Arsip
Kejang Demam Kompleks dan Kejang Demam Sederhana
Kejang demam merupakan bentuk kejang yang sering dijumpai dan terjadi pada 2 – 5% anak. Dalam 25 tahun terakhir ini diketahui bahwa kejang demam sebenarnya tidaklah menakutkan. Kejang demam tidak berhubungan dengan adanya kerusakan otak dan hanya sebagian kecil saja yang akan berkembang menjadi epilepsi.
Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League Againts Epilepsy (Commision on Epidemiology and Prognosis, 1993) adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4oC tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.
Kejang demam diklasifikasikan sebagai :
1. kejang demam kompleks bila bersifat fokal, berlangsung lama (>10 – 15 menit), atau multiple (> 1 kali serangan selama 24 jam demam).
2. kejang demam sederhana adalah kejang yang berlangsung satu kali, singkat , dan bersifat umum. Read more…
Anemia Aplastik
BATASAN
Anemia aplastik adalah suatu kelainan yang ditandai oleh pansitopenia pada darah tepi dan penurunan selularitas sumsum tulang.
PATOFISIOLOGI
1. Defek sel induk hematopoetik
2. Defek lingkungan mikro sumsum tulang
3. Proses imunologi Read more…
POLIO MYELITIS
Virus polio : virus RNA, enterovirus, family Pikorna virus.
Tipe :
1. Brunhilde ~ paralysis
2. Lansing
3. Leon
PATOGENESIS
Virus – masuk sal. Cerna – multiplikasi di jaringan limfoid – jaringan ekstraneural – darah – sistim saraf.
Masa inkubasi : 4 – 17 hari ( bisa s/d 5 minggu )
- Lesi di cornu anterior medulla spinalis
- asimetris, tungkai > lengan
- otot proksimal > otot distal
- kelemahan flaksid, ref. fisiologis (-), atrofi Read more…
Tatalaksana Asma Jangka Panjang Pada Anak
| Selama kurun waktu yang berlalu telah terjadi perubahan pada patogenesis asma. Asma dahulu diyakini sebagai suatu proses yang disebabkan oleh karena bronkospasme dan diobati dengan obat bronkodilator, kini asma diketahui sebagai keadaan yang disebabkan oleh reaksi inflamasi kronikSehingga obat antiinflamasi dianjurkan diberikan pada asma, kecuali pada asma yang sangat ringan.
Asma pada masa kanak-kanak sebenarnya dapat dikendalikan , walaupun tidak semuanya dapat disembuhkan. Pada kenyataannya, sebagian besar asma masih “under-diagnosed” dan “under-treated”. Sebaliknya di beberapa negara maju, asma ringan sering diberi pengobatan yang berlebihan. Penanganan asma seyogyanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Tujuan penatalaksanaan asma adalah untuk memungkinkan anak dapat tumbuh dan berkembang serta melakukan aktivitas secara optimal sesuai dengan usianya. Penanganan asma harus berdasarkan pengetahuan tentang anatomi, fisiologi serta imunopatologi asma. Selanjutnya harus dipahami juga bagaimana perjalanan penyakit asma, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya asma, serta farmakokinetik obat-obatan asma yang dipergunakan, sehingga para dokter dapat memberikan petunjuk yang benar kepada penderita asma dan keluarganya. Read more… |
Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12
DEFINISI
Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12 (anemia pernisiosa) adalah anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12. Selain zat besi, sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah. Jika kekurangan salah satu darinya, bisa terjadi anemia megaloblastik.
Pada anemia jenis ini, sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnormal (megaloblas). Sel darah putih dan trombosit juga biasanya abnormal.
Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap vitamin tersebut. Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk mengobati kanker (misalnya metotreksat, hidroksiurea, fluorourasil dan sitarabin).
PENYEBAB
Penyerapan yang tidak adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan anemia pernisiosa. Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging dan dalam keadaan normal telah diserap di bagian akhir usus halus yang menuju ke usus besar (ilium).
Supaya dapat diserap, vitamin B12 harus bergabung dengan faktor intrinsik (suatu protein yang dibuat di lambung), yang kemudian mengangkut vitamin ini ke ilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam aliran darah. Tanpa faktor intrinsik, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang melalui tinja. Read more…
Parotitis epidemika
Tidak semua orang yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit (subclinical). Namun demikian mereka sama dengan penderita lainnya yang mengalami keluhan, yaitu dapat menjadi sumber penularan penyakit tersebut.
