Kesehatan Vegan

Bahagia, sehat, dan panjang umur dengan vegan

Pre-eklamsia & Eklamsia

Tinggalkan komentar


A. Preeklampsia

1. Definisi6

Hipertensi adalah keadaan dengan tekanan darah diastolik minimal 90 mmHg atau tekanan sistolik minimal 140 mmHg, atau kenaikan diastolik minimal 15 mmHg atau kenaikan tekanan sistolik minimal sebesar 30 mmHg. Tekanan darah harus diukur paling sedikit 2 kali dengan selang waktu 6 jam, memakai sphigmo­manometer di lengan kanan setinggi posisi jantung pada Korotkoff I sebagai sistolik dan Korotkoff IV sebagai diastolik.

Proteinuria yang menyertai gejala preeklampsia didefinisikan sebagai keadaan terdapatnya 300 mg atau lebih protein di dalam urin selama 24 jam atau > 100 mg/dl pada sekurang-kurangnya  dua contoh urin yang diambil dengan selang waktu 6 jam.

Berbagai definisi dan klasifikasi telah diajukan untuk hipertensi dalam kehamilan, salah satunya dikemukakan Cunningham dkk.

-          Preeklampsia adalah keadaan dimana hipertensi disertai dengan proteinuria, edema atau keduanya, yang terjadi akibat kehamilan setelah minggu ke-20 atau kadang-kadang timbul lebih awal bila terdapat perubahan hidatiformis yang luas dari vili khorialis.

-          Eklampsia di diagnosis bila pada wanita dengan kriteria klinis preeklampsia, timbul kejang-kejang yang bukan disebabkan oleh penyakit neurologis lain seperti epilepsi.

-          Superimposed preeklampsia/eklampsia adalah keadaan preeklampsia atau eklampsia yang terjadi pada wanita yang menderita hipertensi vaskuler kronis atau penyakit ginjal.

-          Penyakit hipertensi kronik adalah penyakit hipertensi yang menetap oleh sebab apapun, dan sudah diderita sebelum kehamilan atau timbul sebelum minggu ke-20 tanpa adanya mola hidatidosa atau perubahan mola yang luas, atau hipertensi yang menetap selama 6 minggu postpartum.

Preeklampsia digolongkan atas preeklampsia ringan dan preeklampsia berat. Kriteria preeklampsia berat tampak pada tabel 1.

Tabel 1. Indikator menentukan jenis preeklampsia berat6

Kelainan Preeklampsia berat
Tekanan darah diastolik

Proteinuria

Nyeri kepala

Gangguan penglihatan

Nyeri perut bagian atas

Oliguria

Kejang-kejang

Kreatinin serum

Trombositopenia

Hiperbilirubinemia

Peningkatan kadar enzim hati

Retardasi pertumbuhan janin

Edema paru

> 110 mmHg

+2 atau lebih

Ada

Ada

Ada

Ada

ada à eklampsia

Meningkat

Ada

Ada

Sangat nyata

Tampak jelas

Ada

Pertimbangan terpenting adalah untuk membedakan hipertensi yang terjadi sebelum kehamilan dengan preeklampsia.7

The National High Blood Pressure Education Program working group on High Blood Pressure in Pregnancy telah mempublikasikan suatu pedoman klinis terbaru yang merupakan kombinasi dari EBM dan konsensus para pakar.8 Skema klasifikasi yang diusulkan oleh kelompok ini dapat diadopsi oleh American College of Obstetrician and Gynecologist (ACOG) di masa yang akan datang dan terdiri dari 4 kelompok (tabel 1).9

Preeklampsia juga diklasifikasikan ringan atau berat.

Sekitar 5-10% merupakan PEB. Secara luas telah diperoleh kesepakatan bahwa preeklampsia disebut berat bila TD sistolik  ³ 160 mmHg, TD diastolik  ³ 110 mmHg, proteinuria > 5g/24 jam, peningkatan serum kreatinin, kejang grand mal, edema pulmoner, oliguria < 500 ml/24 jam, HELLP syndrome, PJT atau oligohidramnion, atau terdapat gejala nyeri kepala, nyeri epigastrik atau gangguan visual.10

Tidak ada sistem klasifikasi yang sempurna, terutama pada penyakit-penyakit yang belum dipahami dengan baik. Penelitian pada wanita-wanita yang menderita HELLP Syndrome memperlihatkan bahwa lebih dari 20% wanta adalah normotensi dan pada 5-15% tidak ditemukan proteinuria.

