Apotek Miami (Minimarket Vegan) – Satyawira Medical Center

I. Dokter Umum II. Akupunktur Medik III. Skin & Slimming Care IV. Program Pencegahan & Pemulihan Penyakit V. Lymphedema Center Indonesia VI. Catering Pencegah Penyakit VII. PIRT Kuartet Nabati VII. Pusat Makanan Sehat Organik & Natural

Protein, Jumlah, Binaragawan


Jumlah Protein

PROTEIN TERLALU BANYAK?

“Protein terlalu banyak” adalah istilah yang tidak ditemukan dalam buku cetak tentang nutrisi yang diterbitkan sebelum tahun 1980, dan luput dari perhatian hingga sekitar tahun 1990. Ini menjelaskan mengapa banyak ahli kesehatan dan pendidikan memiliki kesulitan untuk menerima peringatan tersebut, karena satu-satunya pelajaran nutrisi yang mereka peroleh menentang akan hal ini. Pada saat terlalu banyak protein yang termakan (dibandingkan dengan apa yang dibutuhkan untuk membangun kembali dan menjaga fungsi tubuh), kelebihan asam amino yang beredar dalam aliran darah akan dikirim ke hati, di mana kelompok amino (yang mengandung nitrogen) diuraikan satu per satu dalam proses yang secara logis disebut sebagai deaminasi. Kelompok amino yang teruraikan sekarang menjadi bahan kimiawi yang disebut amonia (berasal dari kata “amino”). Alasan untuk proses ini adalah dikarenakan asam amino lainnya (yang sekarang menyerupai pecahan kecil dari lemak atau gula, tergantung dari mana asam amino tersebut berasal) merupakan sumber kalori yang potensial bagi tubuh, dan tubuh kita tidak suka menyia-nyiakan kalori. Maka, memakan terlalu banyak dapat membuat Anda gemuk, karena kelebihan kalori yang tidak terbakar saat berolah raga akan berubah menjadi lemak, tak peduli dari mana asalnya. Persenyawaan amonia yang teruraikan adalah saat di mana masalah sebenarnya dimulai.

Amonia (juga merupakan bahan yang sama untuk membersihkan jendela) adalah alkali yang sangat kuat, jadi untuk mencegah rusaknya jaringan hati, tubuh akan melakukan hal yang sama layaknya Anda membersihkan jendela: mencairkan amonia. Hati akan berbaur dengan cairan (darah) setelah setiap hidangan makanan dengan protein kadar tinggi, keadaan seperti ini dikenal sebagai hypertrophy. Hati akan mengubah amonia menjadi persenyawaan yang tidak begitu kuat, disebut urea, dan urea ini dikirim ke ginjal untuk pembuangan dalam air seni. Ginjal tidak seharusnya dibanjiri oleh urea, dan ini akan mengakibatkan pelebaran ginjal. Melakukan hal ini secara berkesinambungan, hidangan demi hidangan, dari tahun ke tahun, akan merusak hati dan ginjal, mengingat mereka merupakan organ yang peka. Gagal ginjal merupakan penyakit yang biasa, dan penyebab kematian pada negara-negara di mana protein dimakan dalam jumlah yang banyak. Namun hal ini jarang terjadi di negara-negara miskin karena pola makan yang kurang. Di antara populasi yang memakan protein kadar tinggi (contohnya Eskimo) dan orang-orang tertentu yang memakan protein berat (seperti binaragawan), gagal ginjal adalah sangat biasa.

Namun masalah tidak berakhir sampai di sini. Melalui sistem mekanis yang belum sepenuhnya dipahami, kelebihan protein akan membuang kalsium ke dalam air seni. Ini mengakibatkan darah mengambil sedikit kalsium dari tulang, yang jika diteruskan dalam jangka waktu beberapa puluh tahun akan membantu dalam proses pengeroposan tulang yang disebut osteoporosis. Hampir sepertiga dari penduduk Amerika Utara yang berusia 60 tahun memiliki kondisi demikian, dan kejadian yang serupa di negara-negara lain mencerminkan bahwa kelebihan protein sebenarnya mengakibatkan kekurangan kalsium (ini jelas bertentangan dengan kepercayaan yang ditanamkan oleh industri-industri susu, keju dan suplemen kalsium).