Masa tunas (masa inkubasi) penyakit Gondong sekitar 12-24 hari dengan rata-rata 17-18 hari. Adapun tanda dan gejala yang timbul setelah terinfeksi dan berkembangnya masa tunas dapat digambarkan sdebagai berikut : Read more…
Tatalaksana Hipoglikemi pada Neonanus
1. Memantau Kadar Glukosa Darah
Semua neonatus berisiko tinggi harus ditapis:
- Pada saat lahir
- 30 menit setelah lahir
- Kemudian setiap 2-4 jam selama 48 jam atau sampai pemberian minum berjalan baik dan kadar glukosa normal tercapai
2. Pencegahan Hipoglikemia
- Menghindari faktor risiko yang dapat dicegah (misalnya hipotermia).
- Pemberian makan enteral merupakan tindakan preventif tunggal paling penting
- Jika bayi tidak mungkin menyusui, mulailah pemberian minum dengan menggunakan sonde dalam waktu 1-3 jam setelah lahir.
- Neonatus yang berisiko tinggi harus dipantau nilai glukosanya sampai asupan penuh dan tiga kali pengukuran normal yaitu berada di atas 45 mg/dl (diperiksa sebelum pemberian minum).
- Jika ini gagal, terapi IV dengan glukosa 10% harus dimulai dan kadar glukosa dipantau. Read more…
EOSINOFILIA
1. Alergi : asma bronkial, urtikaria, rinitis, sensistivitas obat >>
2. Parasit : amubiasis, cacing
3. Kulit : psoriasis, pemfigus, dermatitis
4. Darah : LGK, PV, anemia pernisiosa
5. Penyakit lain : poliarteritis nodosa, hodgkin
Roseola Infantum
Roseola Infantum merupakan penyakit yang cukup sering ditemukan pada anak disebabkan oleh virus Herpesvirus 6 dan 7.
Disebut Infantum karena umumnya mengenai bayi baru lahir (infant), terutama yang usianya di bawah 2 tahun (biasa pada usia 6-18 bulan).
Roseola terkadang salah didiagnosis sebagai campak atau campak jerman karena gambaran dan perjalanan penyakit yang hampir mirip dengan kedua penyakit tersebut. Penyakit ini disebut juga dengan eksantem subitum (yang artinya kemerahan yang timbul mendadak) dan menular melalui cairan saliva/ludah.
Mengapa roseola infantum terkadang disebut juga dengan sixth disease ?
Roseola infantum disebut juga sixth disease yang menggambarkan bahwa penyakit ini merupakan penyakit ke-6 yang menunjukkan adanya tanda dan gejala kemerahan pada anak yang hampir sama. Penyakit-penyakit tersebut adalah:
- First disease: Campak
- Second disease: Penyakit Duke
- Third disease: Campak Jerman
- Fourth disease: Penyakit Scarlet
- Fifth diseose: Eritema Infeksiosum
- Sixth disease: Roseola Infantum
Apa tanda dan gejala Roseola Infantum pada anak?
Tanda dan gejala Roseola Infantum pada bayi cukup khas. Perjalanan penyakit tersebut adalah:
- Demam
Pada awal penyakit timbul demam. Demam biasanya tinggi (>39°C) yang berlangsung sekitar 3 hari dan terkadang disertai dengan badan lemah. Bayi dapat terlihat baik-baik saja walaupun demamnya tinggi. - Ruam kemerahan
Setelah demam turun, timbul ruam kemerahan di seluruh tubuh; terutama di daerah sekitar leher dan dada (bedakan dengan campak; ruam timbul ketika anak masih demam). Warnanya kemerahan seperti mawar sehingga disebut dengan roseola (rose artinya bunga mawar). Ruam tersebut tidak akan berubah menjadi nanah atau timbul cairan, serta tidak gatal, dan biasanya akan menghilang dalam waktu 1-2 hari. Read more…
DIFTERI
DIARE KARENA Bakteri
DIARE KARENA VIRUS
PROSEDUR PENATALAKSANAAN ASFIKSIA NEONATORUM
1. Definisi
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan adekuat
PATOFISIOLOGI :
Dapat disebabkan oleh semua keadaan yang menyebabkan gangguan pertukaran O2 dan CO2, sehingga berakibat :
- O2 tidak cukup dalam darah yang disebut hipoksia
- CO2 tertimbun dalam darah yang disebut hipercapnea.
