Apotek Miami (Minimarket Vegan)

Pusat Makanan Sehat Organik & Natural : https://shopee.co.id/minimarketvegan


Tinggalkan komentar

Perut Buncit Curiga Diabetes & Jantung

PENERAPAN pola makan tidak sehat pada masyarakat urban ternyata tak hanya mendatangkan masalah kolesterol tinggi, tapi juga menambah kadar lemak perut. Ujung-ujungnya, penyakit diabetes dan jantung siap mengancam kesehatan.

Gaya hidup tidak sehat membuat lingkar perut seseorang menjadi besar. Adapun faktor pemicunya adalah konsumsi kalori yang lebih banyak daripada yang dibutuhkan setiap harinya. Kelebihan kalori inilah yang tersimpan dalam tubuh dan menjadi lemak. Tahukah Anda, timbunan lemak di sekitar perut bisa mendatangkan penyakit diabetes melitus?

“Bila lingkaran perut lebih gede dari lingkaran bokong, membentuk pra-diabetes. Jangan sampai lingkar perut lebih besar dari lingkar bokong,” kata Dr Antono Sutandar SpJP FACC FSCAI FAMS FIHA kepada okezone dalam acara forum media yang diadakan Siloam Hospitals di Le Seminyak, Pacific Place, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Perut buncit juga bisa berpengaruh pada pernapasan. Penimbunan lemak yang berlebihan di bawah diafragma dan di dalam dada, bisa menekan paru-paru. Hal ini menimbulkan gangguan pernapasan dan sesak napas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas ringan. Karena lemak membuat otot jadi lemah, di sinilah pentingnya olahraga yang tepat. Apalagi, perut buncit juga lekat dengan risiko penyakit jantung. Baca lebih lanjut

Iklan


Tinggalkan komentar

Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang Glaukoma

Diagnosis

Didapatkan dengan cara pemeriksaan khusus untuk glaucoma, yaitu :

1. Ketajaman penglihatan

Pada glaucoma sudut terbuka, kerusakan saraf dimulai dari tepi lapang pandang dan lambat laun meluas ketengah. Dengan demikian penglihatan sentral (fungsi macula) bertahan lama walaupun penglihatan perifer sudah tidak ada, sehingga penderita seolah-olah melihat seperti malalui teropong (tunnel vision) dan visusnya dapat tetap 5/5.

2. Tonometri

Cara yang cermat adalah dengan menggunakan Tonometer Schiotz. Cara pemeriksannya adalah penderita berbaring tanpa bantal, kemudian matanya ditetesi pantocain 1-2% satu kali. Suruh pasien melihat ibu jarinya yang diacungkan didepan matanya dan letakkan tonometer di puncak kornea. Tekanan normalnya antara 10-20 mmHg atau 7/7,5-10,5/7,5. Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Glaukoma & Katarak

GLAUKOMA

Definisi

Definisi glaukoma yang digunakan saat ini adalah keadaan patologis dimana terjadi kerusakan progresif dari akson ganglion sel saraf optik yang menyebabkan gangguan lapangan pandang yang berhubungan dengan tekanan intraokular.

 

 

Fisiologi dan Patofisiologi

Aqueous diproduksi oleh epitel tidak berpigmen dari prosesus siliaris, yang merupakan bagian anterior dari badan siliar. Aqueous humor kemudian mengalir melalui pupil ke dalam kamera okuli anterior, memberikan nutrisi kepada lensa, iris dan kornea. Drainase aqueous melalui sudut kamera anterior yang mengandung jaringan trabekular dan kanal Schlemm dan menuju jaringan vena episklera.

Perjalanan aliran aqueous humor 80-90% melalui jaringan trabekular, namun terdapat 10% melalui ciliary body face, yang disebut jalur uveoskleral.

Berdasarkan fisiologi dari sekresi dan ekskresi cairan aqueous, maka terdapat tiga faktor utama yang berperan dalam meningkatnya tekanan intraokular, antara lain      : Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

TRIGEMINAL NEURALGIA

Usia pertengahan ke atas, lebih banyak pd wanita
Nyeri mendadak, berat, pd distribusi N. trigeminus
Pencetus : mengunyah, minum, bicara, sikat gigi, bercukur, sentuhan, angin
Etiologi :  perubahan degeneratif pd gln trigeminal ( Gasseri ), tekanan pemb. drh / tumor pd N. V, demyelinisasi, pasca herpes zoster
Terapi : – carbamazepine, gabapentin
– inj. Alkohol / gliserol pd gln trigeminal
– operasi