SEBERAPA BANYAK UNTUK CUKUP?

Ukuran RDA (The U.S. Recommend Dietaray Allowance) untuk protein adalah 0.8 gram untuk setiap kilogram dari berat tubuh ideal (langsing)*. Ini berarti 44 gram per hari untuk rata-rata wanita dewasa (dengan berat 120 pon) dan sekitar 56 gram untuk pria dewasa (154 pon). Ukuran RDA didasarkan pada penelitian sebenarnya atas kebutuhan manusia akan protein adalah sekitar 0.3 gram per kilogram dari berat tubuh langsing (sekitar 15 hingga 20 gram setiap harinya), lalu ditambahkan sejumlah batas “keamanan” yang besar sebagai penyesuaian berdasarkan perbedaan pada setiap orang.

Kenyataan bahwa rata-rata penduduk Amerika memakan lebih dari 100 gram protein tiap harinya, ini berarti hampir tidak ada kasus kekurangan protein (kecuali pada para pecandu alkohol yang miskin).

* (Catatan metrik: gram merupakan satuan ukuran berat. Satuan ons rata-rata terdiri dari 30 gram. Satu kilogram (1000 gram) sama dengan sekitar 2.2 pon.)

TENTANG BERAT TUBUH LANGSING: Ini mengartikan tentang berat jaringan tubuh bebas lemak. Karena lemak merupakan metabolisme non-aktif, maka tidak banyak yang dibutuhkan untuk mengurus dirinya. Dua orang dengan berat tubuh masing-masing 200 pon dan 150 pon mungkin akan memiliki kebutuhan yang sama akan protein (dan juga nutrisi-nutrisi lainnya) jika protein yang awal membawa lebih dari 50 pon lemak. Berat Tubuh Ideal tidak sepenuhnya sama dengan Berat Tubuh Langsing (karena terdapat jumlah tertentu dari lemak yang sangat diperlukan, maka kemudian dimasukkan ke dalam ukuran “Ideal”), namun dua istilah ini sering diartikan pada kebutuhan nutrisi yang saling bertukaran. Munculnya kejadian demikian karena terdapat prinsip untuk mengurangi kelebihan jaringan lemak pada saat menghitung kebutuhan tubuh.

PROTEIN TAMBAHAN UNTUK PARA BINARAGAWAN

Dalam keadaan yang paling ekstrim bagi para binaragawan untuk memperoleh pembentukkan otot, seseorang hanya perlu meningkatkan konsumsi proteinnya sebanyak 10%. Jadi kebutuhan akan sekitar 20 gram protein tiap harinya akan ditingkatkan dengan 2 gram menjadi total 22 gram. Ini BUKAN merupakan suatu peningkatan yang besar.

POLA MAKAN RENDAH PROTEIN

Pada saat pasien gagal ginjal dirawat di rumah sakit, mereka sering menjalani terapi pola makan rendah protein guna memberi istirahat pada ginjal, karena sebelumnya telah dinyatakan bahwa ginjal harus bekerja lembur untuk membebaskan aliran darah dari kelebihan asam amino. Pola makan tersebut ditentukan oleh 20 hingga 40 gram protein tiap harinya. Seperti yang Anda ketahui sekarang, ini akan lebih baik disebut dengan pola makan “Protein Tepat”, karena tidak ada pasien yang kekurangan protein pada tahap tersebut. Pola makan demikian merupakan pola makan vegetarian (bahkan pada kenyataannya, vegan, kecuali jika diijinkan memakan mentega), karena semua protein hewani memiliki kandungan protein yang terlalu tinggi untuk terapi tersebut. Ini adalah satu-satunya saat di mana pola makan vegetarian ditentukan, namun tidak disebut sebagai vegetarian. Juga merupakan hal yang menarik bahwa tidak ada ketentuan batas waktu untuk membatasi kurun waktu pasien berada dalam pola makan demikian, karena dengan cara ini seluruh kebutuhan nutrisi akan terlengkapi.

