Apotek Miami (Minimarket Vegan) – Satyawira Medical Center (Klinik Vegan)

I. Dokter Umum II. Akupunktur Medik III. Skin & Slimming Care IV. Program Pencegahan & Pemulihan Penyakit V. Lymphedema Center Indonesia VI. Catering Pencegah Penyakit VII. PIRT Kuartet Nabati VII. Pusat Makanan Sehat Organik & Natural

ASI untuk bayi

Tinggalkan komentar

image

Iklan


Tinggalkan komentar

Penyebab jerawat pada pria

Serangan jerawat memang tidak pandang bulu dan dapat menyerang siapa saja, baik wanita maupun pria pada usia berapa pun. Namun terkadang, jerawat yang muncul di kulit pria tidak selalu sama dengan jerawat pada kulit perempuan. Apa penyebabnya?

“Pada perempuan, biasanya jerawat muncul pada saat pre menstrual syndrome (PMS), di mana terjadi perubahan hormon estrogen dan progesteron. Sedangkan masalah jerawat pada pria bukan disebabkan oleh pola hormonal,” ungkap Dr Hengky Affandi, SpKK dari Klinik Estetika Jakarta.

Menurutnya ada tiga faktor yang menyebabkan munculnya jerawat pada pria. Berikut beberapa penyebabnya:

Stres

Peningkatan stres dapat merangsang kelenjar-kelenjar sebasea pada kulit memproduksi lebih banyak sehingga memicu pembentukan jerawat. Stres juga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, sehingga dapat memperlambat penyembuhan jerawat yang sudah ada. Selain itu, mereka yang mengalami stres juga cenderung menekan-nekan sendiri jerawatnya sehingga memicu peradangan terjadi lebih hebat.

Pola Tidur

Stres juga dapat menimbulkan masalah baru, yaitu insomnia sehingga waktu tidur Anda menjadi tidak teratur atau bahkan kurang. Padatnya aktivitas serta kebiasaan begadang juga memperparah keadaan. Padahal waktu terbaik untuk tidur adalah pukul 22.00 – 05.00 WIB. Pada waktu tersebut kulit kita akan melakukan recovery untuk merangsang pembentukan sel-sel kulit baru dan memperbaharui sel-sel kulit mati. Dengan demikian, komedo dan jerawat dapat dicegah.

Makanan

Memang tidak ada pantangan untuk mengonsumsi makanan tertentu asalkan masih dalam jumlah yang wajar, namun perlu diketahui bahwa respons tubuh setiap orang akan berbeda. Misalnya, ada yang mengaku di kulitnya muncul jerawat setelah mengonsumsi telur, kacang atau gorengan.

Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk selalu mengontrol makanan yang dikonsumsi serta mengetahui jenis makanan apa yang tidak cocok untuk kulit Anda. Selain itu juga akan lebih baik untuk mengurangi konsumsi junk food dan makanan berlemak lainnya.

Untuk mencegah jerawat, hal pertama yang dapat dilakukan adalah menghadapi stres dengan baik. Jangan biarkan diri Anda tenggelam dalam perasaan stres yang bisa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan serta kondisi kulit Anda.

Atur manajemen waktu Anda agar dapat menikmati waktu istirahat dari aktivitas yang padat, serta usahakan tidur lebih awal secara rutin. Selain itu, perhatikan makanan yang akan dikonsumsi agar dapat mengurangi risiko munculnya jerawat.

Penulis:

Claralisa Fusheriness


Tinggalkan komentar

Makanan yang tidak boleh di gabung dengan obat

Vera Farah Bararah – detikHealth

Makanan memang menjadi sumber energi yang penting bagi tubuh. Tapi beberapa makanan diketahui bisa menimbulkan interaksi dengan obat tertentu. Ketahui makanan apa saja yang tidak boleh digabung dengan obat.
“           Kuncinya adalah tidak mengubah secara drastis pola makan saat minum obat tertentu, tapi tanyakan pada dokter mengenai potensi interaksi yang mungkin terjadi,” ujar Dr jane Alder, dosen farmakologi dari University of Central Lancashire, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (17/5/2011).

