Apotek Miami (Minimarket Vegan)

Pusat Makanan Sehat Organik & Natural : https://shopee.co.id/minimarketvegan

Kita Suarakan Millennium Development Goals Demi Pencapaiannya di Indonesia

Tinggalkan komentar


Apa yang anda inginkan untuk masa depan?

Bagi anda, jawabannya mungkin keluarga yang sehat dan bahagia, juga pendidikan bermutu bagi anak-anak.

Selain itu, anda tentu saja berharap mampu menyediakan sandang dan pangan berkecukupan serta memiliki rumah idaman. Anda pun dipastikan mendambakan kebebasan, yaitu hidup dalam sebuah negeri bernama Indonesia yang demokratis, di mana kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan mengatur kehidupan, dijamin oleh undang undang.


Bukankah itu yang diinginkan semua orang?

Rasanya ya. Menggembirakan bahwa saat ini semakin banyak orang Indonesia menjadi lebih

makmur. Dibandingkan sekitar 60 tahun lalu ketika Republik ini didirikan kita telah mengalami

kemajuan pesat. Kita menjadi lebih kaya dengan rata-rata penghasilan lima kali lipat penghasilan

saat itu.

Tapi, saya tidak merasa sekaya itu

Boleh jadi tidak. Ini hanyalah ukuran rata-rata. Sebagian dari kita memang lebih beruntung

dibandingkan yang lain. Namun, saat ini, sudah lebih banyak orang yang menjadi semakin

sejahtera. Bukan sekedar dari ukuran penghasilan. Coba perhatikan berbagai kemajuan di sekitar

anda. Kini tersedia lebih banyak jalan, sekolah, pusat kesehatan dan tempat-tempat hiburan.

Juga semakin banyak polusi, kebisingan, dan korupsi

Memang tidak semuanya menjadi lebih baik. Terkadang, situasinya malah memburuk. Mungkin

saja anda kehilangan pekerjaan, anak anda jatuh sakit atau rumah yang dilanda banjir. Situasi

pun bisa berubah menjadi buruk bagi negara secara keseluruhan. Sepuluh tahun lalu, misalnya,

terjadi krisis moneter. Tiba-tiba banyak yang jatuh miskin. Meskipun demikian, dalam menapaki

periode panjang sejak kemerdekaan, nampaknya Indonesia telah menuju arah yang tepat, terlihat

dengan capaian ‘pembangunan manusia’ berupa peningkatan penghasilan dan perbaikan

pendidikan. Orang Indonesia saat ini pun, hidup lebih lama dan lebih sehat.

Bila berhasil, mengapa Indonesia masih miskin?

Sebenarnya, Indonesia sudah dikategorikan sebagai negara “berpenghasilan menengah”. Hal

ini dikarenakan penghasilan masyarakat Indonesia berdasarkan Gross National Index (GNI), yang

dihitung dari nilai pasar total dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode

tertentu, penghasilan per kapita Indonesia tahun 2007 adalah $ 1.420. Nilai ini setara dengan Rp.

1.077.000 per bulan. Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masuk urutan ke-139 dari

209 negara di dunia (World Bank GNI, 2007).

Urutan ke-139? Kedengarannya tidak terlalu bagus.

Akan lebih baik kalau Indonesia di urutan yang lebih tinggi. Namun urutan tidak terlalu penting.

Terkadang ada negara yang berkembang cepat, sementara yang lain lebih lambat. Namun,

yang perlu dicermati adalah apa yang terjadi di Indonesia. Apakah semakin banyak penduduknya

keluar dari kemiskinan? Lalu, semakin banyakkah yang mampu membaca dan menulis? Atau, apakah

semakin banyak anak yang diimunisasi sehingga

Bincang-Bincang tentang MDGs

kebal campak, cacar air atau polio? Selanjutnya, apakah rata-rata kita berumur lebih panjang?

Jawabannya?

Ya, dibandingkan 60 tahun lalu. Mereka yang lahir tahun 1960an rata-rata hanya punya harapan

hidup 41 tahun. Namun anak-anak kita yang lahir pada 2007, bisa berharap untuk hidup sepanjang

68 tahun. Dulu, pada tahun 1960an, hanya sekitar 30% penduduk yang melek huruf. Kini, hampir

semua remaja yang memasuki usia dewasa, paling tidak memiliki ketrampilan dasar baca tulis. Namun

tentu saja masih banyak yang harus dilakukan. Jutaan penduduk masih hidup dalam kemiskinan.