PROTEIN-PROTEIN TAK TERCERNA

Kadang-kadang molekul protein tidak mengalami penguraian. Kebanyakan dari protein yang tidak tercerna ini melewati usus besar, di mana mereka dibuang dalam tinja (feces). Jika dibiarkan berada dalam usus besar terlalu lama, seperti yang terjadi dengan makanan hewani tanpa bantuan serat untuk mendorong mereka keluar secara cepat, ini akan mengakibatkan pembusukan dan menjadi penyebab kanker.

Pada bayi, dan mungkin pada beberapa orang dewasa, protein-protein yang tidak tercerna bisa masuk ke dalam aliran darah. Untungnya bagi bayi-bayi yang masih menyusu pada ibunya, ASI memiliki kandungan protein yang besar, disebut immunoglobulin, yang berfungsi memberi kekebalan terhadap penyakit. Namun bagaimanapun, protein asing (dari makanan selain ASI), yang memasuki aliran darah secara utuh, memiliki kemungkinan besar menyebabkan reaksi alergi. Ini alasannya mengapa orang tua disarankan untuk tidak memberi selain daripada ASI atau bisa juga susu steril yang mudah dicerna bagi bayi-bayi mereka di bulan-bulan pertama. Jika makan terlalu awal, akan lebih mudah menimbulkan alergi, karena celah-celah dalam usus, yang memungkinkan molekul-molekul besar dari protein untuk memasuki aliran darah, mulai menutup. Kenyataan bahwa anak-anak yang lebih besar dan orang-orang dewasa juga menderita alergi makanan menunjukkan bahwa celah-celah ini tidak sepenuhnya tertutup, atau setidaknya kadang-kadang bisa terbuka lagi.

Adalah penting untuk mengerti perbedaan antara intoleransi makanan dan alergi makanan. Intoleransi, contohnya intoleransi terhadap laktosa, menunjukkan bahwa ada unsur-unsur tertentu dalam makanan yang tidak dapat diuraikan secara wajar, dan tidak semestinya berakhir di dalam sistem pencernaan yang lebih rendah. Ini mengakibatkan kesulitan pencernaan dengan gejala seperti kram perut, diare, dan/atau pembentukan gas.

Alergi sebenarnya (banyak orang salah mengartikan intoleransi sebagai “alergi”) muncul saat molekul-molekul protein yang utuh memasuki aliran darah dan memicu reaksi dari sistem kekebalan. Ini akan menghasilkan satu atau beberapa gejala berbeda yang biasanya berupa kemerahan pada kulit, sakit kepala, iritasi, hidung tersumbat, kadang-kadang juga terdapat gangguan pencernaan.

KETERANGAN DARI SUDUT VEGETARIAN

Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya reaksi alergi pada bayi-bayi terhadap protein dari susu sapi alami, susu hendaknya dipanaskan hingga mencapai titik denaturasi protein (pengubahan sifat protein). Ini akan membuat susu lebih mudah dicerna, dan berkemungkinan lebih kecil terserap ke dalam aliran darah. Kenyataan bahwa banyak bayi yang masih belum bisa meminum formula susu sapi, baik yang sudah dipanaskan atau belum, menunjukkan betapa asingnya unsur-unsur demikian bagi sistem pencernaan manusia. Kini banyak dokter anak yang menganjurkan untuk memulai dengan formula susu kedelai dulu.

