan fungsi sensorik : nyeri, mati rasa

v  Gangguan fungsi motorik : parese atau paralisis

v  Gangguan fungsi otonom : kulit kering, retak, edema, pertumbuhan rambut yang terganggu.

Sediaan hapus kulit yang positif

Bahan pemeriksaan adalah hapusan kulit cuping telinga dan lesi kulit pada bagian yang aktif ditemukan basil tahan asam.

Untuk menegakkan penyakit kusta, paling sedikit harus ditemukan satu tanda kardinal. Bila tidak atau belum dapat ditemukan, maka kita hanya dapat mengatakan tersangka kusta dan penderita perlu diamati dan diperiksa ulang setelah 3-6 bulan sampai diagnosis kusta dapat ditegakkan atau disingkirkan.

DIAGNOSIS BANDING

Kusta dijuluki the greatest imitator karena memiliki banyak diagnosis banding dengan penyakit kulit lainnya, antara lain dermatofitosis, tinea versikolor, ptiriasis rosea, ptiriasis alba, dermatitis seboroika, psoriasis, neurofibromatosis, granuloma anulare, xantomatosis, skleroderma, leukemia kutis, tuberkulosis kutis verukosa dan birth mark.

PEMERIKSAAN PASIEN

Anamnesis

  • Keluhan penderita
  • Riwayat kontak dengan penderita
  • Latar belakang keluarga, misalnya keadaan sosial ekonomi.

Inspeksi

Dengan penerangan yang baik, lesi kulit harus diperhatikan dan juga kerusakan kulit.

Palpasi

  • Kelainan kulit, nodus, infiltrat, jaringan parut, ulkus, khususnya pada tangan dan kaki.
  • Kelainan saraf :

Pemeriksaan saraf, termasuk meraba dengan teliti : N.fasialis, N.auricularis magnus, N.ulnaris, N.radialis, N.medianus, N.poplitea lateralis dan N.tibialis posterior. Pemeriksa harus mencatat, adanya nyeri tekan dan penebalan saraf. Raut wajah penderita perlu diperhatikan, apakah kesakitan atau tidak pada waktu saraf diraba.

Cara pemeriksaan saraf :

  1. bandingkan saraf bagian kiri dan kanan.
  2. membesar atau tidak
  3. bentuk bulat atau oval
  4. pembesaran regular (smooth) atau irregular.
  5. perabaan keras atau kenyal
  6. nyeri atau tidak.

Gejala-gejala kerusakan saraf :

N. ulnaris :

- anastesia pada ujung jari anterior kelingking dan jari manis.

- clawing jari kelingking dan jari manis.

- atrofi hipotenar dan otot interoseus serta kedua otot lumbrikalis medial.

N. medianus :

- anestesia pada ujung jari bagian anterior ibu jari, telunjuk, dan jari tengah

- tidak mampu aduksi ibu jari

- clawing ibu jari, telunjuk, dan jari tengah

- ibu jari kontraktur

- atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral

N. radialis :

- anestesia dorsum manus, serta ujung proksimal jari telunjuk

- tangan gantung (wrist drop)

- tak mampu ekstensi jari-jari atau pergelangan tangan

N. poplitea lateralis :

- anestesia tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum pedis

- kaki gantung (foot drop)

- kelemahan otot peroneus

N. tibialis posterior :

- anestesia telapak kaki

- claw toes

- paralisis otot intrinsik kaki dan kolaps arkus pedis

N. fasialis :

- cabang temporal dan zigomatik menyebabkan lagoftalmus

- cabang bukal, mandibular dan servikal menyebabkan kehilangan ekspresi wajah dan kegagalan mengatupkan bibir

N. trigeminus :

- anestesia kulit wajah, kornea, dan konjungtiva mata

Tes fungsi saraf

Gunakan kapas, jarum, serta tes tabung hangat dan dingin.