Sekitar seperempat dari anak-anak Indonesia pun masih kekurangan gizi. Juga terlalu banyak sekolah

di negara ini yang kekurangan buku, peralatan atau guru yang kompeten. Indonesia pun masih tetap

sebuah negara berkembang dan masih butuh waktu untuk mencapai standar-standar yang telah

dicapai banyak negara kaya.

Berapa lama lagi?

Tergantung bidangnya. Bagi pemerintah, biasanya lebih mudah memperbaiki bidang pendidikan

ketimbang kesehatan. Kemajuan dalam bidang pendidikan, umumnya berkat sekolah. Sementara

perbaikan di bidang kesehatan, diperlukan lebih dari sekedar pelayanan yang efektif. Faktor lain,

seperti apakah seseorang merokok, atau apakah ia memiliki pola makan baik, berperan cukup

signifikan. Meskipun demikian, apapun bidangnya, sangat mungkin untuk menetapkan target dan

mengupayakan pencapainnya. Misalnya, kita dapat menetapkan target bahwa setiap orang

bisa mendapatkan air minum yang bersih pada tahun tertentu. Begitu pula dalam pemberantasan

malaria, demam berdarah atau mengatasi banjir dan kemacetan. Tentu saja, ada hal yang

pencapaiannya memerlukan waktu lebih lama

dibandingkan yang lain.

Siapa yang menetapkan target-target tersebut?

Bisa siapa saja. Anda, misalnya, dapat menetapkan

target untuk komunitas, sekolah, atau puskesmas di sekitar anda. Begitu pula pemerintah daerah

dapat menetapkan target pembangunan pusat kesehatan baru, atau ruang kelas sekolah.

Pemerintah Pusat juga dapat melakukan hal yang sama. Sebenarnya, selama ini keduanya

melakukan hal tersebut. Sebagai contoh, ada target untuk mewujudkan pendidikan dasar 9

tahun pada 2009. Dan hal yang sama juga terjadi di tingkat global, khususnya melalui kesepakatan

internasional. Sejak sekitar 20 tahun terakhir telah banyak pertemuan internasional di mana Indonesia

bergabung dengan negara-negara di dunia untuk menetapkan target global terkait produksi pangan,

“pendidikan untuk semua” serta pemberantasan penyakit seperti malaria dan HIV/AIDS. Boleh jadi,

anda belum pernah mendengarnya, namun masih banyak target yang sepantasnya menjadi sasaran

bersama masyarakat dunia.

Baiklah, tapi apa urusan saya dengan berbagai hal tersebut?

Mungkin, anda merasa semua itu bukan urusan anda. Sementara negara negara anggota PBB,

termasuk Indonesia, berupaya mengusung sekian banyak tujuan dan sasaran pembangunan yang

belum tersosialisasikan. Pada September 2000, para pemimpin dunia bertemu di New York

mengumumkan ”Deklarasi Milenium” sebagai tekad

untuk menciptakan lingkungan “yang kondusif bagi pembangunan dan pengentasan kemiskinan”.

Dalam rangka mewujudkan hal ini, kemudian dirumuskan 8 (delapan) Tujuan Pembangunan

Milenium (Milennium Development Goals).

Hanya delapan?

Benar, hanya ada delapan tujuan umum, seperti kemiskinan, kesehatan, atau perbaikan posisi

perempuan. Namun, dalam setiap tujuan terkandung “target-target” yang spesifik dan terukur.

Terkait perbaikan posisi perempuan, misalnya, ditargetkan kesetaraan jumlah anak perempuan

dan laki-laki yang bersekolah. Begitu pula berapa

banyak perempuan yang bekerja atau yang duduk dalam parlemen. Delapan tujuan umum tersebut,

mencakup kemiskinan, pendidikan, kesetaraan

gender, angka kematian bayi, kesehatan ibu,beberapa penyakit (menular) utama, lingkungan

serta permasalahan global terkait perdagangan, bantuan dan utang.

Jadi, kita sedang berupaya memberantas kemiskinan dan penyakit. Rasanya, tak mungkin tercapai.

Tapi, perlu anda ketahui bahwa semua target yang

ditetapkan cukup realistis. Memang ada tujuan jangka panjang untuk memberantas kemiskinan

sampai tuntas. Namun tujuan MDGs hanya mematok target pengurangan kemiskinan menjadi

separuh. Sementara untuk HIV/AIDS, tujuannya

adalah meredam persebaran epidemik. Sedangkan

untuk pendidikan, targetnya lebih ambisius yaitu memastikan bahwa 100% anak memperoleh

pendidikan dasar 9 tahun.

Kapan semuanya ditargetkan terwujud?