DAMPAK HEMAT PROTEIN TERHADAP KARBOHIDRAT

Ditinjau dari strukturnya, protein penting bagi semua jaringan tubuh dan juga berperan untuk menyeimbangkan cairan dan asam. Penekanan secara berlebihan terhadap protein dalam pola makan mungkin disebabkan oleh demikian banyaknya fungsi penting mereka dalam menopang proses kehidupan. Namun ada satu fungsi yang sering diabaikan: persediaan kalori oleh protein sebagai sumber energi. Ini bukan suatu fungsi protein yang baik, namun tetap dianggap penting pada saat kalori tidak dapat disediakan secara cukup oleh karbohidrat. Tubuh dapat membakar lemak untuk proses-proses tertentu, tapi selebihnya diperlukan bantuan karbohidrat atau protein. Dalam keadaan kekurangan kalori (kelaparan, diet, atau puasa), tubuh mencari cara untuk menggunakan kemampuan dari asam amino apa saja yang tersedia dan mengutamakan penggunaan energi (kalori). Maka pola makan dengan protein yang cukup tapi terlalu sedikit kalori akan dianggap kekurangan protein, karena protein tidak dapat bekerja secara maksimal (misalnya untuk pemeliharaan otot). Pada saat keadaan yang sangat parah, akan lebih banyak protein dari tubuh (yang biasanya teruraikan secara rutin tapi tidak dapat digantikan) yang diuraikan untuk digunakan sebagai energi. Tanpa bahan bakar, tubuh tidak dapat berbuat banyak, jadi sebaliknya protein yang akan berperan sebagai bahan bakar. Keadaan demikian bisa dihindari bila terdapat karbohidrat (misalnya pada gula atau tepung). Lemak, walaupun kaya akan kalori, tidak mampu membagi protein secara baik, karena ada sel-sel tertentu, terutama sel otak dan saraf, yang memerlukan karbohidrat atau protein (ada beberapa protein yang bisa diubah menjadi karbohidrat).

PENGOLAHAN MAKANAN

Pengolahan makanan sebenarnya tidak berdampak banyak terhadap kandungan protein. Panas dapat mengubah sifat protein, tapi hanya sampai pada susunan sekundernya (bentuk rantai asam amino), dan tidak berpengaruh pada asam aminonya sendiri ataupun lanjutannya. Ini menyebabkan protein tidak terlalu berdampak alergis. Panas, dan juga pemotongan yang benar (penggilingan, pengadukkan) mampu menghaluskan atau menguraikan serat dalam makanan dan memperlancar pencernaan protein.

SEBERAPA BANYAK HINGGA MENJADI KELEBIHAN?

Setidaknya ada satu penelitian [Nutrition Reviews, 39 (1981): hal.11-13] yang menunjukkan bahwa seorang laki-laki muda sehat yang hanya memakan sebanyak 75 gram protein setiap harinya, jumlah ini sudah bisa berdampak buruk terhadap keseimbangan kalsium (walaupun kalsium dimakan dalam jumlah yang jauh melebihi anjuran dari RDA). Dan 75 gram protein adalah kurang lebih sama seperti yang dianjurkan oleh RDA juga.

Kejadian hypertrophy pada hati dan ginjal muncul pada saat pola makan memiliki kelebihan sebanyak 15% kalori dari protein. Biasanya pada pola makan 2,000 kkalori, ini mewakili 300 kkalori, yang diterjemahkan menjadi 75 gram protein (setiap gram dari protein mengandung sekitar 4 kkal, jadi 300 kkal protein = 300/4 = 75 gram).

Nampaknya 75 gram protein tiap harinya merupakan jumlah yang sedikit kelebihan bagi seorang laki-laki muda yang aktif. Orang dengan bentuk tubuh lebih kecil atau berumur lebih muda tentunya memiliki kelebihan protein yang lebih rendah dari 75 gram protein. Ukuran RDA hendaknya ditinjau sebagai target maksimal dan bukannya target rata-rata.

RANGKUMAN

Resiko kelebihan protein jauh melampaui resiko kekurangannya, terutama dalam waktu kini di mana terdapat pengurangan dalam pengkonsumsian lemak. Kebanyakan orang mengganti makanan berlemak tinggi dengan makanan protein tinggi, seharusnya yang mereka perlukan adalah makanan berkarbohidrat tinggi.7th South East Asian Vegetarian Congress 2016
(11-13 Nov 2016 at Penang, Malaysia)

3 thoughts on “Protein, Jumlah, Binaragawan

  1. Tips untuk memperbesar otot di lengan tapi vegetarian, protein untuk memperbesar otot lengan diperoleh darimana? Berapa konsumsi per hari, jenis makanannya apa?

    Suka

  2. Hidup sehat butuh protein yang seimbang dan sesuai..
    Hmmmm..
    Menarik 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s