Tabel 2. Pembagian Klinis11

Kelompok Definisi Klinis
Hipertensi Kronis TD ³ 140/90 mmHg yang didiagnosis sebelum masa gestasi 20 minggu atau hipertensi yang didiagnosis untuk pertama kalinya selama kehamilan dan tidak ada perbaikan postpartum
Preeklampsia-Eklampsia TD ³ 140/90 mmHg yang didiagnosis setelah masa gestasi 20 minggu, disertai proteinuria (> 300 mg/spesimen 24 jam).

Dx/ eklampsia = preeklampsia + kejang yang bukan disebabkan oleh etiologi lainnya.

Superimposed Preeklampsia pada Hipertensi Kronis Proteinuria yang baru timbul atau, pada wanita dengan hipertensi dan proteinuria sebelum masa gestasi 20 minggu; proteinuria yang tiba-tiba meningkat, hipertensi yang tiba-tiba memburuk, trombositopenia, atau  elevasi abnormal dari enzim alanin aminotransferase atau aspartat aminotransferase
Hipertensi Gestasional/HDK TD ³ 140/90 mmHg yang pertama kali terdeteksi setelah masa tengah kehamilan tanpa proteinuria.

Komplikasi yang sering ditemukan adalah edema pulmoner.

Predisposisi :12

  1. Cardiac Output yang meningkat sampai 50%.
  2. Volume sirkulasi meningkat sampai 50 %
  3. Volume plasma meningkat 30-50%
  4. Heart rate meningkat 10-15%

PATOFISIOLOGI3,7

Sampai saat ini etiologi preeklampsia ini masih belum dipastikan.  Patofisiologi  ditandai dengan vasospasme luas hampir di seluruh bagian tubuh. Temuan pokok yang  banyak dibahas adalah faktor–faktor produk endotel seperti ‘endothelium derived relaxing factor (ERDF)’ / oksida nitrat (NO) dan endotelin yang mungkin merupakan unsur pokok penjelasan patofisiologi preeklampsia. Defisiensi kronik NO mengakibatkan timbulnya gejala-gejala preeklampsia, penghambatan produksi NO mengakibatkan hipertensi.

Hipotesis yang penting pada patogenesis dari preeklampsia adalah terdapatnya senyawa yang dihasilkan jaringan uteroplasenta yang masuk ke sistem sirkulasi ibu dan menyebabkan kerusakan endotel. Perubahan fungsi endotel yang terjadi dianggap sebagai penyebab utama timbulnya gejala preeklampsia: hipertensi, proteinuria, dan aktivasi sistem hemostasis.

Ggn janin
Gangguan Ibu
Penyakit berat
Penyakit ringan
Hipovolemia ß Vasokontriksi ß Agregasi trombosit
Seimbang
Endotel baik
Endotel rusak
Disfungsi sel

Endotel

Iskemia

Plasenta

Peningkatan deportasi STB pada penyakit stadium akhir
Stres oksidatif dg mediator sitokin
Adesi molekul EC (pengerahan netrofil)
Aterosis akut
Invasi dangkal trofoblas di

arteri spiralis

Maladaptasi imun/ Kelainan genetik

Gambar 1. Hipotesa terintegrasi terjadinya preeklampsia.7

(EC. Endothelial cell : CTB, cytotrophablast; STB, syncytiotrophoblast; CK,  cytokine)

Pada preeklampsia terjadi peningkatan kadar hCG serum. Peningkatan kadar hCG ini akan menyebabkan pengeluaran kedua enzim COX yang berlebihan; dan akhirnya menyebabkan kelainan gangguan proses implantasi dan pembentukan pembuluh darah plasenta. Mungkin akibat implantasi yang tidak sempurna maka diperlukan hCG lebih banyak. Pada kehamilan normal seharusnya terjadi perubahan ukuran protein reseptor LH/CG 50 KD (trimester pertama) menjadi 80 KD pada trimester dua-tiga, sehingga hCG tidak disintesis berlebihan karena reseptornya mempunyai mekanisme pengaturan sendiri/autoregulasi sintesis hCG/LH. Kerusakan pada tingkat reseptor ini mungkin yang bisa menjelaskan mengapa preeklampsia dapat terjadi berulang namun tidak selalu berulang.

