Arsip

Archive for the ‘Ilmu Kesehatan Anak’ Category

Kejang Demam Kompleks dan Kejang Demam Sederhana

Kejang demam merupakan bentuk kejang yang sering dijumpai dan terjadi pada 2 – 5% anak. Dalam 25 tahun terakhir ini diketahui bahwa kejang demam sebenarnya tidaklah menakutkan. Kejang demam tidak berhubungan dengan adanya kerusakan otak dan hanya sebagian kecil saja yang akan berkembang menjadi epilepsi.

Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League Againts Epilepsy (Commision on Epidemiology and  Prognosis, 1993) adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4oC tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.

Kejang demam diklasifikasikan sebagai :

1. kejang demam kompleks bila bersifat fokal, berlangsung lama (>10 – 15 menit), atau multiple (> 1 kali serangan selama 24 jam demam).

2. kejang demam sederhana adalah kejang yang berlangsung satu kali, singkat , dan bersifat umum. Read more…

Anemia Aplastik

BATASAN

Anemia aplastik adalah suatu kelainan yang ditandai oleh pansitopenia pada darah tepi dan penurunan selularitas sumsum tulang.

PATOFISIOLOGI

1.                  Defek sel induk hematopoetik

2.                  Defek lingkungan mikro sumsum tulang

3.                  Proses imunologi Read more…

Categories: Anemia Aplastik

POLIO MYELITIS

ETIOLOGI

Virus polio : virus RNA, enterovirus, family Pikorna virus.

Tipe :

1. Brunhilde ~ paralysis

2. Lansing

3. Leon

PATOGENESIS

Virus – masuk sal. Cerna – multiplikasi di jaringan limfoid – jaringan ekstraneural – darah – sistim saraf.

Masa inkubasi : 4 – 17 hari ( bisa s/d 5 minggu )


GAMBARAN  KLINIS
1.Asimptomatik : 90 – 95 %
2.Minor : poliomyelitis abortif : 4 – 8 % : sakit tenggorokan, sakit perut, demam ringan, malaise, sakit kepala, tidak ada gejala neurologik
3.Meningitis aseptik
4.Mayor : poliomyelitis paralitik : 1 – 2 %
a.Spinal poliomyelitis : paling sering

- Lesi di cornu anterior medulla spinalis

- asimetris, tungkai > lengan

- otot proksimal > otot distal

- kelemahan flaksid, ref. fisiologis (-), atrofi Read more…

Categories: POLIO MYELITIS

Tatalaksana Asma Jangka Panjang Pada Anak

Selama kurun waktu yang berlalu telah terjadi perubahan pada patogenesis asma. Asma dahulu diyakini sebagai  suatu proses yang disebabkan oleh karena bronkospasme dan diobati dengan obat bronkodilator, kini asma diketahui sebagai keadaan yang disebabkan oleh reaksi  inflamasi kronikSehingga obat antiinflamasi dianjurkan diberikan pada asma, kecuali pada asma yang sangat ringan.

Asma pada masa kanak-kanak sebenarnya dapat dikendalikan , walaupun tidak semuanya dapat disembuhkan. Pada kenyataannya, sebagian besar asma masih “under-diagnosed” dan “under-treated”. Sebaliknya di beberapa negara maju, asma ringan sering diberi pengobatan yang berlebihan.

Penanganan asma seyogyanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Tujuan penatalaksanaan asma adalah untuk memungkinkan anak dapat tumbuh dan berkembang serta melakukan aktivitas secara optimal sesuai dengan usianya. Penanganan asma harus berdasarkan pengetahuan tentang anatomi, fisiologi serta imunopatologi asma. Selanjutnya harus dipahami juga bagaimana perjalanan penyakit asma, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya asma, serta farmakokinetik obat-obatan asma yang dipergunakan, sehingga para dokter dapat memberikan petunjuk yang benar kepada penderita asma dan keluarganya. Read more…

Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12

DEFINISI

Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12 (anemia pernisiosa) adalah anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12. Selain zat besi, sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah. Jika kekurangan salah satu darinya, bisa terjadi anemia megaloblastik.