Tinggalkan komentar

GUILLAIN – BARRE’ SYNDROM

1. Seminggu yang lalu flu,3 hari yang lalu baal dan kesemutan pada kedua betis, tungkai bawah,mulai terasa berat tetapi masih bisa berjalan.2 hari yang lalu tungkai bertambah berat dan tidak bisa berjalan,lalu pasien berobat ke tukang urut. Pada sore harinya,mulut pasien mulai mencong. Satu hari sebelum ke rumah sakit,tangan pasien mulai lemah. Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Malaria

Malaria
Pengertian Penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium falsiparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, atau Plasmodium malariae dan ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles
Diagnosis Anamnesis: riwayat demam intermiten atau terus menerus, riwayat dari atau pergi ke daerah endemik malaria, trias malaria (keadaan menggigil yang diikuti dengan demam dan kemudian timbul keringat yang banyak; pada daerah endemik malaria, trias malaria mungkin tidak ada, diare dapat merupakan gejala utama)

PF: konjungtiva pucat, sklera ikterik, splenomegali

Lab: sediaan darah tebal dan tipis ditemukan plasmodium,  serologi malaria (+) [sebagai penunjang]

Malaria berat: ditemukannya P. falciparum dalam stadium aseksual disertai satu atau lebih gejala berikut:

  1. Malaria serebral: koma dalam yang tak dapat/sulit dibangunkan dan bukan disebabkan oleh penyakit lain
  2. Anemia berat (normositik) pada keadaan hitung parasit >10.000/ul; (Hb <5 g/dl atau hematokrit <15%)
  3. Gagal ginjal akut (urin <400 ml/24 jam pada orang dewasa, atau <12 ml/kgBB pada anak-anak setelah dilakukan rehidrasi disertai kreatinin >3 mg/dl)
  4. Edema paru/acute respiratory distress syndrome (ARDS)
  5. Hipoglikemia (gula darah <40 mg/dl)
  6. Gagal sirkulasi atau syok (tekanan sistolik <70 mmHg, disertai keringat dingin atau perbedaan temperatur kulit-mukosa >1°C)
  7. Perdarahan spontan dari hidung, gusi, saluran cerna, dan/atau disertai gangguan koagulasi intravaskular
  8. Kejang berulang lebih dari 2 kali dalam 24 jam setelah pendinginan pada hipertermia
  9. Asidemia (pH 7,25) atau asidosis (bikarbonat plasma <15 mEq/l)
  10. Hemoglobinuria makroskopik oleh karena infeksi malaria akut (bukan karena efek samping obat antimalaria pada pasien dengan defisiensi G6PD)
  11. Diagnosis pasca-kematian dengan ditemukannya P. Falciparum yang padat pada pembuluh darah kapiler jaringan otak

Beberapa keadaan yang juga digolongkan sebagai malaria berat sesuai dengan gambaran klinis daerah setempat:

1.  Gangguan kesadaran

2.  Kelemahan otot tanpa kelainan neurologis (tak bisa duduk/jalan)

3.  hiperparasitemia >5% pada daerah hipoendemik atau daerah tak stabil malaria

4.  Ikterus (bilirubin >3 mg/dl)

5.  Hiperpireksia (temperatur rektal >40°C)

Diagnosis Banding Infeksi virus, demam tifoid toksik, hepatitis fulminan, leptospirosis, ensefalitis

Pemeriksaan Penunjang

Darah tebal dan tipis malaria, serologi malaria, DPL, tes fungsi ginjal, tes fungsi hati, gula darah, UL, AGD, elektrolit, hemostasis, rontgen toraks, EKG
Terapi
  1. I. Infeksi P. vivax atau P. ovale
    1. Daerah sensitif klorokuin:

Klorokuin basa 150 mg:

Hari I: 4 tablet + 2 tablet  (6 jam kemudian), hari II&III: 2 tablet atau Hari I&II: 4 tablet, hari III: 2 tablet

Terapi radikal: primakuin 1 x 15 mg selama 14 hari

Bila gagal dengan terapi klorokuin à kina sulfat 3 x 400-600 mg/hari selama 7 hari

  1. Daerah resisten klorokuin

Klorokuin basa 150 mg:

Hari I: 4 tablet + 2 tablet  (6 jam kemudian), hari II&III: 2 tablet atau Hari I&II: 4 tablet, hari III: 2 tablet ditambah SP 3 tablet (dosis tunggal)

Terapi radikal: primakuin 1 x 15 mg selama 14 hari

II. Infeksi P. falciparum ringan/sedang, infeksi campur P.  falciparum dan P. vivax

–          Klorokuin basa 150 mg:

Hari I: 4 tablet + 2 tablet  (6 jam kemudian), hari II&III: 2 tablet atau Hari I&II: 4 tablet, hari III: 2 tablet

–          Bila perlu terapi radikal:

Falciparum: primakuin 45 mg (dosis tunggal); infeksi campur: primakuin 1 x 15 mg selama 14 hari