Pada preeklampsia terjadi defisiensi plasentasi. Terjadi kegagalan pada gelombang kedua invasi trofoblas, sehingga “perubahan fisiologis” pada arteri spiralis tidak terjadi. Perubahan hanya terjadi pada sebagian arteri spiralis segmen desidua, sementara arteri spiralis segmen miometrium masih diselubungi oleh sel-sel otot polos. Selain itu juga ditemukan adanya hiperplasia tunika media dan trombosis. Garis tengah arteri spiralis 40% lebih kecil dibandingkan dengan pada kehamilan normal, hal ini menyebabkan insufisiensi dan iskemia. Sebagian arteri spiralis dalam desidua atau miometrium tersumbat oleh materi fibrinoid berisi sel-sel busa, terdapat akumulasi makrofag yang berisi lemak, dan infiltrasi sel mononukleus pada perivaskuler. Keadaan ini dikenal sebagai “aterosis akut”, lesi ini pertama kali ditemukan oleh Hertig. Pada fase awal aterosis akut ditandai dengan gangguan fokal dari endotel, terjadi prolifperasi sel-sel otot polos tunika intima dan terjadi nekrosis tunika media. Ruang ekstra seluler antara sel-sel otot intima diisi oleh fibrin. Arteri yang terlibat bisa tersumbat sebagian sampai total. Aterosis berhubungan erat dengan terjadinya pertumbuhan janin terhambat dan beratnya gejala dari preeklampsia.

Akibat semua kejadian di atas maka akan terjadi suatu reaksi radikal bebas, yang diciri dengan tingginya lipid peroksida pada pasien dengan preeklampsia dibandingkan dengan kehamilan normal. Reaksi radikal bebas inilah yang kemudian akan memicu disfungsi endotel, dan akibat disfungsi endotel yang masif maka akan mulai timbul gejala klinis.

Plasenta Normal
Plasenta Preeklampsia

Gambar 3. Gangguan Implantasi trofoblas.

DIAGNOSIS 3,10

Preeklampsia ringan

Tekanan darah = 140/90 mmHg. TD dapat saja meningkat cepat dalam 1 minggu, misalnya diastolik meningkat dengan 15 mmHg. Mungkin berat badan meningkat dengan 2 kg dalam seminggu akibat edema umum. Perlu diingat bahwa 20% eklampsia dapat terjadi pada kondisi tensi tidak terlalu tinggi. Pengambilan tensi haruslah baku yaitu: duduk dan manset dipasang pada lengan kiri; bila terdengar bunyi Korotkoff 1 merupakan sistolik dan bunyi Korotkoff 4 dicatat sebagai diastolik (WHO). Sebaiknya tensi diukur setelah pasien istirahat duduk 1 jam dan diulangi lagi 6 jam. Bila tekanan tetap tinggi maka kita yakin akan penyakit ini. Pemeriksaan protein urin dapat dilakukan dengan kertas dengan batasan ≥ 2 .

Preeklampsia berat

Diagnosis Preeklampsia berat didasarkan pada adanya TD ³ 160/110 mmHg, dengan proteinuria +2 atau lebih menggunakan dipstik.

Preeklampsia disebut berat bila terdapat :

Tabel 3. Indikator menentukan jenis preeklampsia berat3,7,8

Kelainan Preeklampsia berat
TD sistolik

TD diastolik

Proteinuria

Nyeri kepala

Gangguan visual/buta kortikal

Nyeri epigastrik & subhepatik menetap

Oliguria

Kejang-kejang

Kreatinin serum

Trombositopenia

Hiperbilirubinemia

Peningkatan kadar enzim hati

Retardasi pertumbuhan janin/PJT

Edema paru

Sianosis

Hiperrefleksia

³ 160 mmHg

³ 110 mmHg

Dipstick: +2/lebih, Lab: > 3 gr/hari

Ada

Ada

Ada

< 400 ml/hari

ada à menjadi eklampsia

Meningkat

< 100.000/mm3

Ada

Sangat nyata

Tampak jelas

Ada

Ada

Ada

Sebenarnya gangguan visual sudah merupakan gejala edema serebri, sehingga dapat disebut sebagai eklampsia imminent. Pertumbuhan janin terhambat, dimasukkan ke dalam kriteria ini karena mempunyai konsekuensi pengakhiran kehamilan yang akut/subakut. Preeklampsia berat masuk kedalam kategori gawat, sehingga pasien dirawat dalam pengawasan intensif, mengingat bahaya eklampsia.

