Apotek Miami (Minimarket Vegan)

Pusat Makanan Sehat Organik & Natural : https://shopee.co.id/minimarketvegan


Tinggalkan komentar

Malaria

Tatalaksana

Klorokuin Sulfat oral 25 mg/kg terbagi dalam 3 hari, taitu 10 mg/kg pada hari ke 1 dan ke 2, serta 5 mg/kg pada hari ke 3

Kina dihidrokolid iv 1 mg garam/kg/ dosis dalam 10 cc mg/kg larutan dekstrosa 5% atau larutan NaCl 0,9% diberikan perinfus dalam 4 jam, diulnagi 8 jam dg dosis yang sama sampai terapi oral dapat dimulai. Keseluruhan pemberian obat adalah 7 hari dg dosis total 21 kali.

P. falciparum  yang resisten thp klorokuin

Kuinin sulfat oral 10 mg/kg/dosis, 3 kali sehari, selama 7 hari

Ditambah tetrasiklin oral 5 mg/kg/kali, 4 kali sehari selama 7 hari

Regimen alternative

Kuinin sulfal oral

Kuinin dihidroklorid intravena + piremetamin sulfat (fansidar oral)

Iklan


1 Komentar

Malaria

Pengertian Penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium falsiparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, atau Plasmodium malariae dan ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles
Diagnosis Anamnesis: riwayat demam intermiten atau terus menerus, riwayat dari atau pergi ke daerah endemik malaria, trias malaria (keadaan menggigil yang diikuti dengan demam dan kemudian timbul keringat yang banyak; pada daerah endemik malaria, trias malaria mungkin tidak ada, diare dapat merupakan gejala utama)

PF: konjungtiva pucat, sklera ikterik, splenomegali

Lab: sediaan darah tebal dan tipis ditemukan plasmodium,  serologi malaria (+) [sebagai penunjang]

Malaria berat: ditemukannya P. falciparum dalam stadium aseksual disertai satu atau lebih gejala berikut:

  1. Malaria serebral: koma dalam yang tak dapat/sulit dibangunkan dan bukan disebabkan oleh penyakit lain
  2. Anemia berat (normositik) pada keadaan hitung parasit >10.000/ul; (Hb <5 g/dl atau hematokrit <15%)
  3. Gagal ginjal akut (urin <400 ml/24 jam pada orang dewasa, atau <12 ml/kgBB pada anak-anak setelah dilakukan rehidrasi disertai kreatinin >3 mg/dl)
  4. Edema paru/acute respiratory distress syndrome (ARDS)
  5. Hipoglikemia (gula darah <40 mg/dl)
  6. Gagal sirkulasi atau syok (tekanan sistolik <70 mmHg, disertai keringat dingin atau perbedaan temperatur kulit-mukosa >1°C)
  7. Perdarahan spontan dari hidung, gusi, saluran cerna, dan/atau disertai gangguan koagulasi intravaskular
  8. Kejang berulang lebih dari 2 kali dalam 24 jam setelah pendinginan pada hipertermia
  9. Asidemia (pH 7,25) atau asidosis (bikarbonat plasma <15 mEq/l)
  10. Hemoglobinuria makroskopik oleh karena infeksi malaria akut (bukan karena efek samping obat antimalaria pada pasien dengan defisiensi G6PD)
  11. Diagnosis pasca-kematian dengan ditemukannya P. Falciparum yang padat pada pembuluh darah kapiler jaringan otak Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Malaria

Malaria
Pengertian Penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium falsiparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, atau Plasmodium malariae dan ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles
Diagnosis Anamnesis: riwayat demam intermiten atau terus menerus, riwayat dari atau pergi ke daerah endemik malaria, trias malaria (keadaan menggigil yang diikuti dengan demam dan kemudian timbul keringat yang banyak; pada daerah endemik malaria, trias malaria mungkin tidak ada, diare dapat merupakan gejala utama)

PF: konjungtiva pucat, sklera ikterik, splenomegali

Lab: sediaan darah tebal dan tipis ditemukan plasmodium,  serologi malaria (+) [sebagai penunjang]

Malaria berat: ditemukannya P. falciparum dalam stadium aseksual disertai satu atau lebih gejala berikut:

  1. Malaria serebral: koma dalam yang tak dapat/sulit dibangunkan dan bukan disebabkan oleh penyakit lain
  2. Anemia berat (normositik) pada keadaan hitung parasit >10.000/ul; (Hb <5 g/dl atau hematokrit <15%)
  3. Gagal ginjal akut (urin <400 ml/24 jam pada orang dewasa, atau <12 ml/kgBB pada anak-anak setelah dilakukan rehidrasi disertai kreatinin >3 mg/dl)
  4. Edema paru/acute respiratory distress syndrome (ARDS)
  5. Hipoglikemia (gula darah <40 mg/dl)
  6. Gagal sirkulasi atau syok (tekanan sistolik <70 mmHg, disertai keringat dingin atau perbedaan temperatur kulit-mukosa >1°C)
  7. Perdarahan spontan dari hidung, gusi, saluran cerna, dan/atau disertai gangguan koagulasi intravaskular
  8. Kejang berulang lebih dari 2 kali dalam 24 jam setelah pendinginan pada hipertermia
  9. Asidemia (pH 7,25) atau asidosis (bikarbonat plasma <15 mEq/l)
  10. Hemoglobinuria makroskopik oleh karena infeksi malaria akut (bukan karena efek samping obat antimalaria pada pasien dengan defisiensi G6PD)
  11. Diagnosis pasca-kematian dengan ditemukannya P. Falciparum yang padat pada pembuluh darah kapiler jaringan otak