Pada anemia jenis ini, sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnormal (megaloblas). Sel darah putih dan trombosit juga biasanya abnormal.

Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap vitamin tersebut. Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk mengobati kanker (misalnya metotreksat, hidroksiurea, fluorourasil dan sitarabin).

PENYEBAB
Penyerapan yang tidak adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan anemia pernisiosa. Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging dan dalam keadaan normal telah diserap di bagian akhir usus halus yang menuju ke usus besar (ilium).

Supaya dapat diserap, vitamin B12 harus bergabung dengan faktor intrinsik (suatu protein yang dibuat di lambung), yang kemudian mengangkut vitamin ini ke ilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam aliran darah. Tanpa faktor intrinsik, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang melalui tinja. Read more…

Parotitis epidemika

Tidak semua orang yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit (subclinical). Namun demikian mereka sama dengan penderita lainnya yang mengalami keluhan, yaitu dapat menjadi sumber penularan penyakit tersebut.

Masa tunas (masa inkubasi) penyakit Gondong sekitar 12-24 hari dengan rata-rata 17-18 hari. Adapun tanda dan gejala yang timbul setelah terinfeksi dan berkembangnya masa tunas dapat digambarkan sdebagai berikut : Read more…

Categories: Parotitis epidemika

Tatalaksana Hipoglikemi pada Neonanus

1.   Memantau Kadar Glukosa Darah

Semua neonatus berisiko tinggi harus ditapis:

  • Pada saat lahir
  • 30 menit setelah lahir
  • Kemudian setiap 2-4 jam selama 48 jam atau sampai pemberian minum berjalan baik dan kadar glukosa normal tercapai

2.   Pencegahan Hipoglikemia

  • Menghindari faktor risiko yang dapat dicegah (misalnya hipotermia).
  • Pemberian makan enteral merupakan tindakan preventif tunggal paling penting
  • Jika bayi tidak mungkin menyusui, mulailah pemberian minum dengan menggunakan sonde dalam waktu 1-3 jam setelah lahir.
  • Neonatus yang berisiko tinggi harus dipantau nilai glukosanya sampai asupan penuh dan tiga kali pengukuran normal yaitu berada di atas  45 mg/dl (diperiksa sebelum pemberian minum).
  • Jika ini gagal, terapi IV  dengan glukosa 10% harus dimulai dan kadar glukosa dipantau. Read more…

EOSINOFILIA

Pada keadaan :

1. Alergi : asma bronkial, urtikaria, rinitis, sensistivitas obat >>

2. Parasit : amubiasis, cacing

3. Kulit : psoriasis, pemfigus, dermatitis

4. Darah : LGK, PV, anemia pernisiosa

5. Penyakit lain : poliarteritis nodosa, hodgkin

Categories: EOSINOFILIA

Roseola Infantum

Roseola Infantum merupakan penyakit yang cukup sering ditemukan pada anak disebabkan oleh virus Herpesvirus 6 dan 7.

Disebut Infantum karena umumnya mengenai bayi baru lahir (infant), terutama yang usianya di bawah 2 tahun (biasa pada usia 6-18 bulan).

Roseola terkadang salah didiagnosis sebagai campak atau campak jerman karena gambaran dan perjalanan penyakit yang hampir mirip dengan kedua penyakit tersebut. Penyakit ini disebut juga dengan eksantem subitum (yang artinya kemerahan yang timbul mendadak) dan menular melalui cairan saliva/ludah.

Mengapa roseola infantum terkadang disebut juga dengan sixth disease ?

Roseola infantum disebut juga sixth disease yang menggambarkan bahwa penyakit ini merupakan penyakit ke-6 yang menunjukkan adanya tanda dan gejala kemerahan pada anak yang hampir sama. Penyakit-penyakit tersebut adalah:

  • First disease: Campak
  • Second disease: Penyakit Duke
  • Third disease: Campak Jerman
  • Fourth disease: Penyakit Scarlet
  • Fifth diseose: Eritema Infeksiosum
  • Sixth disease: Roseola Infantum

Apa tanda dan gejala Roseola Infantum pada anak?