Tes sensoris

- Rasa suhu

  • dilakukan dengan mempergunakan 2 tabung reaksi, yang satu berisi air panas (sebaiknya 40oC) yang lainnya air dingin (sebaiknya sekitar 20o)
  • mata penderita ditutup atau menoleh ke tempat lain, lalu bergantian kedua tabung tersebut ditempelkan pada daerah kulit yang dicurigai
  • sebelumnya dilakukan tes control pada daerah kulit yang normal, untuk memastikan bahwa orang yang diperiksa dapat membedakan panas dan dingin.
  • bila pada daerah yang dicurigai tersebut beberapa kali penderita salah menyebutkan rasa pada tabung yang ditempelkan, maka dapat disimpulkan bahwa sensasi suhu di daerah tersebut terganggu

- Rasa raba

Dengan kapas atau sepotong kapas yang dilancipkan dipakai untuk memeriksa perasaan dengan menyinggung kulit. Yang diperiksa harus duduk pada waktu pemeriksaan. Terlebih dahulu petugas menerangkan bahwa bilamana merasa disinggung bagian tubuhnya dengan kapas, ia harus menunjukkan kulit yang disinggung dengan jari telunjuknya dan dikerjakan dengan mata terbuka. Bilamana hal ini telah jelas, maka ia diminta menutup matanya, kalau perlu matanya ditutup dengan sepotong kain/karton. Tanda-tanda di kulit dan bagian-bagian kulit lain yang dicurigai, diperiksa sensibilitasnya. Harus diperiksa sensibilitas kulit yang sehat dan kulit yang tersangka diserang kusta. Bercak-bercak di kulit harus diperiksa di tengahnya dan jangan di pinggirnya.

-          Rasa nyeri

Diperiksa dengan memakai jarum. Petugas menusuk kulit dengan ujung jarum yang tajam dan dengan pangkal tangkainya yang tumpul dan pasien dalam keadaan sambil menutup mata harus mengatakan tusukan mana yang tajam dan mana yang tumpul.

Tes motoris : Voluntary muscle test (VMT)

Tes otonom yaitu tes anhidrosis

  1. Tes dengan pinsil tinta (tes Gunawan)

Pinsil tinta digariskan mulai dari daerah kulit yang normal, melewati macula yang dicurigai terus sampai ke daerah kulit normal kembali. Pada kulit normal tinta akan luntur. Sedangkan pada kulit abnormal tinta tidak luntur.

  1. Tes histamin

-          daerah kulit pada makula dan perbatasannya disuntik dengan histamine subkutan.

-          Setelah beberapa menit tampak daerah kulit normal berkeringat, sedangkan daerah anhidrosis tetap kering.

Deformitas  pada kusta sesuai dengan patofisiologinya, terdiri atas :

-          Deformitas primer sebagai akibat langsung oleh granuloma yang terbentuk sebagai reaksi M.leprae yang mendesak dan merusak jaringan sekitarnya, yaitu kulit, mukosa traktur respiratorius atas, tulang-tulang jari dan wajah.

-          Deformitas sekunder sebagai akibat kerusakan saraf.

Komplikasi : dicari komplikasi

-          Pada mata, hidung, laring, dan testis

-          Reaksi : nyeri saraf, eritema nodosum leprosum, iridosiklitis

-          Kerusakan saraf sensoris

-          Kerusakan saraf motoris

-          Kerusakan saraf otonom

Klasifikasi cacat

Cacat pada tangan dan kaki

Tingkat 0 : tidak ada gangguan sensibilitas, tidak ada kerusakan atau deformitas yang terlihat.

Tingkat 1 : ada gangguan sensibilitas, tanpa kerusakan atau deformitas yang terlihat.

Tingkat 2 : terdapat kerusakan atau deformitas.

Cacat pada mata

Tingkat 0 : tidak ada gangguan pada mata akibat kusta; tidak ada gangguan penglihatan.

Tingkat 1 : ada gangguan pada mata akibat kusta; tidak ada gangguan yang berat pada penglihatan. Visus 6/60 atau lebih baik (dapat menghitung jari pada jarak 6 meter).