à bila resisten dengan pengobatan tersebut: SP 3 tablet (dosis tunggal) atau kina sulfat 3 x 400-600 mg/hari selama 7 hari

III. Malaria berat

–          Drip kina HCl 500 mg (10 mg/kgBB) dalam 250-500 ml D5% diberikan dalam 6-8 jam (maksimum 2000 mg) dengan pemantauan EKG dan kadar gula darah tiap 8-12 jam sampai pasien dapat minum obat per oral atau sampai hitung parasit malaria sesuai target (total pemberian parenteral dan per oral selama 7 hari dengan dosis per oral 10 mg/kgBB/24 jam diberikan 3 kali sehari)

–          Pengobatan dengan kina dapat dikombinasikan dengan tetrasiklin 94 mg/kgBB diberikan 4 kali sehari atau doksisiklin 3 mg/kgBB sekali sehari

Perhatian: SP tidak boleh diberikan pada bayi dan ibu hamil. Primakuin tidak boleh diberikan pada ibu hamil, bayi, dan penderita defisiensi G6PD. Klorokuin tidak boleh diberikan dalam keadaan perut kosong. Pada pemberian kina parenteral, bila obat sudah diterima selama 48 jam tetapi belum ada perbaikan dan atau terdapat gangguan fungsi ginjal, maka dosis selanjutnya diturunkan sampai 30-50%. Kortikosteroid merupakan kontraindikasi pada malaria serebral.

Pemantauan pengobatan: hitung parasit minimal tiap 24 jam, target hitung parasit pada H1 50% H0 dan H3 <25% H0. Pemeriksaan diulang sampai dengan tidak ditemukan parasit malaria dalam 3 kali pemeriksaan berturut-turut.

Pencegahan: klorokuin basa 5 mg/kgBB, maksimal 300 mg/minggu diminum tiap minggu sejak 1 minggu sebelum masuk daerah endemik sampai dengan 4 minggu setelah meninggalkan daerah endemik atau doksisiklin 1,5 mg/kgBB/hari dimulai 1 (satu) hari sebelum pergi ke daerah endemis malaria s/d 4 minggu setelah meninggalkan daerah endemis

Komplikasi Malaria berat, renjatan, gagal napas, gagal ginjal akut
Prognosis Malaria falsiparum ringan/sedang, malaria vivax, atau malaria ovale: bonam. Malaria berat: dubia ad malam
Wewenang RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam

RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Unit yang menangani RS pendidikan : Departemen Penyakit Dalam – Divisi Tropik Infeksi

RS non pendidikan : Bagian Penyakit Dalam

Unit terkait RS pendidikan : Divisi  ginjal-hipertensi, divisi pulmonologi dan Bagian Neurologi

RS non pendidikan : Bagian Neurologi

Referensi SPM PAPDI


Tinggalkan komentar

Polisitemia Vera

POLISITEMIA VERA
Pengertian Polisitemia merupakan kelainan sistem hemopoesis yang dihubungkan dengan peningkatan jumlah dan volume sel darah merah (eritrosit) secara bermakna mencapai 6-10 juta/ml di atas ambang batas nilai normal dalam sirkulasi darah, tampa mempedulikan jumlah leukosit dan trombosit. 

Disebut polisitemia vera bila sebagian populasi eritrosit berasal dari suatu klon sel induk darah yang abnormal (tidak membutuhkan eritropoetin untuk proses pematangannya). Berbeda dengan polisitemia sekunder dimana eritropoetin meningkat secara fisiologis sebagai kompensasi atas kebutuhan oksigen yang meningkat atau eritropoetin meningkat secara non fisiologis pada sindrom paraneoplastik sebagai manifestasi neoplasma lain yang mensekresi eritropoetin.

Perjalanan klinis :

  1. Fase eritrositik atau fase polisitemia

Berlangsung 5-25 tahun, membutuhkan flebotomi teratur untuk mengendalikan viskositas darah dalam batas normal.

  1. Fase burn out atau spent out

Kebutuhan flebotomi menurun jauh, kesannya seperti remisi, kadang timbul anemia.

  1. Fase mielofibrotik

Bila terjadi sitopenia dan splenomegali progresif, menyerupai mielofibrosis dan metaplasia mieloid

  1. Fase terminal
Diagnosis International Polycythemia Study Group II

Diagnosis polisitemia dapat ditegakkan jika memenuhi criteria

    1. A1+A2+A3 atau
    2. A1+A2+ 2 kategori B

Kategori A

  1. Meningkatnya massa sel darah merah diukur dengan krom radioaktif Cr-51. Pada pria ³ 36 ml/kg dan pada wanita ³ 32 ml/kg.
  2. Saturasi oksigen arterial ³ 92% (pada polisitemia vera, saturasi oksigen tidak menurun)
  3. Splenomegali