Tanda dan gejala Roseola Infantum pada bayi cukup khas. Perjalanan penyakit tersebut adalah:

  1. Demam
    Pada awal penyakit timbul demam. Demam biasanya tinggi (>39°C) yang berlangsung sekitar 3 hari dan terkadang disertai dengan badan lemah. Bayi dapat terlihat baik-baik saja walaupun demamnya tinggi.
  2. Ruam kemerahan
    Setelah demam turun, timbul ruam kemerahan di seluruh tubuh; terutama di daerah sekitar leher dan dada (bedakan dengan campak; ruam timbul ketika anak masih demam). Warnanya kemerahan seperti mawar sehingga disebut dengan roseola (rose artinya bunga mawar). Ruam tersebut tidak akan berubah menjadi nanah atau timbul cairan, serta tidak gatal, dan biasanya akan menghilang dalam waktu 1-2 hari. Read more…
Categories: Roseola Infantum

DIFTERI

Definisi
Suatu penyakit infeksi akut yang ditimbulkan oleh Corynebacterium diphtheriae
Ditandai dengan tanda khas pseudomembran, dan biasanya menyerang tracktus respiratorius dan  dilepaskannya eksotosin yang terutama menyerang jantung dan saraf tepi
Etiologi
Corynebacterium diphtheriae suatu batang gram-positif, tidak membentuk spora, non motil dan memberi gambaran seperti ‘Pentungan’
Diklasifikasikan menjadi kelompok mitis, gravis dan intermedius berdasarkan morfologi koloni, penampilan pada medium telurit, reaksi fermentasi, dan hemolisis
Etiologi
Strain basil difteri yang menghasilkan eksotosin bersifat lisogenik dengan faga β – konversi ‘temperate’
Epidemiologi
Pada higine dan sanitasi jelek dan fasilitas kesehatan yang kurang
Golongan umur yang sering terkena 2–10 tahun
Penularan melalui kontak langsung yaitu droplet dan tidak langsung melalui benda yang terkontaminasi Read more…
Categories: DIFTERI

DIARE KARENA Bakteri

•Toksin –>
•Tr.digestivus –>
•Mrgsg epitel usus –>
•Peningk.aktiv adenil siklase –>
•Mrgsg sekresi H2O,Na,K,Cl, bicarbonat –>
•hiperosmolar –>
•hiperperistaltik usus –>
•Diare sekretorik
Categories: DIARE KARENA Bakteri

DIARE KARENA VIRUS

•SAL.DIGESTIF –>
•EPITEL USUS HALUS –>
•MERUSAK BAG APIKAL VILI USUS HALUS –>
•DIGANTI DGN BAG KRIPTA Y BELUM MATANG –>
•FS.PENYERAPAN AIR DAN MAKANAN KURANG BAIK –>
•DIARE OSMOTIK
Categories: DIARE KARENA VIRUS

PROSEDUR PENATALAKSANAAN ASFIKSIA NEONATORUM

1. Definisi
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan adekuat

PATOFISIOLOGI :
Dapat disebabkan oleh semua keadaan yang menyebabkan gangguan pertukaran O2 dan CO2, sehingga berakibat :
- O2 tidak cukup dalam darah yang disebut hipoksia
- CO2 tertimbun dalam darah yang disebut hipercapnea.
Sebagai akibatnya dapat menyebabkan asidosis tipe respiratorik atau campuran dengan asidosis metabolik karena mengalami metabolisme anaerob, juga dapat mengalami hipoglikemia.

GEJALA KLINIK :
- Pernapasan terganggu
- Detik jantung menurun
- Refleks/ respons bayi melemah
- Tonus otot menurun
- Warna kulit biru atau pucat.