Sebagai akibatnya dapat menyebabkan asidosis tipe respiratorik atau campuran dengan asidosis metabolik karena mengalami metabolisme anaerob, juga dapat mengalami hipoglikemia.
GEJALA KLINIK :
- Pernapasan terganggu
- Detik jantung menurun
- Refleks/ respons bayi melemah
- Tonus otot menurun
- Warna kulit biru atau pucat.
DIAGNOSA :
Dengan menilai Apgar Score pada menit ke I
Hasil Apgar Score : 0 – 3 : Asfiksia Berat
Hasil Apgar Score : 4 – 6 : Asfiksia Sedang
Hasil Apgar Score : 7 – 10: Normal. Read more…
APGAR Score
| 0 | 1 | 2 | |
| Appearance (color) | Blue or pale | Pink body/blue extremities | Completely pink |
| Pulse | Absent | < 100 | >100 |
| Grimace | No response | Grimace | Cough/sneeze |
| Activity (tone) | Limp | Some flexion | Active motions |
| Respiration | Absent | Slow, irregular | Good, crying |
Cara menilai status gizi
Baik, kurang, buruk
KEP/PEM I,II,III
LLA/TB
Obeis, N, cukup, KEP
4. Z Score: BB/U, TB/U dan BB/TB (tabel) Read more…
RESUSITASI NEONATUS
•ALUR RESUSITASI
- bersih dari mekoneum?
- bernapas atau menangis?
- tonus otot baik?
- warna kulit kemerahan?
- cukup bulan?
- Beri kehangatan
- Posisikan kepala*, bersihkan jalan napas
bila perlu
- Keringkan bayi, beri rangsang untuk bernapas, posisikan lagi
- Beri oksigen bila perlu
- pernapasan
- frekuensi jantung
- warna kulit
bila dari penilaian; apnu atau FJ < 100/m
- Berikan ventilasi tekanan positif/VTP selama 30 detik, kemudian evaluasi VTP 40-60/m, 20-30/30 detik
Dilakukan bila evaluasi setelah VTP 30 detik, FJ < 60/m
- Lakukan kompresi dada selama 30 detik bersamaan dgn VTP
1 kegiatan terdiri dari 3 kompresi 1 VTP
1 menit 90 kompresi 30 VTP
30 detik 45 kompresi 15 VTP Read more…
Hiperbilirubinemia
- Hiperbilirubinemia tidak terkonyugasi/indirek
- Hiperbilirubinemia terkonyugasi/direk
- peningkatan kadar bilirubin tidak terkonyugasi/indirek,
- berupa ikterus yang nyata pada minggu pertama kehidupan.
Tidak terkonyugasi:
Terkonyugasi:
Anemia Defisiensi Besi
| Organ sasaran | Gejala klinis |
| 1.Otak | Pusing, kunang-kunang,
Ngantuk, lesu Konsentrasi belajar menurun |
| 2. Jantung | Takikardi, nadi seler. Suara vasa spontan. Bising anorganis |
| 3. Otot | Besar dan kekuatan berkurang. Prestasi kerja menurun |
| Organ sasaran | Gejala klinis |
| 4. Gastrointestinal | Mual, Obstipasi, Kembung |
| 5. Kulit dan mukosa | Pucat, vili lidah tipis, halus.
Glosistis, stomatitis |
| 6. Kuku | Koilonikia, kuku sendok |
MORBILI-Campak-Rubeola
Morbili adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu :
a. Stadium kataral,
b. Stadium erupsi,
c. Stadium konvalesensi(3).
Etiologi
GLOMERULONEFRITIS KRONIK (GNK)
Definisi :
Gejala Klinik :
Edema tambah jelas
Ratio Alb/Glob. terbalik
Kolesterol meningkat
Glomerulonefritis Akut (GNA)
Definisi :
Perjalanan klinis GNA : dapat akut maupun kronis.
Glomerulonefritis Akut (GNA)
Insidens :
¯ 2/3 GNA pada anak berumur antara 3-7 tahun.
¯ Penderita pria > wanita
¯ Jarang pada umur < 3 tahun
Etiologi :
² b Streptococcus hemoliticus Gol. A tipe 12 dan 25
² Infeksi ekstra-renal : Traktus Respiratorius bagian atas atau infeksi pada kulit (piodermia).