Sebagian besar ditargetkan pada 2015, dengan patokan tahun 1990. Sebagai contoh, di Indonesia,

proposi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan pada 1990 berjumlah sekitar 15,1%.

Pada 2015, kita harus mengurangi angka tersebut

menjadi separuh, yaitu 7,5%.

Apa yang telah kita capai?

Terkait kemiskinan, belum banyak kemajuan yang dicapai. Pada 2007 ini, angka kemiskinan kita

(16,6%) masih lebih tinggi dibandingkan tahun 1990. Jadi, dalam delapan tahun ke depan,

banyak yang harus kita dilakukan. Sementara,

untuk beberapa tujuan MDGs yang lain, kita lebih berhasil. Sebagai contoh, angka partisipasi anak di

sekolah dasar, telah mencapai 94,7%. Namun, bila dicermati lebih rinci seperti terbaca dalam uraian

pada bab berikut, kondisi kemiskinan sebenarnya

tidak seburuk angka yang ditampilkan. Sebaliknya,

kondisi pendidikan tidak sebaik yang terungkap dalam angka tadi. Untuk mengetahuinya secara

rinci, silahkan baca laporan ini hingga selesai.

Tampaknya, saya perlu terus membaca

Menurut saya Ya. Isu-isu yang diusung MDG sangat penting, meskipun terkesan sederhana

karena terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya kuantitatif. Sebagai contoh, di sektor pendidikan,

adalah baik bahwa 94,7% anak-anak terdaftar di sekolah dasar. Namun ketika sekolah mereka

bocor, atau hanya memiliki buku dalam jumlah yang terbatas serta guru-guru yang kurang kompeten,

maka bersekolah tidak akan membuat anak-anak mendapatkan pendidikan bermutu. Sayangnya,

tujuan pendidikan dalam MDGs tidak mengkaji aspek kualitas.

Kenapa demikian?

Karena memang lebih sulit mengukur kualitas, meskipun tidak mustahil. Anda mungkin bisa

menilai kualifikasi para guru, atau hasil-hasil ujian, namun sulit untuk mengukur dan mendapatkan

informasi tentang kualitas. Hal ini, membawa

kita ke masalah besar berikutnya. Di negara yang

sangat besar dan beragam seperti Indonesia, angka nasional saja tidak terlalu bermanfaat.

Ambil contoh, usia harapan hidup secara nasional

adalah 68 tahun. Namun, bervariasi antara

73 tahun di Yogyakarta hingga 61 tahun di NTB. Selain itu, meskipun ada angka provinsi, belum

juga mengungkapkan kondisi kabupaten. Karena

itu, secara keseluruhan, data-data MDGs memiliki

keterbatasan.

Jadi, tidak terlalu berguna

Baiknya, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. MDGs bukan sekedar soal ukuran

dan angka-angka, namun lebih untuk mendorong tindakan nyata. Mencegah terjadinya kematian

ibu lebih penting daripada sekedar menghitung berapa banyak perempuan meninggal sewaktu

melahirkan. Yang penting tidak hanya menghitung berapa banyak anak Indonesia yang kekurangan

gizi, namun juga memastikan bahwa semua anak

memperoleh asupan yang cukup. Salah satumanfaat dari MDGs adalah berbagai persoalan

yang diusung menjadi perhatian berbagai pihak termasuk masyarakat secara luas. Namun, laporan

tentang kemajuan MDGs di tingkat kabupaten juga

sangat diperlukan.

Lalu buat apa ada laporan MDGs nasional?

Anggaplah ini sebagai titik awal, yaitu cara untuk memperkenalkan berbagai masalah tersebut

secara umum, sehingga masyarakat di seluruhnegeri yang luas ini dapat mulai berpikir tentang

penyelesaiannya. Sebuah laporan nasional juga

bisa dimasukkan ke dalam sistem internasional yang mencatat pencapaian-pencapaian MDGs

di seluruh dunia. Dan, karena anda masih terus

membaca, baiklah kita segera membahas Tujuan 1 dari MDGs.

Selanjutnya di

http://p3b.bappenas.go.id/docs/MDGs%20Report%202007/id_mdgr2007_advokasi_bahasa_191207_2.pdf

Iklan

Penulis: apotekmiami-drsatyadeng

I. Dokter Umum II. Akupunktur Medik III. Skin & Slimming Care IV. Program Pencegahan & Pemulihan Penyakit V. Lymphedema Center Indonesia VI. Catering Pencegah Penyakit VII. PIRT Kesehatan Vegan Kuartet Nabati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s