DIAGNOSA :
Dengan menilai Apgar Score pada menit ke I
Hasil Apgar Score : 0 – 3 : Asfiksia Berat
Hasil Apgar Score : 4 – 6 : Asfiksia Sedang
Hasil Apgar Score : 7 – 10: Normal. Read more…

APGAR Score

0 1 2
Appearance (color) Blue or pale Pink body/blue extremities Completely pink
Pulse Absent < 100 >100
Grimace No response Grimace Cough/sneeze
Activity (tone) Limp Some flexion Active motions
Respiration Absent Slow, irregular Good, crying
Categories: APGAR Score

Cara menilai status gizi

Macam2 cara:
1.NCHS(WHO): menurut BB/U, menurut TB/U

Baik, kurang, buruk

KEP/PEM I,II,III

2.Harvard: BB/U, TB/U, LLA/U, BB/TB,

LLA/TB

3.Index Quatelet: BB(kg)/TB2(cm) x 100%

Obeis, N, cukup, KEP

4.  Z Score: BB/U, TB/U dan BB/TB (tabel) Read more…

RESUSITASI NEONATUS

•ALUR RESUSITASI

•Penilaian; 5 item

- bersih dari mekoneum?

- bernapas atau menangis?

- tonus otot baik?

- warna kulit kemerahan?

- cukup bulan?

•Langkah Awal / jalan napas

- Beri kehangatan

- Posisikan kepala*, bersihkan jalan napas

bila perlu

- Keringkan bayi, beri rangsang untuk bernapas, posisikan lagi

- Beri oksigen bila perlu

•Penilaian;

- pernapasan

- frekuensi jantung

- warna kulit

•Breathing

bila dari penilaian; apnu atau FJ < 100/m

- Berikan ventilasi tekanan positif/VTP selama 30 detik, kemudian evaluasi VTP 40-60/m, 20-30/30 detik

•Sirkulasi

Dilakukan bila evaluasi setelah VTP 30 detik, FJ <  60/m

- Lakukan kompresi dada selama 30 detik bersamaan dgn VTP

1 kegiatan terdiri dari 3 kompresi 1 VTP

1 menit 90 kompresi 30 VTP

30 detik 45 kompresi 15 VTP Read more…

Categories: RESUSITASI NEONATUS

Hiperbilirubinemia

•Hiperbilirubinemia pada neonatus adalah peningkatan kadar bilirubin serum pada neonatus.
•Dua jenis :

- Hiperbilirubinemia tidak terkonyugasi/indirek

- Hiperbilirubinemia terkonyugasi/direk

•Jenis paling umum:

- peningkatan kadar bilirubin tidak terkonyugasi/indirek,

- berupa ikterus yang nyata pada minggu   pertama kehidupan.

Tidak terkonyugasi:

•Bilirubin indirek
•Tidak larut dalam air
•Berikatan dengan albumin untuk transport
•Komponen bebas larut dalam lemak
•Komponen bebas bersifat toksik untuk otak

Terkonyugasi:

•Bilirubin direk
•Larut dalam air
•Tidak larut dalam lemak
•Tidak toksik untuk otak Read more…
Categories: Hiperbilirubinemia

Anemia Defisiensi Besi

Organ sasaran Gejala klinis
1.Otak Pusing, kunang-kunang,

Ngantuk, lesu

Konsentrasi belajar menurun

2. Jantung Takikardi, nadi seler. Suara vasa spontan. Bising anorganis
3. Otot Besar dan kekuatan berkurang. Prestasi kerja menurun

Organ sasaran Gejala klinis
4. Gastrointestinal Mual, Obstipasi, Kembung
5. Kulit dan mukosa Pucat, vili lidah tipis, halus.

Glosistis, stomatitis

6. Kuku Koilonikia, kuku sendok

•ANEMIA DEFISIENSI BESI Read more…

MORBILI-Campak-Rubeola

Definisi

Morbili adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu :

a. Stadium kataral,

b. Stadium erupsi,

c. Stadium konvalesensi(3).

Etiologi

Penyebabnya adalah virus morbili (famili RNA paramyxovirus) yang terdapat dalam secret nasofaring dan darah.
Cara penularan dengan droplet dan kontak. Read more…
Categories: MORBILI

GLOMERULONEFRITIS KRONIK (GNK)

Definisi :

Kelainan hematologis dan proteinuria menetap.
Eksaserbasi berulang terhadap GNA (beberapa bulan/tahun).