HELLP Syndrome atau Sindrom HELLP 3,4,7

Sindroma HELLP merupakan suatu kerusakan multisistem dengan tanda-tanda : hemolisis, peningkatan enzim hati, dan trombositopenia yang diakibatkan disfungsi endotel sistemik. Insidens sindroma hellp pada kehamilan berkisar antara 0,2-0,6 %, 4-12% pada preeklampsia berat, dan menyebabkan mortalitas maternal yang cukup tinggi (24 %), serta mortalitas perinatal antara 7,7%-60%.

Pada penderita preeklampsia, Sindroma HELLP merupakan suatu gambaran adanya Hemolisis (H), Peningkatan enzim hati (Elevated Liver Enzym-EL), dan trombositopeni (Low Platelets-LP). Sindroma HELLP dapat timbul pada pertengahan kehamilan trimester dua sampai beberapa hari setelah melahirkan.

Diagnosis Sindroma HELLP secara obyektif lebih berdasarkan hasil laboratorium, sedangkan manifestasi klinis bersifat subyektif, kecuali jika keadaan sindroma HELLP semakin berat. Berdasarkan hasil laboratorium dapat ditemukan anemia hemolisis, disfungsi hepar, dan trombositopeni

Sampai saat ini diagnosis Sindroma hellp lebih berdasarkan parameter  laboratorium, dan parameter yang digunakan selama ini lebih mengarah pada keadaan  sindroma hellp lanjut, dimana morbiditas dan mortalitas ibu maupun janin cukup tinggi.

Sindrom HELLP ditandai:

1.   Hemolisis

Tanda hemolisis dapat dilihat dari ptekie, ekimosis, hematuria dan secara laboratorik adanya Burr cells pada apusan darah tepi.

2.   Elevated liver enzymes

Dengan meningkatnya SGOT, SGPT (> 70 iu) dan LDH (> 600 iu) maka merupakan tanda degenerasi hati akibat vasospasme luas. LDH > 1400 iu, merupakan tanda spesifik akan kelainan klinik.

3.   Low platelets

Jumlah trombosit < 100.000/mm3 merupakan tanda koagulasi intravaskuler.

Sindroma HELLP merupakan salah satu keadaan preeklampsia  yang memburuk yang dapat didiagnosis dengan parameter laboratorium,  sementara proses kerusakan endotel juga terjadi diseluruh sistem tubuh, karenanya diperlukan suatu parameter yang lebih dini dimana preeklampsia belum sampai menjadi perburukan, dan dapat ditatalaksana lebih awal yang akan menurunkan terutama morbiditas dan mortalitas ibu, dan mendapatkan janin se-viable mungkin.

Pada pemeriksaan darah tepi terdapat bukti-bukti hemolisis dengan adanya kerusakan sel eritrosit, antara lain burr cells, helmet cells. Hemolisis ini mengakibatkan peningkatan kadar bilirubin dan lactate dehydrogenase (LDH). Disfungsi hepar di­refleksikan dari peningkatan enzim hepar yaitu Aspartate transaminase (AST/GOT), Alanin Transaminase (ALT/GPT), dan juga peningkatan LDH. Semakin lanjut proses kerusakan yang terjadi, terdapat gangguan koagulasi dan hemostasis darah dengan ketidak normalan protrombin time, partial tromboplastin time, fibrinogen, bila keadaan semakin parah dimana trombosit sampai dibawah 50.000 /ml biasanya akan didapatkan hasil-hasil degradasi fibrin dan aktivasi antitrombin III yang mengarah terjadinya Disseminated Intravascular Coagulopathy (DIC). Insidens DIC pada sindroma hellp 4-38%.

Klasifikasi Sindroma HELLP berdasarkan klasifikasi Missisippi, terdiri dari kelas I bila trombosit dibawah sampai dengan 50.000/ml, kelas II trombosit antara >50.000-100.000/ml, dan  kelas III trombosit antara >100.000-150.000/ml.17 LDH > 600 iu/l, AST dan ALT > 40 iu/l. Kelas I Sindroma HELLP mengakibatkan insiden morbiditas dan mortalitas perinatal dan periode pemulihan post partum yang memanjang.