Tingkat 2  : gangguan penglihatan berat (visus kurang dari 6/60; tidak dapat menghitung jari pada jarak 6 meter).

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan bakterioskopik

Pemeriksaan bakterioskopik digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengamatan pengobatan. Sediaan dibuat dari kerokan kulit diwarnai dengan pewarnaan terhadap basil tahan asam, antara lain dengan ZIEHL NEELSEN. Bakterioskopik negative pada seorang penderita, bukan berarti orang tersebut tidak mengandung M.leprae.

Pertama-tama kita harus memilih tempat-tempat di kulit yang diharapkan paling padat oleh basil. Tempat yang akan diambil kedua cuping telinga bagian bawah dan 2-4 tempat lain yang paling aktif, berarti yang paling eritematosa dan paling infiltratif. Pemilihan kedua telinga tersebut tanpa menghiraukan ada tidaknya lesi di tempat tersebut, oleh karena atas dasar pengalaman tempat tersebut diharapkan mengandung basil yang paling banyak. Perlu diingat bahwa setiap tempat pengambilan harus dicatat, guna pengambilan kemudian di tempat yang sama pada pengamatan pengobatan untuk dibandingkan hasilnya.

Cara pengambilan bahan dengan menggunakan scalpel steril. Setelah tempat tersebut didesinfeksikan, lalu diusahakan agar tempat tersebut, dengan jalan dipijit, menjadi iskemik agar kerokan jaringan mengandung sesedikit mungkin darah yang akan mengganggu gambaran sediaan. Irisan yang dibuat harus sampai di dermis melampaui subepidermal clear zone agar mencapai jaringan yang diharapkan banyak mengandung sel Virchow (sel lepra) yang di dalamnya mengandung basil M.leprae. Kerokan jaringan itu dioleskan di gelas alas, difiksasi di atas api, kemudian diwarnai dengan pewarnaan yang klasik, yaitu Ziehl Neelsen.

M.leprae tergolong basil tahan asam (BTA), akan tampak merah pada sediaan. Dibedakan bentuk batang utuh (solid), batang terputus (fragmented), dan butiran (granular). Bentuk solid adalah basil hidup, sedang fragmented dan granular bentuk mati. Secara teori penting untuk membedakan antara yang mati, sebab bentuk yang hidup itulah yang lebih berbahaya, karena dapat berkembang biak dan dapat menularkan ke orang lain. Dalam praktek sukar sekali menentukan solid dan nonsolid, oleh karena dipengaruhi oleh banyak macam faktor.

Kepadatan BTA tanpa membedakan  solid dan nonsolid pada sebuah sediaan dinyatakan dengan indeks bakteri (I.B) dengan nilai dari 0 sampai 6+ menurut RIDLEY. 0 bila tidak ada BTA dalam 100 lapangan pandangan (LP).

1 + bila 1-10 BTA dalam 100 LP

2 + bila 1-10 BTA dalam 10 LP

3 + bila 1-10 BTA rata-rata dalam 1 LP

4 + bila 11-100 BTA rata-rata dalam 1 LP

5 + bila 101-1000 BTA rata-rata dalam 1 LP

6 + bila > 1000 BTA rata-rata dalam 1 LP

semuanya dilihat dengan mikroskop cahaya dengan minyak emersi. IB seseorang adalah IB rata-rata semua lesi yang dibuat sediaan.

Indeks Morfologi (IM) adalah prosentase bentuk solid dibandingkan dengan jumlah solid dan nonsolid.

Rumusan :

Jumlah solid

__________­___________ x 100 % = … %

Jumlah solid + nonsolid

Syarat perhitungan IM :

-          jumlah minimal kuman tiap lesi 100 BTA

-          IB 1 + tidak usah dibuat IM nya, karena untuk mendapat 100 BTA harus mencari dalam 1000 sampai 10.000 lapangan.

-          Mulai dari IB 3+ ke atas harus dicari IM nya, sebab dengan IB 3 + hanya maksimum harus dicari dalam 100 lapangan.