Gejala Klinik :

Tanpa gejala gagal ginjal yang spesifik
Edema sedikit
Suhu subfebril
Fase nefrotik :

Edema tambah jelas

Ratio Alb/Glob. terbalik

Kolesterol meningkat

Fungsi Ginjal dapat menurun : kadar ureum dan kreatinin meningkat Read more…

Glomerulonefritis Akut (GNA)

Definisi :

-GN Ialah suatu reaksi imunologik terhadap bakteri/virus tertentu pada jaringan ginjal.
-Sering akibat infeksi kuman streptococcus

Perjalanan klinis GNA : dapat akut maupun kronis.

Glomerulonefritis Akut (GNA)

Insidens :

¯  2/3 GNA pada anak berumur antara 3-7 tahun.

¯  Penderita pria > wanita

¯  Jarang pada umur < 3 tahun

Etiologi :

² b Streptococcus hemoliticus Gol. A tipe 12 dan 25

² Infeksi ekstra-renal : Traktus Respiratorius bagian atas atau infeksi pada kulit (piodermia).

Gejala Klinik

vEdema pada kelopak mata dan atau tungkai
vHematuria (kencing berwarna merah daging)
vPanas
vOliguria/Anuria
vHipertensi
vGejala penyerta dapat disertai :  muntah, anoreksia, konstipasi atau diare

Hipertensi : Read more…

Klasifikasi Hipertensi menurut kelompok umur

Kelompok umur Hipertensi bermakna Hipertensi berat
Neonatus 7 hari Td S > 96 Td S > 106
8 – 30 hari Td S > 104 Td S > 110
Bayi < 2 tahun

Td S > 112

Td D > 74

Td S > 118

Td D > 84

Anak 3-5 tahun Td S > 116

Td D > 76

Td S > 124

Td D > 84

Anak 6-9 tahun Td S > 126

Td D > 78

Td S > 84

Td D > 130

Anak 10 –12 Td S > 126

Td D > 82

Td S > 134

Td D > 90

Remaja 13-15 tahun Td S > 136

Td D > 86

Td S > 144

Td D > 92

Remaja 16-18 tahun Td S > 142

Td D > 92

Td S > 150

Td D > 98

Penilaian derajat serangan asma 2

Frekuensi napas Takipnu Takipnu Takipnu Bradipnu
Pedoman nilai baku frekuensi napas pada anak sadar :

Usia Frekuensi napas normal

< 2 bulan                                                  < 60x/ menit

2 – 12 bulan                                             < 50x/ menit

1 – 5 tahun                                               < 40x/ menit

6 – 8 tahun                                               < 30x/ menit

Frekuensi nadi Normal Takikardi Takikardi Bradikardi
Pedoman nilai baku frekuensi nadi pada anak :

Usia Frekuensi napas normal

2 – 12 bulan                                            < 160x/ menit

1 – 2 tahun                                              < 120x/ menit

3 – 8 tahun                                              < 110x/ menit

Pulsus paradoksus Tidak ada

< 10 mmHg

Ada

10 – 20 mmHg

Ada

> 20 mmHg

Tidak ada, tanda kelelahan otot respiratorik
PEFR/FEV1

- Pra bronkodilator

- Pasca bronkodil.

Persen nilai dugaan/ persen nilai terbaik
> 60%

> 80%

40 – 60%

60 – 80%

< 40%

< 60%, respons kurang dari 2 jam

SaO2 > 95% 91 – 95% ≤ 90%
PaO2 Normal > 60 mmHg < 60 mmHg
PaCO2 < 45 mmHg < 45 mmHg > 45 mmHg

Penilaian derajat serangan asma

Parameter klinis, faal paru,laboratorium Ringan Sedang Berat Ancaman henti napas
Sesak (breathless) BerjalanBayi :

Menangis keras

BerbicaraBayi :

- Tangis pendek

dan lemah

- Kesulitan

menetek/ makan

-
IstirahatBayi :

Tidak mau

minum/ makan

Posisi Bisa berbaring Lebih suka duduk Duduk bertopang tangan
Bicara Kalimat Penggal kalimat Kata – kata
Kesadaran Mungkin iritable Biasanya iritable Biasanya iritable Kebingungan
Sianosis Tidak ada Tidak ada Ada Nyata
Wheezing Sedang, sering hanya pada akhir ekspirasi Nyaring, sepanjang ekspirasi + inspirasi Sangat nyaring, terdengar tanpa stetoskop Sulit/ tidak terdengar
Penggunaan otot bantu respiratorik Biasanya tidak Biasanya ya Ya Gerakan paradoks