Gejala Klinik
Hipertensi : Read more…
Penilaian derajat serangan asma 2
| Frekuensi napas | Takipnu | Takipnu | Takipnu | Bradipnu |
| Pedoman nilai baku frekuensi napas pada anak sadar :
Usia Frekuensi napas normal < 2 bulan < 60x/ menit 2 – 12 bulan < 50x/ menit 1 – 5 tahun < 40x/ menit 6 – 8 tahun < 30x/ menit |
||||
| Frekuensi nadi | Normal | Takikardi | Takikardi | Bradikardi |
| Pedoman nilai baku frekuensi nadi pada anak :
Usia Frekuensi napas normal 2 – 12 bulan < 160x/ menit 1 – 2 tahun < 120x/ menit 3 – 8 tahun < 110x/ menit |
||||
| Pulsus paradoksus | Tidak ada
< 10 mmHg |
Ada
10 – 20 mmHg |
Ada
> 20 mmHg |
Tidak ada, tanda kelelahan otot respiratorik |
| PEFR/FEV1
- Pra bronkodilator - Pasca bronkodil.
|
Persen nilai dugaan/ persen nilai terbaik | |||
| > 60%
> 80% |
40 – 60%
60 – 80% |
< 40%
< 60%, respons kurang dari 2 jam |
||
| SaO2 | > 95% | 91 – 95% | ≤ 90% | |
| PaO2 | Normal | > 60 mmHg | < 60 mmHg | |
| PaCO2 | < 45 mmHg | < 45 mmHg | > 45 mmHg | |
Penilaian derajat serangan asma
| Parameter klinis, faal paru,laboratorium | Ringan | Sedang | Berat | Ancaman henti napas |
| Sesak (breathless) | BerjalanBayi :
Menangis keras |
BerbicaraBayi :
- Tangis pendek
dan lemah - Kesulitan
menetek/ makan -
|
IstirahatBayi :
Tidak mau minum/ makan |
|
| Posisi | Bisa berbaring | Lebih suka duduk | Duduk bertopang tangan | |
| Bicara | Kalimat | Penggal kalimat | Kata – kata | |
| Kesadaran | Mungkin iritable | Biasanya iritable | Biasanya iritable | Kebingungan |
| Sianosis | Tidak ada | Tidak ada | Ada | Nyata |
| Wheezing | Sedang, sering hanya pada akhir ekspirasi | Nyaring, sepanjang ekspirasi + inspirasi | Sangat nyaring, terdengar tanpa stetoskop | Sulit/ tidak terdengar |
| Penggunaan otot bantu respiratorik | Biasanya tidak | Biasanya ya | Ya | Gerakan paradoks
Torako-abdominal |
| Retraksi | Dangkal, retraksi interkostal | Sedang, ditambah
retraksi suprasternal |
Dalam, ditambah napas cuping hidung | Dangkal/
hilang |
Klasifikasi derajat penyakit asma
| Parameter klinis, kebutuhan obat, dan faal paru | Asma episodik jarang | Asma episodik sering | Asma persisten( Asma berat ) |
| Frekuensi serangan | < 1x / bulan | > 1x / bulan | sering |
| Lama serangan | < I mingu | > 1 minggu | Hampir sepanjang tahun, tidak ada remisi |
| Intensitas serangan | Biasanya ringan | Biasanya sedang | Biasanya berat |
| Diantara serangan | Tanpa gejala | Sering ada gejala | Gejala siang dan malam |
| Tidur dan aktivitas | Tidak terganggu | Sering terganggu | Sangat terganggu |
| Pemeriksaan fisis di luar serangan | Normal( tidak ditemukan kelainan) | Mungkin terganggu( ditemukan kelainan ) | Tidak pernah normal |
| Obat pengendali( Anti inflamasi ) | Tidak perlu | Perlu | Perlu |
| Uji faal paru( di luar serangan ) | PEF/FEV1 > 80% | PEF/FEV1 60 – 80 % | PEF/FEV1 < 60% |
| Variabilitas faal paru( bila ada serangan ) | Variabilitas > 15% | Variabilitas > 30% | Variabilitas > 50% |
Simple Febrile Convulsion/Typical (Living Stone Criteria)
•Child age 6 m – 4 y
Jitteriness dd Kejang



Jitteriness seringkali salah didiagnosis sebagai kejang klonik. Secara klinis jitteriness berbeda dari kejang klonik menurut aspek berikut ini :
TUMOR WILMS
DEFINISI

Komentar Terakhir