Eklampsia

Bila terdapat kejang pada pasien hipertensi dalam kehamilan, maka diagnosis kerja utama ialah eklampsia. Dengan adanya data proteinuria dan kelainan seperti pada preeklampsia berat maka kita yakin akan hal ini, meskipun 20% mungkin tensi tidak terlalu tinggi.

PENATALAKSANAAN

Upaya pengobatan ditujukan untuk:6,9

  1. Mencegah kejang

Diberikan magnesium sulfat 2 gram intravena (IV) dalam 10 menit dilanjutkan drip 2 g/jam dalam Ringer Laktat 500 ml.

  1. Menurunkan tekanan darah dengan antihipertensi dan memulihkan organ vital kepada keadaan normal.

Diberikan nifedipin 10 mg oral, direncanakan 3 kali/hari. Pada jam ke-2 bila tekanan diastolik belum turun 20% maka dapat diberikan tambahan oral, dosis maksimum 80 mg/hari.

  1. Melahirkan bayi dengan trauma sekecil-kecilnya pada ibu dan bayi.

Persalinan merupakan pengobatan paling efektif.  Pemberian obat masih bersifat simtomatis, itupun hanya pemberian antihipertensi dan pencegahan kejang yang dapat disepakati banyak ahli.  Obat-obat antihipertensi yang tersedia cukup banyak, namun tidak semuanya dapat digunakan pada  kehamilan khususnya pada preeklampsia mengingat  adanya efek obat pada janin. Obat ideal  hipertensi dalam kehamilan  adalah efek kerja  cepat, aktivitas lama,  efek samping minimal pada ibu, dan tidak mengganggu janin karena penurunan perfusi ke plasenta.6 Dengan segala kelebihan dan kekurangannya maka tidak banyak pilihan yang dapat dipakai.

Penanganan preeklampsia ringan10

Untuk obat anti hipertensi diberikan metil-dopa. Dosis yang diberikan 3 x 250 mg sampai 3 x 500 mg. Pasien disuruh banyak istirahat dan dipesan kembali untuk pemeriksaan antenatal lebih cepat dari jadwal biasanya. Disamping itu juga diingatkan kepada pasien bila timbul keluhan subyektif agar segera kembali untuk diperiksa.

Penanganan preeklampsia berat/eklampsia

Penanganan medik

1. Tidak merawat di kamar gelap

Kebijakan untuk merawat pasien di kamar gelap telah ditinggalkan lebih dari 10 tahun yang lalu. Pasien dirawat di kamar yang terang sehingga observasi dapat dilakukan jauh lebih baik.

2.   Obat antihipertensi

Untuk pasien preeklampsia berat obat antihipertensi yang dianjurkan adalah hydralazine yang diberikan secara intravena. Karena hydralazine tidak terdapat di Indonesia maka dipakai nifedipin oral yang bekerja cepat untuk menurunkan tekanan darah. Nifedipin merupakan obat yang cukup aman untuk dipergunakan. Dosis yang biasa dipakai adalah 3 x 10 mg perhari.

3.   Obat anti kejang

Sebagai obat untuk mengatasi kejang atau mencegah kejang dipakai magnesium sulfat yang diberikan secara intravena. Beberapa rumah sakit memberikan magnesium sulfat secara intra-muskuler. Dosis awal adalah 2 gram yang diberikan perlahan-lahan dilanjutkan dengan dosis 2 gram per jam melalui tetesan. Kombinasi magnesium sulfat dan nifedipin dapat menyebabkan hipotensi.

4.   Diuretik

Diuretik tidak diberikan kecuali bila terdapat edema pulmonum.

5.   Pemberian cairan

Cairan diberikan 500 mL/6 jam. Pasien preeklampsia berat/eklampsia kurang toleran terhadap kehilangan darah yang terjadi sewaktu bersalin atau seksio dibandingkan pasien normotensif. Hal ini disebabkan tidak terjadinya hipervolemia pada preeklampsia/eklampsia.

6.   Hal-hal lainnya yang perlu diperhatikan

Timbulnya komplikasi harus selalu diwaspadai terutama edema pulmonum dan oliguria. Selain itu keluhan subyektif seperti nyeri kepala yang hebat, gangguan penglihatan serta nyeri epigastrium harus sering ditanyakan. Pasien juga harus diperiksa matanya (fundus). Karena kemungkinan terjadi solusio plasenta maka uterus juga harus sering diperiksa dengan cermat.