Dr Alder akan menjelaskan beberapa makanan yang sebaiknya tidak dikombinasikan dengan obat tertentu karena bisa membuat obat jadi tidak berguna atau justru berbahaya yaitu:

Jus buah
Grapefruit mengandung senyawa yang disebut dengan furanokumarin yang bisa mencegah enzim dalam usus untuk menjaga benda asing tetap berada di luar, sehingga tidak bekerja secara optimal. Kondisi ini akan membuat lebih banyak obat yang diserap sehingga efektivitasnya bisa 2-3 kali lipat dari dosis yang dianjurkan.

Sebaiknya tidak mencampur jus grapefruit dengan obat untuk mengobati irama jantung abnormal, antidepresan, antihistamin (obat alergi), statin dan obat anti kejang. Sedangkan jus cranberry dan jus delima bisa memperlambat kecepatan hati untuk memecah pengencer darah obat dan pada obat antidepresan bisa menyebabkan penurunan efektifitas obat.

Makanan produk susu
Kalsium dalam susu bisa mengikat tetrasiklik dan minosiklik dari antibiotik. Jika kandungan antibiotik ini digabung dengan mineral akan membuatnya tidak larut dalam usus sehingga tidak diserap oleh tubuh. Mengonsumsi susu setengah liter bisa mengurangi efektivitas antibiotik hingga 80 persen. Kalsium juga bisa mengganggu penyerapan obat osteoporosis. Hindari minum susu dalam waktu 2 jam sebelum minum obat.

Makanan fermentasi
Makanan hasil fermentasi seperti keju yang mengandung tyramine dalam konsentrasi tinggi bisa menyebabkan ‘sindrom keju’. Tyramine akan bereaksi dengan obat antidepresan yang disebut monoamine oxidase inhibitor (MAOIs) dengan mencegah enzim yang berfungsi mencerna senyawa. Kondisi ini akan mengakibatkan tekanan darah tinggi yang berbahaya.

Daging panggang
Penderita asma harus menghindari daging panggang karena kandungan karbonnya bisa membentuk senyawa yang mencegah obat asma dengan teofilinn bekerja secara optimal. Selain itu karbon ini juga bisa memicu serangan asma meskipun sudah mengonsumsi obat.

Sayuran hijau
sebagian besar sayuran hijau termasuk bayam, kol dan teh hijau mengandung kadar vitamin K yang tinggi dan bisa memicu pembekuan darah. Jika dikonsumsi dengan obat pengencer darah akan membuatnya menjadi tidak berguna.

Makanan berserat
Makanan yang tinggi serat bisa memperlambat penyebaran banyak obat termasuk digoxin yang digunakan untuk mengatur detak jantung tidak teratur, obat diabetes metformin dan mencegah penyerapan obat penurun kolesterol statin. Tapi bukan berarti makanan berserat harus dihilangkan dari menu makanan, tapi hindari mengonsumsinya dalam waktu 2 jam sebelum minum obat.

Referensi
IAI KALBAR


Tinggalkan komentar

Cara minum obat saat puasa

Meski bulan puasa bukan berarti penyakit ikutan puasa, kalo masih sakit harus tetap berobat dan minum obat. Lalu kapan minum obat kalo lagi puasa? Bagaimana solusinya?

1. Bila aturan pakai 1 kali sehari sebelum makan

Kita bebas memilih setelah minum pembuka puasa (setengah jam sebelum makan berat) atau setengah jam sebelum sahur. Yang penting pilihan waktu tersebut konsisten.

2. Bila aturan pakai 1 kali sehari setelah makan

Kita bebas memilih setelah berbuka puasa atau saat sahur. Yang penting pilihan waktu tersebut konsisten.

3. Bila aturan pakai 2 kali sehari setelah makan

Minumlah obat setelah makan berbuka puasa dan setelah makan sahur.

4. Bila aturan pakai 2 kali sehari sebelum makan

Minumlah obat setelah minum berbuka puasa. Setengah jam sesudahnya barulah menikmati makan berat. Minum obat berikutnya minimal setengah jam sebelum makan sahur.

5. Bila aturan pakai 3 kali sehari setelah makan

Minumlah obat setelah makan berbuka puasa, sebelum tidur (setelah menyantap sedikit makanan) dan setelah makan sahur.

