Apotek Miami (Minimarket Vegan) – Satyawira Medical Center (Klinik Vegan)

I. Dokter Umum II. Akupunktur Medik III. Skin & Slimming Care IV. Program Pencegahan & Pemulihan Penyakit V. Lymphedema Center Indonesia VI. Catering Pencegah Penyakit VII. PIRT Kuartet Nabati VII. Pusat Makanan Sehat Organik & Natural

Lentil – Makanan Sehat

Tinggalkan komentar


Lentil (Lens culinaris), yang sudah di konsumsi sejak jaman pra-sejarah, dianggap berasal dari Asia Tengah.

Lentil yang menjadi salah satu anggota dari keluarga legume ini, juga termasuk peas, buncis, kacang kedele, adalah salah satu dari jenis makanan yang pertama kali di budidayakan.

Bahkan, biji lentil telah ditemukan di situs-situs arkeologi di Timur Tengah yang berumur 8.000 tahun, dan lentil itu disebut-sebut di dalam kitab Injil.

Selama bertahun-tahun, lentil telah dianggap sebagai makanan yang sangat sehat. Meski hampir tidak mengandung lemak, tapi lentil diangap banyak mengandung mineral, dua jenis vitamin B dan protein.

Pada saat yang sama, lentil juga banyak mengandung lemak suluble dan insoluble, dan dipercaya menjadi sumber yang bagus untuk zat besi, thiamin, magnesium, potassium, dan fosfor. Tapi apa yang telah ditemukan oleh para peneliti?

Kesehatan Jantung
Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2001 di Archives of Internal Medicine, mengamati hubungan antara konsumsi dari legume, misalnya lentil, dengan resiko dari penyakit jantung koroner pada pria dan wanita di Amerika Serikat.

Selama rata-rata 19 tahun follow-up, para peneliti mengevaluasi hampir 10.000 orang yang berpartisipasi dalam National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) Epidemiologic Follow-Up Study (NHEFS) yang pertama.

Di masa awal studi, semua peserta terbebas dari penyakit jantung. Tapi selama masa studi, terdapat 1.802 kasus penyakit jantung koroner dan 3.880 kasus penyakit cardiovascular.

Orang-orang yang memakan legume empat atau lima kali per minggu itu punya 22 persen penurunan resiko dari penyakit jantung, dan 11 persen lebih rendah dalam resiko dari penyakit cardiovascular, saat dibandingkan dengan mereka yang hanya memakan legume kurang dari satu kali seminggu.

Pada 2002, studi lain dari kelompok yang sama dipublikasikan di  journal Stroke. Kali ini, para peneliti menganalisa ulang hubungan antara jumlah asupan folate dengan resiko dari stroke dan penyakit cardiovascular (pembuluh darah).

Lentil itu dikenal banyak mengandung folate, yaitu suatu vitamin B water-soluble yang muncul secara alami di dalam makanan. (Versi sintetis nya adalah folic acid).

Para peneliti menemukan bahwa subjek yang mengkonsumsi folate paling banyak (rata-rata 405 microgram per hari) itu punya 21 persen resiko yang lebih rendah untuk stroke, dan 14 persen resiko yang lebih rendah untuk penyakit cardiovascular, dibanding yang paling sedikit mengkonsumsi folate (rata-rata 99 microgram per hari).

Dua tahun kemudian, Stroke melaporkan sebuah studi area di Boston mengenai asupan folate dan resiko dari stroke diantara para wanita.

Dengan menggunakan data dari Nurses’ Health Study, yang menyertakan 83.272 perawat wanita dengan usia antara 34 sampai 59 tahun yang di follow-up selama 18 tahun, para peneliti mengidentifikasi 1.140 kasus stroke.

Namun, mereka belum mampu menemukan satupun ‘‘hubungan yang bisa diterima antara asupan folate dengan total timbulnya stroke.’’

Kemudian, tahun 2005, Stroke mempublikasikan penemuan dari para peneliti Swedia yang mempelajari hubungan antara folate, B12 dan ischemic (disebabkan oleh penyumbatan arteri di dalam otak) dengan stroke hemorrhagic (disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak).

Para peneliti mengamati level folate di dalam darah, dengan asupan dari 334 orang yang mengalami stroke ischemic, dan 62 orang yang mengalami stroke hemorrhagic. Meski tidak ada hubungan yang ditemukan antara folate dengan stroke ischemic, tapi folate tampaknya memiliki suatu peran perlindungan terhadap stroke hemorrhagic.

Diabetes
Dalam sebuah studi tahun 2008 di The American Journal of Clinical Nutrition, para peneliti dari Vanderbilt University Medical Center in Nashville, Tennessee, bergabung dengan para peneliti dari Shanghai, China, untuk menyelidiki apakah jumlah asupan yang lebih tinggi dari legume, misalnya lentil, dan makanan-makanan yang terbuat dari kedele, bisa mengurangi resiko dari pengembangan diabetes type 2 pada 64.227 wanita China yang berusia pertengahan.