7.   Penanganan obstetrik

Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab: kapan janin harus dilahirkan, apakah persalinan pervaginam atau dengan seksio? Bila pervaginam apakah boleh partus spontan atau dengan bantuan cunam/ekstraktor vakum ?

Bila dilakukan seksio jenis anestesi mana yang sebaiknya dipakai ? Banyak yang menganjurkan anestesi umum untuk seksio sesarea walaupun dapat terjadi kenaikan tensi yang mencolok waktu intubasi dan ekstubasi. Untuk mencegahnya diberikan nifedipin sublingual.

Penanganan eklampsia dan preeklampsia berat dengan komplikasi pada ibu atau janin (tidak tergantung dari usia gestasi)

Komplikasi pada ibu dapat berupa edema pulmonal, sindroma HELLP dan sebagainya. Penanganan medik seperti di atas tetapi penanganan obstetrik lebih agresif. Makin berat komplikasi yang sudah terjadi makin cepat pengakhiran kehamilan yang biasanya berarti dilakukan seksio sesarea yang kadang-kadang sampai menggunakan anestesi lokal.

Penanganan preeklampsia tanpa komplikasi pada kehamilan sebelum 34 minggu

Apakah kita harus mengakhiri kehamilan? Ada banyak perbedaan pendapat. Beberapa penulis akan mengakhiri kehamilan tidak tergantung dari usia gestasi, sedang yang lainnya menganjurkan meneruskan kehamilan. Di RSCM yang dianut adalah meneruskan kehamilan yang biasanya berarti menunda persalinan sampai 2 minggu.

Penanganan preeklampsia berat pada awal trimester dua

Golongan pasien ini merupakan pasien yang paling sulit dari sudut janin karena mortalitas dan morbiditasnya tinggi. Penanganan konservatif pasien ini harus selektif dan hanya dirawat di rumah sakit dengan fasilitas intensive care yang memadai.

Etiologi

Sampai saat ini etiologi pasti dari preeklampsi-eklampsia belum diketahui, sehingga penatalaksanaan terpilih adalah melahirkan bayi secepat mungkin, dengan konsekuensi akan lahir bayi-bayi preterm iatrogenik.

Pemantauan Kesejahteraan Janin

Untuk memantau kesejahteraan saat janin terdapat 3 metode,6 pertama monitor djj, pengambilan sampel darah janin untuk menentukan pH, dan mendeteksi adanya mekonium dalam air ketuban. Untuk memonitor djj dapat dilakukan dengan auskultasi secara intermiten atau dengan menggunakan pemantauan  elektronik secara terus menerus (continuous eletronic fetal monitoring). Auskultasi dapat dilakukan dengan fetoskop atau dengan menggunakan alat Doppler. Berbeda dengan pemantauan secara elektronik, pemantauan dengan alat Doppler tidak menghasilkan rekaman grafik yang tercetak, namun harus dicatat secara manual ke rekam medis.

Sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan metode apa yang paling efektif, termasuk frekuensi atau durasi dari pemantauan, yang menjamin hasil yang optimal. Pada partograf WHO, pemantauan djj pada fase aktif dilakukan tiap 30 menit, didengarkan selama 1 menit setelah fase terkuat his lewat. Apabila terdengar djj yang abnormal (djj  160x/menit atau < 120 x/menit), djj didengarkan tiap 15 menit selama 1 menit segera his selesai. Rekomendasi dari American College of Obstetricians and Gynecologists (1995) untuk pemantauan djj intrapartum dapat dilihat pada tabel 2

Tabel 4. Panduan untuk Pemantauan Frekuensi Denyut Jantung Janin Intrapartum6

Pemantauan Kehamilan Risiko Rendah Kehamilan Risiko Tinggi
Metode yang diterima

  • Auskultasi intermiten
  • Monitoring elektronik terus menerus (internal atau eksternal)

Interval evaluasia

  • Partus kala I aktif
  • Partus kala II
ya

ya

30 menit

15 menit

ya

ya

15 menitb

5 menitb

a Sesaat setelah his

b Termasuk evaluasi hasil tracing dan pembuatan grafik dengan monitoring elektronik terus menerus

Thacker (1995) dalam meta analisisnya, yang membandingkan efikasi dari pemantauan elektronik secara terus menerus dengan auskultasi intermiten, mendapatkan satu-satunya keuntungan pemantauan secara elektronik adalah pengurangan kejadian kejang neonatorum.Tidak ditemukan perbedaan angka kematian perinatal di antara kedua kelompok tersebut. Walaupun demikian, pada kehamilan dengan risiko tinggi, beberapa ahli menganjurkan pemantauan elektronis secara terus menerus. Apabila metode auskultasi digunakan,  dianjurkan agar rasio perawat : pasien 1 banding 1.

