Apotek Miami (Minimarket Vegan) – Satyawira Medical Center (Klinik Vegan)

I. Dokter Umum II. Akupunktur Medik III. Skin & Slimming Care IV. Program Pencegahan & Pemulihan Penyakit V. Lymphedema Center Indonesia VI. Catering Pencegah Penyakit VII. PIRT Kuartet Nabati VII. Pusat Makanan Sehat Organik & Natural

GAGAL JANTUNG KRONIK

1 Komentar


Pengertian Sindrom klinis yang kompleks akibat kelainan fungsi atau struktural jantung yang mengganggu kemampuan jantung untuk berfungsi sebagai pompa
Diagnosis Anamnesis :

Dispnea on effort; Orthopnea; Paroksismal nokturnal dispnea; Lemas; Anoreksia dan mual; Gangguan mental pada usia tua

Pemeriksaan fisik :

Takikardia, gallop bunyi jantung ketiga , peningkatan/ekstensi  vena jugularis , refluks hepatojugular , pulsus alternans, kardiomegali, ronkhi basah halus di basal paru, dan bisa meluas di kedua lapang paru bila gagal jantung berat, edema pretibial pada pasien yang rawat jalan, edema sakral pada pasien tirah baring.

Efusi pleura, lebih sering pada paru kanan daripada paru kiri

Asites sering terjadi pada pasien dengan penyakit katup mitral dan perikarditis konstriktif , hepatomegali, nyeri tekan, dapat diraba pulsasi hati yang berhubungan dangan hipertensi vena sistemik, iIkterus, berhubungan dengan peningkatan kedua bentuk bilirubin, ekstremitas dingin, pucat dan berkeringat.

Pemeriksaan Penunjang :

Foto rontgen dada : Pembesaran jantung, distensi vena pulmonal dan redistribusinya ke apeks paru (opasifikasi hilus paru bisa sampai ke apeks) , peningkatan tekanan vaskular pulmonar; efusi pleura, kadang-kadang.

Elektrokardiografi :

Membantu menunjukkan etiologi gagal jantung (infark, iskemia, hipertrofi, dan lain-lain)

Dapat ditemukan low voltage, T inversi, Qs, depresi ST, dan lain-lain

Laboratoratorium

Kimia darah (termasuk ureum, kreatinin, glukosa, elektrolit), hemoglobin,  tes fungsi tiroid, tes fungsi liver, dan lipid darah

Urinalisa untuk mendeteksi proteinuria atau glukosuria.

Ekokardiografi

Dapat menilai dengan cepat dengan informasi yang rinci tentang fungsi dan struktur jantung, katup dan perikard.

Dapat ditemukan fraksi ejeksi yang rendah < 35%-40% atau normal, kelainan katup (mitral stenosis, mitral regurgitasi, trikuspid stenosis atau trikuspid regurgitasi), LVH, dilatasi atrium kiri, kadang-kadang ditemukan dilatasi ventrikel kanan atau atrium kanan, efusi perikard, tamponade, atau perikarditis

Kriteria diagnosis

Kriteria Framingham

Kriteria mayor :

Paroksismal nokturnal dispnea

Distensi vena-vena leher

Peningkatan vena jugularis

Ronkhi

Kardiomegali

Edema paru akut

Gallop bunyi jantung III

Refluks hepatojugular positif

Kriteria Minor

Edema ekstremitas

Batuk malam

Dispne pada aktivitas

Hepatomegali

Efusi pleura

Kapasitas vital berkurang 1/3 dari normal

Takikardia ( > 120 denyut permenit)

Mayor atau minor

Penurunan berat badan ≥ 4,5 kg dalam 5  hari terapi

Diagnosis ditegakkan bila terdapat paling sedikit satu kriteria mayor dan dua kriteria minor

Diagnosis Banding
  1. Penyakit paru : pneumonia, PPOK, asma eksaserbasi akut, infeksi paru berat misalnya ARDS,   emboli paru

2.    Penyakit ginjal : gagal ginjal kronik, sindrom nefrotik

3.    Penyakit hati : sirosis hepatis

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Penunjang :

Foto rontgen dada : Pembesaran jantung, distensi vena pulmonaris dan redistribusinya ke apeks paru (opasifikasi hilus paru bisa sampai ke apeks) , peningkatan tekanan vaskular pulmonar, kadang-kadang ditemukan efusi pleura.

Elektrokardiografi :

Membantu menunjukkan etiologi gagal jantung (infark, iskemia, hipertrofi, dan lain-lain)

Dapat ditemukan low voltage, T inversi, Qs, depresi ST, dan lain-lain

Laboratoratorium

Kimia darah (termasuk ureum, kreatinin, glukosa, elektrolit), hemoglobin,  tes fungsi tiroid, tes fungsi liver, dan lipid darah

Urinalisa untuk mendeteksi proteinuria atau glukosuria.

Ekokardiografi

Dapat menilai dengan cepat dengan informasi yang rinci tentang fungsi dan struktur jantung, katup dan perikard.