Contoh perhitungan IB dan IM

Tempat pengambilan Ib Solid Nonsolid IM
Telinga kiri

Telinga kanan

Ujung jari tangan kiri

Ujung jari tangan kanan

Lesi I

Lesi II

4+

3+

1+

2+

3+

5+

9

8

-

1

7

8

91

92

5

22

93

92

9%

8%

-

1/23

7%

8%

18 33 395

IB penderita : 18/6 = 3+

IM penderita : _33____ x 100 % = … %

33+395

Pemeriksaan histopatologik (biopsi kulit).

Pemeriksaan serologik.

Tes Lepromin

Tes lepromin digunakan untuk menentukan tipe kusta pada penderita. Tes lepromin berupa injeksi ekstrak basil M.leprae inaktif yang telah distandarkan pada subkutan dilengan atas. Adanya gelembung setelah injeksi menandakan antigen tersebut berada pada lapisan kulit yang tepat. Tempat injeksi ditandai dan diperiksa 3 dan 28 hari kemudian untuk melihat reaksinya. Pasien dengan kusta tipe lepromatosa hasilnya negatif (tidak adanya reaksi antigen pada kulit).

PENGOBATAN KUSTA

Dapson/DDS (4,4 diaminodifenil sulfon)

Obat ini bersifat bakteristatik, dosis adalah 1-2 mg/kgBB setiap hari. Efek samping yang mungkin timbul antara lain nyeri kepala, erupsi obat, anemia hemolitik, leukopenia,  insomnia, neuropatia perifer, sindrom DDS, nekrolisis epidermal toksik, hepatitis, hipoalbuminemia, dan methemoglobinemia.

Rifampisin

Obat ini bersifat bakterisidal kuat. Dengan dosis 10 mg/kgBB, diberikan setiap bulan. Tidak boleh diberikan monoterapi, karena memperbesar kemungkinan terjadi resistensi. Efek samping yang harus diperhatikan adalah hepatotoksik, nefrotoksik, gejala gastrointestinal, flu like syndrom, dan erupsi kulit.

Klofazimin/Lamprene

Mempunyai efek bakteriostatik setara dengan dapson. Di samping itu obat ini juga mempunyai efek antiinflamasi sehingga berguna untuk pengobatan reaksi kusta, khususnya ENL. Dosis untuk kusta ialah 50 mg setiap hari, atau 100 mg selang sehari, atau 3×100 mg setiap minggu. Selain itu dosis bulanan 300 mg diberikan setiap bulan untuk mengurangi reaksi tipe 1 dan 2.

Efek sampingnya menyebabkan pigmentasi kulit, gangguan gastrointestinal (nyeri abdomen, nausea, diare, anoreksia, dan vomitus), dapat juga tertimbun di hati. Perubahan warna akan menghilang setelah obat dihentikan.

Ofloksasin

Ofloksasin merupakan turunan fluorokuinolon yang paling aktif terhadap Mycobacterium leprae in vitro. Dosis optimal  harian adalah 400 mg. Dosis tunggal yang diberikan dalam 22 dosis akan membunuh kuman M.leprae hidup sebesar 99,99%. Efek sampingnya adalah mual, diare, dan gangguan saluran cerna lainnya, berbagai gangguan susunan saraf pusat termasuk insomnia, nyeri kepala, dizziness, nervousness dan halusinasi. Walaupun demikian hal ini jarang ditemukan dan biasanya tidak membutuhkan penghentian pemakaian obat.

Penggunaan pada anak, remaja, wanita hamil, dan menyusui harus secara hati-hati, karena pada hewan muda kuinolon menyebabkan atropati.

Minosiklin

Termasuk dalam kelompok tetrasiklin yang mempunyai efek bakterisidal, tetapi lebih rendah daripada rifampisin. Dosis standar harian 100 mg. Efek sampingnya adalah pewarnaan gigi bayi dan anak-anak, kadang-kadang mengenai kulit dan membran mukosa, berbagai simtom saluran cerna dan susuna saraf pusat, termasuk dizziness dan unsteadiness. Oleh sebab itu tidak dianjurkan untuk anak-anak atau selama kehamilan.