Beberapa keadaan yang juga digolongkan sebagai malaria berat sesuai dengan gambaran klinis daerah setempat:

1.  Gangguan kesadaran

2.  Kelemahan otot tanpa kelainan neurologis (tak bisa duduk/jalan)

3.  hiperparasitemia >5% pada daerah hipoendemik atau daerah tak stabil malaria

4.  Ikterus (bilirubin >3 mg/dl)

5.  Hiperpireksia (temperatur rektal >40°C)

Diagnosis Banding Infeksi virus, demam tifoid toksik, hepatitis fulminan, leptospirosis, ensefalitis

Pemeriksaan Penunjang

Darah tebal dan tipis malaria, serologi malaria, DPL, tes fungsi ginjal, tes fungsi hati, gula darah, UL, AGD, elektrolit, hemostasis, rontgen toraks, EKG
Terapi
  1. I. Infeksi P. vivax atau P. ovale
    1. Daerah sensitif klorokuin:

Klorokuin basa 150 mg:

Hari I: 4 tablet + 2 tablet  (6 jam kemudian), hari II&III: 2 tablet atau Hari I&II: 4 tablet, hari III: 2 tablet

Terapi radikal: primakuin 1 x 15 mg selama 14 hari

Bila gagal dengan terapi klorokuin à kina sulfat 3 x 400-600 mg/hari selama 7 hari

  1. Daerah resisten klorokuin

Klorokuin basa 150 mg:

Hari I: 4 tablet + 2 tablet  (6 jam kemudian), hari II&III: 2 tablet atau Hari I&II: 4 tablet, hari III: 2 tablet ditambah SP 3 tablet (dosis tunggal)

Terapi radikal: primakuin 1 x 15 mg selama 14 hari

II. Infeksi P. falciparum ringan/sedang, infeksi campur P.  falciparum dan P. vivax

–          Klorokuin basa 150 mg:

Hari I: 4 tablet + 2 tablet  (6 jam kemudian), hari II&III: 2 tablet atau Hari I&II: 4 tablet, hari III: 2 tablet

–          Bila perlu terapi radikal:

Falciparum: primakuin 45 mg (dosis tunggal); infeksi campur: primakuin 1 x 15 mg selama 14 hari

à bila resisten dengan pengobatan tersebut: SP 3 tablet (dosis tunggal) atau kina sulfat 3 x 400-600 mg/hari selama 7 hari

III. Malaria berat

–          Drip kina HCl 500 mg (10 mg/kgBB) dalam 250-500 ml D5% diberikan dalam 6-8 jam (maksimum 2000 mg) dengan pemantauan EKG dan kadar gula darah tiap 8-12 jam sampai pasien dapat minum obat per oral atau sampai hitung parasit malaria sesuai target (total pemberian parenteral dan per oral selama 7 hari dengan dosis per oral 10 mg/kgBB/24 jam diberikan 3 kali sehari)

–          Pengobatan dengan kina dapat dikombinasikan dengan tetrasiklin 94 mg/kgBB diberikan 4 kali sehari atau doksisiklin 3 mg/kgBB sekali sehari

Perhatian: SP tidak boleh diberikan pada bayi dan ibu hamil. Primakuin tidak boleh diberikan pada ibu hamil, bayi, dan penderita defisiensi G6PD. Klorokuin tidak boleh diberikan dalam keadaan perut kosong. Pada pemberian kina parenteral, bila obat sudah diterima selama 48 jam tetapi belum ada perbaikan dan atau terdapat gangguan fungsi ginjal, maka dosis selanjutnya diturunkan sampai 30-50%. Kortikosteroid merupakan kontraindikasi pada malaria serebral.

Pemantauan pengobatan: hitung parasit minimal tiap 24 jam, target hitung parasit pada H1 50% H0 dan H3 <25% H0. Pemeriksaan diulang sampai dengan tidak ditemukan parasit malaria dalam 3 kali pemeriksaan berturut-turut.

Pencegahan: klorokuin basa 5 mg/kgBB, maksimal 300 mg/minggu diminum tiap minggu sejak 1 minggu sebelum masuk daerah endemik sampai dengan 4 minggu setelah meninggalkan daerah endemik atau doksisiklin 1,5 mg/kgBB/hari dimulai 1 (satu) hari sebelum pergi ke daerah endemis malaria s/d 4 minggu setelah meninggalkan daerah endemis

Komplikasi Malaria berat, renjatan, gagal napas, gagal ginjal akut
Prognosis Malaria falsiparum ringan/sedang, malaria vivax, atau malaria ovale: bonam. Malaria berat: dubia ad malam
Wewenang RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam

RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Unit yang menangani RS pendidikan : Departemen Penyakit Dalam – Divisi Tropik Infeksi

RS non pendidikan : Bagian Penyakit Dalam

Unit terkait RS pendidikan : Divisi  ginjal-hipertensi, divisi pulmonologi dan Bagian Neurologi

RS non pendidikan : Bagian Neurologi

Referensi SPM PAPDI