Torako-abdominal

Retraksi Dangkal, retraksi interkostal Sedang, ditambah

retraksi suprasternal

Dalam, ditambah napas cuping hidung Dangkal/

hilang

Klasifikasi derajat penyakit asma

Parameter klinis, kebutuhan obat, dan faal paru Asma episodik jarang Asma episodik sering Asma persisten( Asma berat )
Frekuensi serangan < 1x / bulan > 1x / bulan sering
Lama serangan < I mingu > 1 minggu Hampir sepanjang tahun, tidak ada remisi
Intensitas serangan Biasanya ringan Biasanya sedang Biasanya berat
Diantara serangan Tanpa gejala Sering ada gejala Gejala siang dan malam
Tidur dan aktivitas Tidak terganggu Sering terganggu Sangat terganggu
Pemeriksaan fisis di luar serangan Normal( tidak ditemukan kelainan) Mungkin terganggu( ditemukan kelainan ) Tidak pernah normal
Obat pengendali( Anti inflamasi ) Tidak perlu Perlu Perlu
Uji faal paru( di luar serangan ) PEF/FEV1 > 80% PEF/FEV1 60 – 80 % PEF/FEV1 < 60%
Variabilitas faal paru( bila ada serangan ) Variabilitas > 15% Variabilitas > 30% Variabilitas > 50%

Simple Febrile Convulsion/Typical (Living Stone Criteria)

•Child age 6 m – 4 y

•Generalized Convultion
•< 15 min
•On the first 16 h after febris
•EEG N
•Neurologic N
•Frequenty < 4 times on 1 y

Jitteriness dd Kejang

Jitteriness seringkali salah didiagnosis sebagai kejang klonik. Secara klinis jitteriness berbeda dari kejang klonik menurut aspek berikut ini :

•Amplitudo fase fleksi dan ekstensi sama.
•Neonatus umumnya sadar, tidak ada gerakan atau kerlingan mata yang abnormal.
•Fleksi pasif atau memindahkan posisi ekstremitas bisa menghilangkan tremor. Tremor timbul karena rangsangan taktil meskipun mungkin spontan.
•Tidak ada abnormalitas EEG.
•Seringkali terlihat pada neonatus dengan hipoglikemi, penghentian obat, hipokalsemia, hipotermia dan pada neonatus kecil untuk masa kehamilan (KMK).
•Secara spontan menghilang dalam waktu beberapa minggu. Read more…

RESUSITASI PADA NEONATUS

TUMOR WILMS

DEFINISI

•Disebut juga nefroblastoma
•Berupa massa yang dapat ditemukan pada satu atau kedua ginjal
•Paling sering pada anak usia 2-3 tahun
•Frekuensi anak laki-laki = anak perempuan
•Metastasis ke paru, hati dan ginjal
•PATOLOGI
1.Soliter, batas tumor & ginjal jelas, berkapsul
2.Adanya perdarahan selalu mendorong ginjal keluar dari garis batas ginjal
3.Jaringan normal selalu tertekan jaringan tumor
4.Makroskopis ginjal tampak membesar & keras
5.Histo-patologis : gabungan abortif glomerulus, otot polos, otot serat lintang, tulang rawan dan tulang Read more…
Categories: TUMOR WILMS

Limfoma Hodgkin

Manifestasi klinik(1)
Pembengkakan kelenjar getah bening, tidak nyeri, padat, batas tegas. Daerah yang terkena biasanya leher (60%-70%), aksila (10%-15%), dan inguinal (6%-12%).
Gejala- gejala yang biasa ditandai oleh obstruksi jalan napas, effusi pleura dan pericardial, kelainan hepatoselular, nefrotik sindrom(jarang).
Gejala spesifik yang lain: demam yang tidak bisa terjelaskan, berat badan turun, dan keringat pada malam hari.
Splenomegali.
Gangguan di daerah mediastinum. Read more…
Categories: Limfoma Hodgkin