Klaritromisin

Merupakan kelompok antibiotic makrolid dan mempunyai aktivitas bakterisidal terhadap M.leprae pada tikus dan manusia. Pada penderita kusta lepromatosa, dosis harian 500mg dapat membunuh 99% kuman hidup dalam 28 hari dan lebih dari 99,9% dalam 56 hari. Efek sampingnya adalah nausea, vomitus dan diare yang terbukti sering ditemukan bila obat ini diberikan dengan dosis 2000 mg.

Skema Regimen MDT WHO

Tabel 1. Obat dan dosis regimen MDT-PB

OBAT DEWASA
BB<35 kg BB>35 kg
Rifampisin

Dapson swakelola

450 mg/bln (diawasi)

50mg/hari(1-2mg/kgBB/hari)

600 mg/bln (diawasi)

100 mg/hari

Tabel 2. Obat dan dosis regimen MDT-MB

OBAT DEWASA
BB<35 kg BB>35 kg
Rifampisin

Klofazimin

Dapson swakelola

450 mg/bln (diawasi)

300 mg/bln diawasi dan diteruskan 50 mg/hari swakelola

50mg/hari(1-2mg/kgBB/hari)

600 mg/bln (diawasi)

100 mg/hari

Tabel 3. Obat dan dosis regimen MDT WHO untuk anak

OBAT PB MB
< 10 tahun

BB < 50kg

10 th – 14 th < 10 th

BB < 50 kg

10 th -14 th
Rifampisin

Klofazimin

300 mg/bln

-

25 mg/hr

450 mg/bln

-

50 mg/hr

300 mg/bln

100 mg/bln dilanjutkan 50 mg, 2x/mgg

25 mg/hr

450 mg/bln

150 mg/bln dilanjutkan 50 mg/hr

50 mg/hr

Lamanya pengobatan kusta tipe PB adalah 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan. Pengobatan kusta tipe MB adalah sudah sebesar 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan. Minimum 6 bulan untuk PB dan minimum 24 bulan untuk MB maka dinyatakan RFT (Release From Treatment).

Sebagai standar pengobatan, WHO Expert Committee pada tahun 1998 telah memperpendek masa pengobatan untuk kasus MB menjadi 12 dosis dalam 12-18 bulan, sedangkan pengobatan untuk kasus PB dengan lesi kulit 2-5 buah tetap 6 dosis dalam 6-9 bulan. Bagi kasus PB dengan lesi tunggal pengobatan adalah Rifampisin 600 mg ditambah dengan Ofloksasin 400 mg dan Minosiklin 100 mg (ROM) dosis tunggal.

Kalau susunan MDT tersebut tidak dapat dilaksanakan karena pelbagai alasan, WHO Expert Committee pada tahun 1998 mempunyai rejimen untuk situasi khusus.

Penderita MB yang resisten dengan rifampisin biasanya akan resisten pula dengan DDS sehingga hanya bias mendapat klofazimin. Untuk itu pengobatannya dengan klofazimin 50 mg, ofloksasin 400 mg dan minosiklin 100 mg setiap hari selama 6 bulan, diteruskan klofazimin 50 mg ditambah ofkloksasin 400 mg atau minosiklin 100 mg setiap hari selama 18 bulan.

Bagi penderita MB yang menolak klofazimin, diberikan rifampisin 600 mg ditambah dengan ofloksasin 400 mg dan minosiklin 100 mg dosis tunggal setiap bulan selama 24 bulan.

Penghentian pemberian obat lazim disebut Release From Treatment (RFT). Setelah RFT dilanjutkan dengan tindak lanjut tanpa pengobatan secara klinis dan bakterioskopis minimal setiap tahun selama 5 tahun. Bila bakterioskopis tetap negatif dan klinis tidak ada keaktifan baru, maka dinyatakan bebas dari pengamatan atau disebut Release From Control (RFC).