6. Bila aturan pakai 3 kali sehari sebelum makan

Minumlah obat setelah minum berbuka puasa lalu setengah jam sesudahnya barulah menikmati makan berat, saat hendak tidur (perut jangan diisi makanan setengah jam sebelumnya) dan setengah jam sebelum makan sahur.

Tips untuk jenis obat yang lain:

1. Obat Antihipertensi

Obat antihipertensi kini sudah banyak di formulasi untuk pemakaian sekali dalam sehari. Obat ini lebih disarankan diminum saat makan sahur sehingga obat tersebut dapat mengendalikan tekanan darah selama beraktivitas di siang hari. Riset menunjukkan bahwa tekanan darah mencapai angka paling tinggi pada pukul  9-11 pagi dan paling rendah pada malam hari setelah tidur. Perlu hati-hati jika obat antihipertensi diminum malam hari karena mungkin terjadi penurunan tekanan darah yang berlebihan saat tidur.

2. Obat Maag

Jika dokter telah meresepkan obat yang hanya digunakan sekali dalam sehari, misalnya omeprazol atau lansoprazol, sebaiknya diminum pada malam hari sebelum tidur. Sedangkan obat maag yang lazimnya diberikan duak kali dalam sehari, misalnya ranitidin atau famotidin, maka hendaknya dipilih saat malam hari sebelum tidur dan pada waktu makan sahur. Hal ini desebabkan asam lambung  mencapai kadar paling tinggi pada saat dinihari, sehingga sebaiknya diminum malam hari untuk mencegah kenaikan asam lambung berlebihan.

3. Obat Antidiabetes

Obat antidiabetes yang hanya cukup diminum satu kali dalam sehari, misalnya glipizid sebaiknya digunakan pada saat berbuka puasa untuk mengontrol kadar gula dalam darah, karena pada saat tersebut ada kecenderungan kadar gula dalam darah akan meningkat berlebihan.

Namun apabila obat antidiabetes anda diresepkan dua kali dalam sehari, lebih disarankan diminum saat berbuka puasa dan malam hari sebelum tidur. Hindari penggunaan obat antidiabetes saat makan sahur agar tidak terjadi keadaan hipoglikemia pada saat berpuasa pada siang harinya.

4. Obat Penurun Kolesterol

Obat penurun kolesterol paling baik diminum pada pukul 7-9 malam, karena memberikan efek lebih baik.

5. Obat Antiasma

Sebenarnya waktu yang paling baik meminum obat asma adalah pada pukul 3-4 sore. Hal ini karena pada saat itu produksi steroid tubuh berurang, dan mungkin akan menyebabkan serangan asma pada malam hari. Karena itu, jika steroid dihirup sore hari, diharapkan akan mencegah serangan asma pada malamnya. Obat yang penggunaannya dihirup boleh digunakan oleh orang yang berpuasa dan tidak membatalkan puasa.

6. Obat Antianemia

Waktu yang paling baik meminum obat anti anemia adalah pukul 8 malam. Penggunaan obat anemia seperti Fe glukonat atau Fe sulfat memberikan efek 3-4 kali lebih baik pada waktu itu daripada diberikan pada siang

Referensi
IAI KALBAR


Tinggalkan komentar

Tips puasa bagi penderita Diabetes

Bulan puasa adalah bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan, termasuk juga oleh penderita diabetes. Namun, tidak jarang terbersit keraguan apakah orang dengan diabetes bisa berpuasa.

Jawabannya, Ya, asalkan mampu menjaga agar kadar gula darah berada dalam keadaan normal dan tubuh tidak lemas. Mau tahu lebih lanjut bagaimana cara menjalankan ibadah puasa dengan maksimal?
Yuk cek info di bawah ini 🙂

Tips Ampuh Supaya Kuat Puasa (Juga Untuk Diabetes)

1. Keep Fit!
Pastikan ketika menjelang bulan puasa kita berada dalam kondisi sehat dan bugar. Olahraga ringan seperti jogging, berjalan kaki, atau berenang masih boleh dilakukan saat puasa1. Supaya tidak kaget atau mudah lapar saat puasa Ramadan, perut bisa dilatih dengan melakukan puasa sunah 2 kali seminggu. Puasa ini pun dapat dilakukan orang yang hidup dengan diabetes 🙂