Pada awal studi, tidak satu pun dari subjek yang punya sejarah diabetes type 2, kanker, atau penyakit cardiovascular. Para subjek di follow-up selama rata-rata 4,6 tahun.

Para peneliti menemukan bahwa konsumsi dari legume dan makanan-makanan kedele itu memiliki hubungan terbalik dengan resiko dari diabetes type 2 pada wanita premenopausal dan postmenopausal.

Menurut studi ini, jumlah asupan legume yang lebih tinggi itu berhubungan dengan pengurangan resiko dari diabetes type 2.

Dalam studi lain yang dipublikasikan tahun 2008 di JAMA, The Journal of the American Medical Association, para peneliti Kanada menyelidiki apakah para penderita diabetes type 2 itu akan membaik jika memakan diet yang tinggi dalam makanan-makanan yang rendah dalam glycemic index (yang melepaskan energi secara perlahan), misalnya lentil, ataukah dengan memakan diet yang lebih menekankan pada makanan-makanan tinggi dalam serat.

210 peserta dalam studi ini secara acak dipilih untuk mendapat salah satu dari dua jenis diet selama enam bulan. Selain lentil, para peserta dalam kelompok diet low-glycemic juga memakan buncis, peas, kacang-kacangan, pasta dan nasi yang direbus secara singkat.

Dalam diet yang tinggi serat, para peserta memakan sereal sarapan whole grain, nasi coklat, kentang dengan kulit, dan whole wheat bread, crackers, dan sereal-seral sarapan.

Para peneliti menemukan bahwa para penderita diabetes type 2 lebih banyak mengalami peningkatan dalam kontrol glycemic pada diet low-glycemic, dibanding pada diet tinggi serat.

Kanker Payudara
Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2005 di International Journal of Cancer menggunakan informasi dari 90.630 perawat yang berpartisipasi dalam Nurses’ Health Study II untuk mengevaluasi hubungan antara konsumsi dari sejenis flavonol yang ditemukan dalam legume, misalnya lentil dan buncis, dengan munculnya kanker payudara.

Para peneliti mencatat bahwa studi-studi terhadap hewan telah menghubungkan diet yang tinggi dalam flavonol dengan sebuah pengurangan resiko dari kanker payudara. Selama delapan tahun follow-up, terdapat 70 kasus kanker payudara yang dilaporkan.

Meski para peneliti tidak menemukan hubungan antara kanker payudara dengan jumlah asupan flavonol secara keseluruhan atau konsumsi dari makanan-makanan yang banyak mengandung flavonol, tapi mereka mengamati bahwa wanita yang mengkonsumsi lentil (atau buncis) minimal dua kali seminggu itu punya kemungkinan 24 persen lebih kecil untuk mengembangkan kanker payudara, dibanding wanita yang mengkonsumsi makanan ini kurang dari satu kali per bulan.

Dalam sebuah studi tahun 2009 di The American Journal of Clinical Nutrition, para peneliti menyelidiki hubungan antara pola makan dengan resiko dari kanker payudara pada keturunan Asia Amerika.

Studi ini, yang dilakukan di Los Angeles County ini, menyertakan 1.248 wanita keturunan Asia Amerika yang menderita kanker payudara, dan 1.148 wanita dengan usia, etnis dan lingkungan yang sama sebagai kelompok kontrol.

Para peneliti menemukan bahwa wanita yang lebih banyak memakan daging dan starch itu punya tingkat resiko yang lebih tinggi untuk kanker payudara; sedangkan mereka yang lebih banyak memakan lentil dan makanan-makanan kedele, punya resiko yang lebih kecil.

Pengurangan Berat Badan
Dalam penelitian yang dipublikasikan tahun 2007 di Cochrane Database of Systemic Reviews, para peneliti Australia mempelajari efek-efek dari memakan makanan-makanan yang melepaskan energi secara lebih perlahan (low glycemic index) dengan makanan-makannan yang melepaskan gula secara cepat ke dalam salurah darah (high glycemic index).

Dalam total, mereka mengamati enam percobaan acak terkontrol yang menyertakan 202 subjek. Percobaan ini dilakukan mulai dari lima minggu sampai enam bulan.

Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang mengkonsumsi makanan dengan glycemic index yang rendah, misalnya lentil, itu lebih besar kemungkinannya untuk berhasil mengurangi berat badan.

Menurut Dr. Diana Thomas, ketua dari studi ini, diet low-glycemic itu sepertinya bermanfaat terutaama pada mereka yang obese.

Selain itu, dia mengatakan bahwa, ‘‘mungkin lebih mudah untuk mematuhi sebuah diet low glycemic dibanding sebuah diet pelangsing konvensional, karena lebih bebas, selama karbohidrat yang dikonsumsi itu punya glycemic index yang rendah.

Iklan

Penulis: apotekmiami-drsatyadeng

I. Dokter Umum II. Akupunktur Medik III. Skin & Slimming Care IV. Program Pencegahan & Pemulihan Penyakit V. Lymphedema Center Indonesia VI. Catering Pencegah Penyakit VII. PIRT Kesehatan Vegan Kuartet Nabati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s