Mahomed (1994) dalam suatu penelitian menemukan bahwa metode auskultasi dengan alat Laennec, berhubungan dengan peningkatan mortalitas dan morbiditas perinatal dibandingkan dengan kelompok yang dipantau dengan alat Doppler secara intermiten atau dengan elektronis terus menerus. Selain itu frekuensi dan durasi pemeriksaan mungkin kurang adekuat atau caranya tidak tepat. ACOG  menyarankan auskultasi minimal tiap 15 menit untuk kehamilan risiko tinggi dan rasio perawat pasien 1 banding 1. Hal ini sulit dilakukan pada kondisi pasien yang banyak dengan tenaga yang terbatas. Kemungkinan lain, adanya djj yang abnormal tidak terdeteksi. Metode auskultasi mempunyai keterbatasan, yaitu hanya dapat mendeteksi bradikardia yang memanjang, sebagai respons terhadap hipoksemia, namun tidak dapat mendeteksi variabilitas yang hilang. Adanya deselerasi lambat juga dapat tidak terdeteksi apabila djj tidak didengar beberapa waktu setelah his, atau bila deselerasi yang terjadi amplitudonya tidak cukup besar.

Tergantung dari lamanya proses asfiksia, janin yang mengalami asfiksia akan menunjukkan tahapan perubahan dari pola denyut jantung. Respon awal akan berupa munculnya deselerasi lambat refleks, dengan amplitudo yang kecil (< 10 dpm pada puncaknya). Variabilitas biasanya normal dan mungkin terdapat akselerasi yang berhubungan dengan gerakan janin. Dengan hipoksemia yang progresif, deselerasi lambat akan bertambah berat, djj dapat turun hingga 80 dpm dari frekuensi dasarnya. Frekuensi dasar djj mulai meningkat dan variabilitas mulai menghilang. Semakin berat hipoksemia yang terjadi, janin akan semakin asidotik, deselerasi lambat yang terjadi dapat mengalami perubahan paradoksal, yaitu berkurangnya amplitudo deselerasi, bahkan dapat menghilang seluruhnya, sehingga terjadi suatu takikardia dengan variabilitas yang menghilang. Janin yang lahir pada kondisi ini, mengalami asfiksia dan asidosis berat, yang membutuhkan usaha resusitasi yang maksimal. Pola djj tahapan akhir janin yang mengalami hipoksemia yang progresif berupa bradikardia yang menetap, dengan frekuensi dasar djj 100 dpm atau kurang. Umumnya djj akan menurun dalam beberapa menit dari frekuensi dasar yang takikardia. Janin yang lahir pada kondisi ini umumnya tidak dapat bertahan hidup walaupun dilakukan usaha resusitasi yang maksimal.

SC

Ekl. Gravidarum.

Ekl. Parturientum dg perkiraan PK II > 8 jam

< 5
SC
PRE EKLAMPSI BERAT
Hipertensi : S > 160, D>110

Proteinuri : > 3 g/dl atau > +3

Edema tibia

Oliguri : < 400 ml/24 jam

Nyeri epigastrium

Nyeri frontal

Gangguan visus

Mg SO4 dan Nifedipin
Tak terkendali/

komplikasi

FDJP
> 5
< 35 mg
Konservatif
Induksi persalinan
Terkendali
< 35 mg
EKLAMPSI

PEB+ Kejang

Perbaikan hemodinamik dalam 4-8 jam
Terminasi kehamilan
Pervaginam

PK II dicapai dalam 4-5 jam atau selama perbaikan hemodinamik

PRE EKLAMPSI DAN EKLAMPSI

Gambar 4. Penatalaksanaan preeklampsia dan eklampsia10

PEB
Datang utk persalinan :

- Evaluasi feto-maternal

- MgSO4;

- Terapi antihipertensi

Indikasi mutlak untuk terminasi:

1. TD tidak terkontrol

2. Perburukan kondisi ibu& janin

3. Enzim-enzim hepar meningkat cepat

4. Trombositopenia (< 100.000/cu mm)

Tidak ada indikasi mutlak untuk terminasi
< 23 minggu
23-32 minggu
32-33 minggu
> 33 minggu
Tawarkan terminasi
Kortikosteroid
Amniosentesis; kortikosteroid bila perlu
Kontrol TD
Tes janin harian
Pengawasan maternal
Kontrol BP
Terminasi utk pertumbuhan janin abnormal
Kontrol BP
Lahirkan

Gambar 8. Penatalaksanaan PEB

KESIMPULAN

Tujuan utama dari penatalaksanaan preeklampsia adalah pencegahan agar angka kejadian preeklampsia tidak terus meningkat dan pencegahan kenaikan tingkat morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal.

Usaha usaha yang dapat dilakukan adalah:

  1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pemeriksaan pada ibu hamil terutama pada ibu hamil yang mempunyai resiko terjadinya preeklampsia
  2. Segera setelah ditegakkan diagnosis hipertensi dalam kehamilan, harus diusahakan agar tidak berkembang menjadi baik PER, PEB, eklampsia maupun komplikasi-komplikasi lainnya.
  3. Jika PEB tejadi pada usia gestasi cukup bulan, maka terminasi kehamilan merupakan pengobatan paling baik dan diusahakan lahir pervaginam.
  4. Penatalaksanaan medisinal seperti MgSO4 untuk mencegah terjadinya kejang, kortikosteroid untuk pematangan paru serta antioksidan untuk mencegah perburukan PEB dan antitrombus untuk mencegah terjadinya preeklampsia perlu diberikan.
  1. Kerjasama dengan Departemen Ilmu Kesehatan Anak terutama Divisi Neonatologi yang mampu merawat bayi secara intensif di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) pada persalinan PEB yang terjadi pada usia gestasi kurang bulan yang ditatalaksana ekspektatif.

DAFTAR PUSTAKA

  1. World Health Organization. Department of reproductive health and research. Mother-baby package, implementing safe motherhood in countries. Geneva: WHO, 1998.
  2. Priyatini T, Wiknjosastro GH. Angka kejadian preeklampsia berat dan eklampsia di rumah sakit umum pusat Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2002. Disampaikan pada KOGI XIII, Bandung, Juli 2004.
  3. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD. Hypertensive disorders in pregnancy. Dalam: Williams Obstetrics. Edisi ke-21. New York: The McGraw Hill Companies, Inc; 2001.h. 331–360.
    1. Society of Obstetricians and Gynaecologist of Canada. Gestational Hypertension. Dalam: Alarm course syllabus. Edisi ke-9. Ottawa, 2002.
    2. Prasmusinto D. Genetic factor in preeclampsia: study of candidate genes in different ethnic population. Bonn: 2003.h.43.
    3. Sibai BM, Friedman SA, Schiff E, Lubarsky SL. Expectant management of severe preecclampsia remote from term. Clin. Obstet Gynecol 1999; 42: 470-478.
    4. Lockwood CJ, Paidas MJ. Preeclampsia and hypertensive disorders. Dalam: Cohen WR, editor. Cherry and Merkatz’s complications of pregnancy. Edisi ke-5. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2000. h. 207-231.
    5. The National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy. Report of  the national high blood pressure education program working group on high blood pressure in pregnancy. Am J Obstet Gynecol 2000; 183: S1-S22.
    6. Duley L, Henderson Smart DJ. Magnesium Sulphate and other Anti Convulsants for Women with Preeclampsia. Didapatkan dari  hal web site : Cochrane, Calvin Tjong, Mei  2006: hal 90-94.
    7. Poernomo HB. Preeklampsi dan eklampsi. Pada: Ringkasan alur-pikir pada kasus-kasus gawat darurat obstetri yang ditemukan selama bertugas jaga di IGD Lt. III RSUPN-CM. Laporan bimbingan. Pembimbing : dr H. Yanto Kadarusman,SpOG. Bagian Obstetri & Ginekologi FKUI. Jakarta; 1997: 16-18.


About these ads

Author: kesehatanvegan

Bahagia, sehat, awet muda, & panjang umur dg vegan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 338 pengikut lainnya.