Dapat ditemukan fraksi ejeksi yang rendah < 35%-40% atau normal, kelainan katup (mitral stenosis, mitral regurgitasi, trikuspid stenosis atau trikuspid regurgitasi), LVH, dilatasi atrium kiri, kadang-kadang ditemukan dilatasi ventrikel kanan atau atrium kanan, efusi perikard, tamponade, atau perikarditis

Terapi Non farmakologi :

1.     Anjuran umum :

  1. Edukasi : terangkan hubungan keluhan, gejala dengan pengobatan
  2. Aktivitas sosial dan pekerjaan diusahakan agar dapat dilakukan seperti biasa. Sesuaikan kemampuan fisik dengan profesi yang masih bisa dilakukan
  3. Gagal jantung berat harus menghidari penerbangan panjang
  4. Vaksinasi terhadap infeksi influensa dan pneumokokus bila mampu
  5. Kontrasepsi dengan IUD pada gagal jantung sedang dan berat, penggunaan hormon dosis rendah masih dapat dianjurkan.
  1. Tindakan umum :
  1. Diet (hindarkan obesitas, rendah garam 2 g pada gagal jantung ringan dan 1 g pada gagal jantung berat, jumlah cairan 1 liter pada gagal jantung berat dan 1,5 liter pada gagal jantung ringan.
  2. Hentikan rokok
  3. Hentikan alkohol pada kardiomiopati. Batasi 20-30 g/hari pada yang lainnya
  4. Aktivitas fisik (latihan jasmani : jalan 3-5 kali/minggu selama 20-30 menit atau sepeda statis 5 kali/ minggu selama 20 menit dengan beban 70-80% denyut jantung maksimal pada gagal jantung ringan dan sedang)
  5. Istirahat baring pada gagal jantung akut, berat dan eksaserbasi akut
  1. Farmakologi
  1. Diuretik. Kebanyakan pasien dengan gagal jantung membutuhkan paling sedikit diuretik regular dosis rendah tujuan untuk mencapai tekanan vena jugularis normal dan menghilangkan edema. Permulaan dapat digunakan loop diuretik atau tiazid. Bila respon tidak cukup  baik dosis diuretik dapat dinaikkan, berikan diuretik intravena, atau kombinasi loop diuretik dan tiazid. Diuretik hemat kalium, spironolakton, dengan dosis 25-50 mg/hari dapat mengurangi mortalitas pada pasien dengan gagal jantung sedang sampai berat (klas fungsional IV) yang disebabkan gagal jantung sistolik.
  2. ACE inhibitor. Bermanfaat untuk menekan aktivasi neurohormonal, dan pada gagal jantung yang disebabkan disfungsi sistolik ventrikel kiri. Pemberian dimulai dengan dosis rendah, dititrasi selama beberapa minggu sampai dosis yang efektif.
  3. Beta bloker. bermanfaat sama seperti ACE inhibitor. Pemberian mulai dosis kecil, kemudian dititrasi selama beberapa minggu dengan kontrol ketat sindrom gagal jantung. Biasanya diberikan bila keadaan sudah stabil. Pada gagal jantung klas fungsional II dan III.  Beta bloker yang digunakan carvedilol, bisoprolol atau metoprolol. Biasa digunakan bersama-sama dengan ACE inhibitor dan diuretik.
  4. Angiotensin II  antagonis reseptor. Dapat diguna kan bila ada kontraindikasi penggunaan ACE inhibitor.
  5. Kombinasi hidralazin dengan isosorbide dinitrat Memberi hasil yang baik pada pasien yang intoleran dengan ACE inhibitor dapat dipertimbangkan
  6. Digoksin. Diberikan untuk pasien simptomatik dengan gagal jantung disfungsi sistolik ventrikel kiri dan terutama yang dengan fibrilasi atrial, digunakan bersama-sama diuretik, ACE inhibitor, beta bloker.
  7. Antikoagulan dan antiplatelet. Aspirin diindikasi kan untuk pencegahan emboli serebral pada penderita dengan fibrilasi atrial dengan fungsi ventrikel yang buruk. Antikoagulan perlu diberikan pada fibrilasi atrial kronis maupun dengan riwayat emboli, trombosis dan Transient Ischemic Attacks, trombus intrakardiak dan aneurisma ventrikel.
  8. Antiaritmia tidak direkomendasikan untuk pasien yang asimptomatik atau aritmia ventrikel yang tidak menetap. Antiaritmia klas I harus dihindari kecuali pada aritmia yang mengancam nyawa. Antiaritmia kelas III terutama amiodaron dapat digunakan untuk terapi aritmia atrial dan tidak digunakan untuk mencegah kematian mendadak.
  9. Antagonis kalsium dihindari. Jangan menggunakan kalsium antagonis untuk mengobati angina atau hipertensi pada gagal jantung.
Komplikasi Syok kardiogenik, infeksi paru, gangguan keseimbangan elektrolit
Prognosis Tergantung klas fungsionalnya
Wewenang RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam

RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Unit yang menangani RS pendidikan : Departemen Penyakit Dalam – Divisi Kardiologi

RS non pendidikan : Bagian Penyakit Dalam

Unit terkait RS pendidikan : ICCU / medical High Care

RS non pendidikan : ICCU / ICU

Referensi : SPM PPDI

Iklan

Penulis: apotekmiami-drsatyadeng

I. Dokter Umum II. Akupunktur Medik III. Skin & Slimming Care IV. Program Pencegahan & Pemulihan Penyakit V. Lymphedema Center Indonesia VI. Catering Pencegah Penyakit VII. PIRT Kesehatan Vegan Kuartet Nabati

One thought on “GAGAL JANTUNG KRONIK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s