Kategori B

  1. Trombositosis: trombosit ³ 400.000/ml
  2. Leukositosis: leukosit ³ 12.000/ml (tidak ada infeksi)
  3. Leukosit alkali fosfatase (LAF) score meningkat > 100 (tanpa ada panas/infeksi)
  4. Kada vitamin B12 > 900 pg/ml dan atau UB12BC dalam serum ³ 2200 pg/ml
Diagnosis banding Polisitemia sekunder akibat saturasi oksigen arterial rendah atau eritropoetin meningkat akibat manifestasi sindrom paraneoplastik
Pemeriksaan penunjang Laboratorium: eritrosit, granulosit, trombosit, kadar B12 serum

Pemeriksaan sumsum tulang untuk menyingkirkan kelainan mieloproliferatif yang lain.

Terapi Prinsip pengobatan :

  1. Menurunkan viskositas darah sampai ke tingkat normal dan mengendalikan eritropoesis dengan flebotomi
  2. Menghindari pembedahan elektif pada fase eritrositik/ polisitemia yang belum terkendali
  3. Menghindari pengobatan berlebihan
  4. Menghindari obat yang mutagenic, teratogenic dan berefek sterilisasi pada pasien usia muda
  5. Mengontrol panmielosis dengan fosfor radioaktif dosis tertentu atau kemoterapi sitostatik pada pasien di atas 40 tahun bila didapatkan:

–          trombositosis persisten diatas 800.000/ml terutama jika disertai gejala trombosis

–          leukositosis progresif

–          splenomegali simtomatik atau menimbulkan sitopenia problematic

–          gejala sistemik yang tidak terkendali seperti pruritus yang sukar dikendalikan, penurunan berat badan atau hiperurikosuria yang sulit diatasi.

A. Flebotomi

Pada PV tujuan prosedur flebotomi adalah mempertahankan hematokrit 42% pada wanita dan 47% pada pria untuk mencegah timbulnya hiperviskositas dan penurunan shear rate. Indikasi flebotomi terutama untuk untuk semua pasien pada permulaan penyakit dan yang masih dalam usia subur.

Indikasi:

  1. Polisitemia vera fase polisitemia
  2. polisitemia sekunder fisiologis hanya dilakukan jika Ht > 55% (target Ht 55%)
  3. polisitemia sekunder nonfisiologis bergantung pada derajat beratnya gejala yang ditimbulkan akibat hiperviskositas dan penurunan shear rate

B. Kemoterapi sitostatika

Tujuannya adalah sitoreduksi

Indikasi:

–          Hanya untuk polisitemia rubra primer (PV)

–          Flebotomi sebagai pemeliharaan dibutuhkan > 2 kali sebulan

–          Trombositosis yang terbukti menimbulkan trombosis

–          Urtikaria berat yang tidak dapat diatasi dengan antihisatamin

–          Splenomegali simtomatik/ mengancam ruptur limpa

Cara pemberian:

Hidroksiurea 800-1200 mg/m2/hari atau 10-15 mg/kg/kali diberikan dua kali sehari. Bila tercapai target dilanjutkan pemberian secara intermiten untuk pemeliharaan

Klorambusil dengan dosis induksi 0,1-0,2 mg/kg/hari selama 3-6 minggu dan dosis pemeliharaan 0,4 mg/kgBB tiap 2-4 minggu.

Busulfan 0,06 mg/kgBB/hari atau 1,8 mg/m2/hari. Bila tercapai target dilanjutkan pemberian secara intermiten untuk pemeliharaan.

C. Fosfor radioaktif

P32 pertama kali diberikan dengan dosis 2-3 mCi/m2  IV, bila peroral dinaikkan 25%. Selanjutnya bila setelah 3-4 minggu pemberian P32 pertama:

–          mendapatkan hasil, reevaluasi setelah 10-12 minggu. Dapat diulang jika diperlukan

–          tidak berhasil, dosis kedua dinaikkan 25% dari dosis pertama, diberikan setelah 10-12 minggu dosis pertama

Pasien diperiksa setiap 2/3 bulan setelah keadaan stabil

D. Kemoterapi biologi (sitokin)

E. Pengobatan suportif

Hiperurisemia: allopurinol 100-600 mg/hari

Pruritus dengan urtikaria: antihistamin, PUVA

Gastritis/ ulkus peptikum: antagonis reseptor H2

Antiagregasi trombosit anagrelid

Komplikasi Trombosis, perdarahan, mielofibrosis
Prognosis Ad vitam: dubia ad malam

Ad fungsionam: malam

Ad sanasionam: malam

Wewenang RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam

RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Unit yang menangani RS pendidikan : Departemen Penyakit Dalam – Divisi Hematologi – Onkologi

RS non pendidikan : Bagian Penyakit Dalam

Unit terkait

Referensi : SPM PAPDI