2. Cukup Makan dan Minum Air Putih
Pastikan mengkonsumsi cukup makanan dan air putih ketika sahur maupun berbuka puasa. Saat berpuasa kita tidak akan mengkonsumsi apapun selama delapan jam sehingga energi untuk beraktivitas serta kebutuhan cairan tubuh diambil dari cadangan yang tersimpan dalam tubuh2. Untuk panduan pola makan dan jadwalnya, bisa lihat di ulasan di bawah.

3. Vote for Fiber and Protein!
Makan makanan yang mengandung banyak serat seperti nasi merah, sayur, buah, atau oatmeal sangat disarankan ketika sahur karena serat bisa memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga kita lebih kuat puasa. Bonusnya lagi, serat bisa membantu mengontrol kadar gula darah yang baik untuk manajemen diabetes.
Makanan yang mengandung protein seperti  tahu, tempe, dan susu kedelai juga baik dikonsumsi untuk memberikan nutrisi ekstra dan membuat kita kuat berpuasa sepanjang hari.

4. Time – Wise
Lamanya jam puasa jadi tidak terlalu terasa bila diisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Kegiatan positif seperti membaca buku, ngobrol bareng teman dan keluarga, menyiapkan hidangan, membaca Al-Quran, atau mendengarkan musik bisa jadi kegiatan yang menyenangkan.
Apa kegiatan favoritmu?

Tips Agar Gula Darah Tetap Stabil Selama Puasa

Kunci mempertahankan kondisi yang optimal bagi penderita diabetes yaitu dengan manajemen 3J: Jenis, jumlah, dan jadwal. Hal ini berlaku pula ketika orang dengan diabetes ingin berpuasa.

Tips ampuh menjaga kadar gula darah stabil bagi diabetes selama bulan puasa:

Diabetes Tips #1: Jenis Makanan dengan Nilai Indeks Glikemik Rendah
Glikemik indeks (GI) merupakan angka yang menunjukkan kemampuan makanan untuk meningkatkan kadar gula darah. Semakin tinggi angka GI, semakin besar kemampuan makanan tersebut meningkatkan kadar gula darah. Untuk menjaga kadar gula darah tetap normal bagi diabetes, disarankan memilih makanan dengan nilai Indeks Glikemik rendah.
Contoh makanan dengan nilai Indeks Glikemik rendah:
• Sereal gandum utuh
• Ubi
• Nasi beras merah
• Buah (semangka, jeruk, apel, salak, pir, kiwi)
• Sayuran hijau (bayam, kangkung, daun singkong, poh-pohan, mentimun)
Diabetes Tips #2: Jumlah
Untuk memenuhi kebutuhan energi, bisa konsumsi makanan dengan perbandingan 40% energi untuk sahur, 10%-20% untuk berbuka puasa, dan 40% setelah tarawih.Tips: langsung berbuka dengan banyak makanan bisa berakibat kurang baik untuk penderita diabetes. Lebih sehat: berbuka dengan sedikit makanan baru dilanjutkan makan agak banyak setelah tarawih untuk mencegah kadar gula darah yang terlalu bervariasi. Setuju?
Diabetes Tips #3: Jadwal
Jadwal untuk sahur dan berbuka sangat penting untuk menghindari kondisi hipoglikemi (gula darah sangat rendah) maupun hiperglikemi (gula darah berlebih).Tips menjaga jadwal makan untuk penderita diabetes yang berpuasa:
Makan sahur mendekati waktu imsak
Berbuka puasa tepat waktu dengan buah kurma segar, pisang, dan buah lainnya
Makan dengan porsi sedang setelah salat tarawih untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil selama tidur.
Diabetes Notes: Pengobatan

Perlu diperhatikan apakah penderita diabetes sedang mengonsumsi jenis obat diabetes yang memiliki efek menurunkan gula darah secara lambat. Hal tersebut meningkatkan risiko penderita diabetes mengalami hipoglikemi saat sedang berpuasa2. Sangat disarankan bagi orang dengan diabetes untuk secara berkala memantau kadar gula darahnya setiap hari ketika ingin berpuasa2.