REAKSI KUSTA

Reaksi kusta adalah interupsi dengan epidose akut pada perjalanan penyakit yang sebenarnya sangat kronik. Adapun patofisiologinya belum jelas betul, terminologinya dan klasifikasinya masih bermacam-macam, namun yang paling banyak dianut yaitu :

  • Reaksi reversal atau reaksi upgrading (reaksi tipe I)
  • ENL, Eritema Nodusum Leprosum (reakti tipe II)

Patofisiologi reaksi tipe I : merupakan hipersensitivitas tipe lambat oleh karena peningkatan mendadak SIS yang faktor pencetusnya belum diketahui pasti.

Patofisiologi reaksi tipe II : karena pengobatan, banyaknya basil leprae yang mati dan hancur, berarti banyak antigen yang dilepaskan dan bereaksi dengan antibodi serta mengaktifkan sistem komplemen. Kompleks imun tersebut beredar didalam darah dan akhirnya dapat melibatkan banyak organ. Secara imunopatologis ENL termasuk respon imun humoral.

Gejala Reaksi tipe I Reaksi tipe II
Keadaan umum Umumnya baik, demam ringan (subfebril) atau tanpa demam Ringan sampai dengan berat disertai kelemahan umum dan demam tinggi
Peradangan kulit Bercak kulit lama menjadi lebih meradang, dapat timbul bercak baru Timbul nodul baru kemerahan lunak dan nyeri tekan, nodul dapat pecah. Biasanya pada lengan dan tungkai.
Saraf Sering terjadi, umumnya berupa nyeri tekan saraf dan/atau gangguan fungsi saraf Jarang terjadi
Peradangan pada organ lain Hampir tidak pernah ada Terjadi pada mata, kelenjar getah bening, sendi, ginjal, testis dll
Waktu timbulnya Biasanya segera setelah pengobatan. Biasanya setelah mendapat pengobatan yang lama, umumnya lebih dari 6 bulan.
Tipe kusta Dapat terjadi pada kusta tipe PB maupun MB Hanya pada kusta tipe MB
Faktor pencetus - Melahirkan

- Obat-obatan yang meningkatkan kekebalan tubuh.

- Emosi

- Kelelahan dan stress fisik lainya

- Kehamilan

Pengobatan ENL

Obat yang paling sering dipakai adalah tablet kortikosteroid, antara lain prednisone. Dosisnya bergantung pada berat ringannya reaksi, biasanya 15-30 mg/hari dan dosisnya diturunkan bertahap.

Klofazimin juga dapat dipakai sebagai anti ENL, tetapi dengan dosis yang lebih tinggi. Dosisnya antara 200-300mg/hari. Khasiatnya lebih lambat daripada kortikosteroid dan dapat dipakai untuk melepaskan ketergantungan kortikosteroid.

Pengobatan reaksi reversal

Bila reaksi ini tidak disertai neuritis akut, maka tidak perlu diberi obat tambahan. Bila ada neuritis akut, obat pilihan pertama adalah kortikosteroid yang dosisnya disesuaikan dengan berat ringannya neuritis. Biasanya diberikan prednisone 40-60 mg/hari yang dosisnya diturunkan secara bertahap. Anggota gerak yang terkena neuritis akut harus diistirahatkan. Analgesik dan sedatif kalau diperlukan dapat diberikan.

About these ads

Penulis: kesehatanvegan

Bahagia, sehat, awet muda, & panjang umur dg vegan

One thought on “MORBUS HANSEN (KUSTA)

  1. Z mau tanya di kaki saya kiri kanan ada timbul nodula” htm lbh dari 3 timbul berwarna merah dan tdk rasa tp lamakelamaan rasa sakit kemudian diantara persendian kakiqu bengkak pd pg hari,kalu duduk lama bengkak dan kalu dingn bengkak dan nyeri lagi,yg saya mau tanxa apakah itu merupakan salah satu tanda dari kusta atau tdk trus bagaimana pencegahannya dan cara menghilangkan bekas hitamnya,,makasi wat informasinya,,,,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 468 pengikut lainnya.