Puasa? YA atau TIDAK Berpuasa bagi Diabetes

Sebaiknya penderita diabetes tidak memaksakan berpuasa jika mengalami salah satu dari kondisi di bawah ini1,2:

Mengalami hipoglikemik (gula darah sangat rendah) yang ditandai dengan pusing, berkeringat, dan kebingungan
Mengalami hiperglikemik (gula darah sangat tinggi)
Mengalami DKA (Diabetic Ketoasidosis) yaitu kelebihan senyawa keton yang ditandai dengan muntah-muntah atau dehidrasi
Mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh
Semoga informasi di atas bisa berguna untuk mendukung puasa kalian di bulan penuh berkah ini (juga untuk orang dengan diabetes). Amin 🙂

References
1. Diabetes Care 28 (9): 2305-2311.
2. Ramadan Health Guide: A Guide to Healthy Fasting. 2007.
3. Indeks Glikemik Pangan. 2004.


Tinggalkan komentar

Kiat berpuasa bagi penderita hipertensi

Apakah Anda ingin berpuasa sebulan penuh tetapi memiliki riwayat penyakit hipertensi? Nah, berikut ini kiat praktis untuk Anda.

Kiat Berpuasa bagi Penderita Hipertensi

Pada prinsipnya, tidak ada masalah bagi penderita hipertensi untuk berpuasa, selama tekanan darahnya terkendali dan penderita meminum obat secara  teratur. Saat ini sudah banyak obat yang bisa  diminum  cukup satu kali dalam sehari, yang bisa diminum saat sahur atau berbuka. Kecuali bagi  penderita yang mendapat dosis tiga kali per hari dan tekanan darah masih dalam tahap penyesuaian dengan dosis.

Selain itu, penderita hipertensi juga harus tetap memperhatikan pola hidup yang sehat selama berpuasa. Kunci utama bagi penderita hipertensi  dalam menjalankan  puasa adalah mengatur tekanan darah agar tetap stabil.

Hindari makanan yang mengandung banyak garam atau asin, makanan yang diawetkan, makanan kaleng,  dan makanan cepat saji.
Kurangi makanan  yang  mengandung  lemak.
Mengendalikan berat badan dengan konsumsi protein secukupnya.
Banyak makan makanan yang mengandung kalsium karena kalsium bisa menurunkan tekanan darah. Kalsium banyak terdapat di sayuran dan buah-buahan.
Olahraga teratur minimal 30 menit.  Olahraga ringan selama bulan puasa seperti jalan kaki atau mengerjakan pekerjaan rumah.
Jadi, bagi Anda penderita hipertensi Anda bisa tetap menjalankan ibadah puasa  selama bulan ramadhan. Karena selain menjalankan perintah agama, berbagai penelitian medis membuktikan  puasa juga baik bagi kesehatan.
Apa sih Hipertensi itu?

Hipertensi adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal dimana tekanan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau lebih besar 90 mmHg.

Hipertensi tidak memiliki gejala yang khusus sehingga sering kali sulit disadari oleh penderitanya. Untuk itu setiap orang,  terutama yang memiliki risiko hipertensi dan berusia diatas 30 tahun disarankan untuk memeriksakan darah secara rutin.  Namun ada beberapa hal yang  dapat  dijadikan indikator hipertensi, yaitu pusing atau sakit kepala, sering gelisah, wajah merah, tengkuk terasa pegal, mudah marah, telinga berdenggung, susah tidur, sesak napas, mudah lelah, mata berkunang-kunang, mimisan, dan pandangan kabur

Berbagai faktor memicu terjadinya hipertensi, mulai dari gaya hidup, faktor usia,  kegemukan atau obesitas, kurang aktivitas fisik, kurang berolaraga, terlalu banyak mengonsumsi garam, merokok, minum alkohol secara berlebihan, dan stres.

Pastikan Anda memiliki alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya. Alat ini perlu untuk mengukur peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik

Nara Sumber: dr.Tolhas Banjarnahor,Sp.PD,  Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Ciputa Hospital, Tangerang